Monday, 10 July 2017

20 Hari di Penjara Suci


1 Ramadhan,  17 Tahun silam
Hari Kedua libur sekolah.
Bertiga dengan bapak dan kakak sepupu kami bertolak menuju Muntilan, Magelang. Sehari sebelumnya saya tak bisa memejamkan mata karena membayangkan bagaimana nanti hidup di pesantren selama 20 hari. Persiapan dan perbekalan telah disiapkan, hanya beberapa lembar pakaian muslimah dan kerudung seadanya yang kubawa. Bukan karena memilih membawa sedikit baju,  tapi karena memang adanya hanya itu dan lagi di sana tentu kami bisa mencuci pakaian setiap harinya.
Kami menumpang bis jurusan Magelang, hanya berbekal informasi nama kecamatan dan kyai pengasuh pesantren. Pengetahuan bapak tentang Magelang dan sekitarnya cukup baik
,  meski begitu kami harus terus bertanya untuk menuju pesantren yang sesuai dengan tujuan kami.
Oia,  beberapa tahun sebelumnya serombongan mahasiswa dari IIQ (Institut Ilmu Alqur'an) Wonosobo (Sekarang bernama Unsiq) mengadakan PPL di desa kami.  Dalam praktik pendidikan lapangan itu,  mereka mengajarkan metode membaca Al-Qur'an Qiraaty yang bagi warga desa sangatlah 'break the rule'.  Tak semua warga mau menerima metode baru di tengah kebiasaan mereka yang (sebenarnya) masih kurang tepat dalam membaca Alqur'an. 
Kebetulan juga salah seorang dari mereka adalah seorang Qari’ masyhur yang suaranya menggetarkan saat membaca Alqur'an.  Tajwidnya sesuai dan suara merdunya membuat siapapun tenggelam menikmati lantunan Alquran saat dibacakannya. Beliau pun mengajarkan seni membaca Alquran itu kepada anak-anak SD seusiaku,  juga untuk remaja dan orangtua yang berkenan ikut. 
Entah bagaimana ceritanya,  bapak ingin agar saya juga mengikuti jejak Mas Fulan yang katanya dulu nyantri dan belajar seni membaca Alquran di salah satu pesantren di Muntilan Magelang. 
Saya yang masih usia SD tentu jiper dan menolak tawaran bapak.  Rasanya tak sanggup berlama-lama tinggal di tempat lain,  wong nginep beberapa hari di rumah saudara saja sudah nggak betah. 
Akhirnya, caturwulan pertama kelas 2 MTs (SMP)  yang bertepatan dengan libur panjang Ramadhan itulah saya menyanggupi untuk ikut pesantren kilat selama 20 hari di pesantren itu. 
Belum ada alat komunikasi yang mudah,  maka bapak tak perlu mencari informasi lagi dari Mas Fulan.  Cukup mengantongi nama pak Kyainya pasti bisa ketemu,  begitu kata bapak. 
Perjalanan dengan naik bis cukup lancar,  masing-masing berusaha kuat untuk melanjutkan puasa.  Masalah mulai terjadi ketika informasi yang didapat dari orang ternyata berbeda-beda.  Tersesat!  Akhirnya kata itu terjadi juga.  Entah di mana (jika tidak salah di Mertoyudan) kami turun dari bis karena kernet mengatakan pesantren yang dimaksud di daerah itu. 
Nahas,  setelah bertanya ke warga sekitar mereka tak yakin informasinya benar.  Beruntung warga yang ditanyai itu sangat baik,  mereka menawari kami untuk istirahat sementara bapak berjalan kaki menuju pesantren untuk memastikan.
Sembari menunggu bapak,  kami sempat tertidur pulas di rumah warga tersebut. Dan ternyata bapak kembali dengan tangan kosong,  bukan pesantren itu yang kami cari.  Alhamdulillah meski begitu ada titik terang mengenai rute dan bis apa yang harus kami tumpangi selanjutnya.
Setelah berganti bis dua kali,  kami sampai di pinggiran desa yang sepi dan berjalan dengan ketidakpastian. Sebuah plang pesantren kami dapati,  namun setelah masuk dan bertanya rupanya lagi-lagi kami salah.  Kami pun melanjutkan berjalan kaki kembali sambil tertatih membawa dus berisi bekal dan oleh-oleh. Rasanya sudah tak ingat jika hari itu puasa,  inginnya segera sampai di tempat tujuan.
Tak sampai 500 meter dari pesantren sebelumnya,  kami bertemu lagi dengan plang pesantren yang namanya identik dengan Al-Quran.  Hati kecilku mengatakan inilah pesantren yang tepat,  yang kami tuju.  Allahuakbar!  Rupanya benar. Maka kami pun dibawa masuk ke kantor pesantren untuk menyelesaikan administrasi.  Betapa senangnya ketika mendengar pengurus pesantren mengenal Mas Fulan dan sering berkunjung ke pondok pesantren Al-Asy'ariyyah Kalibeber,  tak jauh dari rumahku (yah,  kalau sekarang terbilang jauh sih,  sekitar 3 KM jaraknya.  Waktu kecil jarak segitu mah kecil aja untuk dilalui dengan jalan kaki).
Kami berdua dibawa ke pondok putri,  dan bapak langsung bertolak kembali ke Wonosobo. 
Bismillah,  ada air mata yang kusembunyikan hari itu. Harapan,  kecemasan,  ketakutan dan banyak hal bercampur menjadi satu. 
Mulai hati itu,  kami resmi menjadi santri kilatan (istilah untuk peserta pesantren kilat).  Rupanya cukup banyak teman kami,  berasal dari Wonosobo,  Magelang,  Temanggung,  Kebumen,  bahkan dari Semarang. Sebagian besar peserta adalah santri dari pondok pesantren lain yang ingin menimba ilmu di tempat yang berbeda.  Ada juga beberapa yang memang setiap tahun 'kilatan' di sana. 
Bagi saya yang belum pernah mencicipi bangku pesantren,  semuanya terasa asing dan berat.  Bangun sahur jatah makan telah disiapkan di piring dengan segelas teh manis hangat.  Nasib,  tempat meletakkan piring dan gelas itu di bawah kaca besar tempat semua santri putri mematut diri. Tak ayal sering sekali ada helai rambut bahkan ketombe yang mampir di gelas.  Kalau sudah begitu,  kami memilih untuk minum air putih saja. 
Oia,  di sana tidak ada kamar,  hanya ada aula besar yang pinggirnya berjajar lemari untuk menyimpan baju dan atasnya dipasang pilar agar bisa menggantung hanger.  Kami tidur beralaskan tikar di manapun, senyaman kami.  Ba'da subuh ada jadwal ngaji,  lalu agenda pribadi. Ngaji lagi menjelang dhuhur dan ba'da dhuhur, ba'da ashar sampai maghrib,  lalu ba'da shalat tarawih berjamaah.  Jadwal ini rasanya sangat berat buatku yang biasa tidur semau sendiri. Terkadang saat ngaji siang, saya pun tertidur pulas di bangku atau di karpet aula utama.  
Belum lagi tempat mandi kami yang di luar pondok dan harus antri.  Ya,  kami mandi dan mencuci pakaian di pemandian umum,  berbaur dengan warga sekitar.  Lumayan pagi-pagi harus jalan kaki untuk mandi dan menunggu antrian.  Di pesantren disediakan kamar mandi sih,  tapi khusus untuk wudlu dan buang air kecil saja. 
Apa sih yang dipelajari di sana?  Banyak...! Mulai dari belajar seni membaca Al-Quran sebagai pelajaran utama,  sampai fiqih dan belajar tajwid juga. 
Sayang,  cengkok-cengkok hijaz,  jiharka,  nahawan dan sebagainya itu sudah menguap dari kepala (namanya saja lupa,  apalagi nadanya). 
Setiap hari kami dicekoki dengan nada-nada dan praktik.  Bayangkan saja semacam belajar vokal di siang bolong saat lagi puasa. Napas ngos-ngosan,  tenggorokan kering,  suara serak, mata sepet tapi nggak bisa minum. 
Beberapa hari sebelum berakhirnya kilatan,  kami digurah agar lendir-lendir di tenggorokan keluar.  Setelahnya cukup lega sih,  tapi hanya sekali itu saya gurah.  Apalagi nggak mendalami qira'ah, makan pun sekenanya tanpa menghindari gorengan dan makanan yang membuat suara jadi makin buruk.
Kalau sekarang disuruh qira',  angkat tangan deh.  Lagu sudah lupa,  napaspun pendeknya sependek sumbu kompor yang sudah ndap-ndep.
Namun,  20 hari di penjara suci itu menjadi titik balikku dalam banyak hal.
Sepulang dari sana,  bertekad untuk terus mengenakan kerudung (yah,  walaupun masih seringnya pakai kerudung 'slampir' aja yang nggak pakai peniti,  jadi rambut masih kemana-mana) apalagi persediaan kerudung juga hanya 3 lembar di luar kerudung sekolah.
Niat banget pulang dari sana mau ngomong pakai bahasa jawa krama ke bapak sama mamak. Sebelumnya mah saya ndableg ngomong sama mereka ngoko aja. 
Terus,  tahun itu adalah kali pertama bisa mengkhatamkan Alquran selama bulan ramadhan meskipun hanya sekali.
Dan saya pun belajar banyak hal, bahwa hidup di pesantren itu tidak mudah. Di luar pesantren pun sama tak mudahnya.  Selalu ada masalah yang menghampiri, selalu ada perbedaan melingkupi,  selalu ada A-Z yang harus dipecahkan dan dilewati. 
Bagiku yang masih SMP waktu itu,  kilatan adalah liburan yang paling berkesan.  Bukan liburan dengan jalan-jalan ke tempat wisata,  namun menghabiskannya dengan mencari pengalaman baru.
Rasanya masih ingat jangkrik yang menemani tidur,  ayam yang berkokok membangunkan, juga suasana alam dan sejuknya desa itu.  Gemericik air dari sumbernya,  gebyar-gebyur suara gayung menyambut air saat antri mandi,  juga cekikikan dan gaya-gaya khas santri lainnya. 
Entah di mana sekarang mereka,  semoga Allah memudahkan urusan dan menjaga hidayahNya agar kita tetap bersama Alquran sekarang dan selamanya. Aamiin.. 
Sebuah ungkapan yang masih selalu kuingat dengan baik di pesantren itu "Hiasilah Al-Quran dengan suaramu". Yuk, semangat belajar dan membaca Al-Quran.
Hai Mba Muna Sungkar dan Mba Wuri Nugraeni,  ini kisah liburanku untuk #ArisanBlogGandjelRel semoga berkenan ya.

Salam,

12 comments:

  1. Aku pengen banget bisa baca Al quran merdu kaya muzammil hasbalah, disini belum nemu yang ngajarinnya, malah rata2 qiraati kaya iqro anak2 lebih ke tajwidnya ya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena memang basicnya itu dulu Mba.. Tajwid dulu yg paling utama. Kalau mau belajar lagu2nya bisa nyimak lewat murattal imam masjidih haram dulu sblm dapat guru 😊

      Delete
  2. Daerah Muntilan mana mb Arina? Aku tinggal di Muntilan jugak soalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ralat Mba.. Daerah Salaman ternyata. Knp aku ingatnya Muntilan ya? 😅

      Delete
  3. Wahh beneran berkesan banget nih Rin, belajar di pondok...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Dew.. Seru sangat mulai dari berbagi makanan sampai 'berbagi'kutu 😜

      Delete
  4. Pingin juga bljar di pondok ...

    ReplyDelete
  5. Barakallah mb, sdh sejak smp dapat hidayah..aku smp masih belum tersibgoh agama yg kuat, bc qur'an klw pas ujian agama sj hiks..skrg malah pengen mondok, tapi udah buntutan ki piye hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooh Cha, aku jg kadang pengen mondok..

      Delete
  6. merinding bacanya. Makasih ya dah nulis *muach

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam