Thursday, 26 January 2017

Eksotisme Tersembunyi Telaga Menjer Garung Wonosobo

Telaga Menjer
Koleksi pribadi arinamabruroh

Pagi beranjak meninggi. Udara di ufuk Wonosobo masih dingin menggantung. Tapi kami harus segera melaju di tengah gigil demi menunaikan janji: bertemu di titik kumpul pukul 6 pagi. Maka pukul 05.30 adik sepupu sudah menyiapkan sepeda motor untuk mengantarkanku sebelum berangkat sekolah.
Masih dalam dingin menusuk tulang, ia pacu sepeda motor tua bapak menuju desa Menjer. Melewati jalan menanjak berkelok setelah pasar Garung. Pipa-pipa raksasa di sepanjang jalan menandakan kami tak jauh lagi dari lokasi yang kami tuju: Telaga Menjer.

Sampai di tempat, tak seorangpun terlihat batang hidungnya, sementara dingin makin menggigit. Adik sepupu bergegas meninggalkanku untuk menuju sekolahnya. Perut mulai meminta jatahnya karena sedari tadi belum kemasukan apapun juga. Mataku mencoba menelusuri setiap sudut, berharap ada penjual makanan hangat yang sudah siap di sana. Sia-sia, hanya ada suara gemerisik daun-daun tertiup angin dan sesekali suara sepeda motor memecah keheningan.
Hm... sepi sekali..
Beruntung kutemukan warung kelontong tak jauh dari telaga. Buru-buru kuraup sebungkus roti dan biskuit sebelum perut protes kembali. Ya, biasanya sepagi itu segelas teh hangat dan dua tempe kemul telah meluncur sukses meredam cacing-cacing yang bergoyang dangdut di dalam sana.
Maka pagi itu kunikmati sarapanku dengan syahdu. Memandangi bening Telaga Menjer sembari menghabiskan secuil demi secuil roti. Permukaan telaga yang bergerak tertiup angin serupa lembaran sutra yang dikibaskan. Suara serangga dan cuitan burung melengkapi suasana pagi itu.
Tapi, bulu kuduk merinding... kala teringat betapa danau itu konon selalu penuh misteri..
***
Teman-teman bosan ke Dieng? Tak perlu galau karena Wonosobo selalu menyediakan tempat indah untuk sejenak melepas penat. Salah satunya adalah Telaga Menjer yang berada di Desa Maron Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo.
Telaga Menjer adalah telaga yang terbentuk akibat dari letusan vulkanik di kaki Gunung Pakuwaja. Berada pada ketinggian 1.300 mdpl dengan luas 70 hektar dan kedalaman air mencapai 45 meter.

Naik perahu rakit mengelilingi danau
koleksi pribadi @arinamabruroh
Dulunya air di telaga itu hanyalah dari beberapa mata air kecil di sekitar telaga dan juga mengandalkan curah hujan yang cukup tinggi didaerah ini. Pada zaman penjajahan Belanda dengan akan dibangunnya PLTA Garung di bawah telaga tersebut, maka dibendunglah sebagian sungai Serayu yang berada di sebelah utara desa Jengkol. Kemudian dialirkan melalui terowongan bawah tanah sepanjang ± 7 km dibawah perkebunan teh PT Tambi yang berada di sebagian wilayah Desa Kreo dan Tlogo. Untuk mengalirkan air dari telaga ini menuju PLTA, dibendunglah sebagian kecil dari telaga dan di bawahnya dipasang pipa dengan diameter mencapai ± 3m menuju ke PLTA yang berjarak sekitar 2 km. (sumber: wikipedia)
Menurut desas-desus yang tersebar di masyarakat, Telaga Menjer berbentuk seperti kerucut dan di dalam sana terdapat ikan sangat besar yang sesekali tampak. Konon juga terdapat kerajaan jin yang kadang ‘meminta tumbal’ dengan adanya korban-korban yang tenggelam ke dalam danau.
Jika dilogika sih memang benar jika alam yang masih perawan apalagi sumber air seperti itu menjadi ‘rumah’nya para jin. Well, kita wajib meyakini keberadaan mereka tanpa mengikuti apalagi mencampuri urusan ‘dalam negeri’ mereka.
Jika menilik dari adanya aneka alat permainan di sekitar Telaga Menjer, dulunya merupakan tempat wisata yang cukup ramai dan kemudian ditinggalkan karena kesan mistisnya. Wisata alam terkesan mistis tentu hal yang lumrah, dan jika banyak pengunjung kesan itu akan berangsur hilang dengan sendirinya.
Begitu pula Telaga Menjer saat ini. Sejak makin banyaknya orang berwisata dan menyebarkan infonya di dunia maya, semakin banyak pengunjung yang datang ke sana. Terlebih saat ini telah dibuka tempat wisata baru di sekitar Telaga Menjer yaitu Bukit Seroja. Dimana selain menikmati danau dari ketinggian juga bisa memacu adrenalin dengan outbound di atas sana. Jalan menuju Bukit Seroja pun melewati perkebunan teh milik PT Teh Tambi. Wisata yang komplit sekali bukan? Namun harus bersiap dengan roda kendaraan yang beradu dengan tanah becek dan jalan mendaki untuk sampai di puncak Bukit Seroja.

View Telaga Menjer dari ketinggian
koleksi pribadi @arinamabruroh
Saat saya datang ke Telaga Menjer tahun 2012, suasananya masih terkesan mistis dan jarang sekali pengunjung. Aktivitas di danau didominasi oleh nelayan karamba dan penyewa perahu rakit. Hanya sesekali terlihat pengunjung memasuki area. untuk masuk ke sana pun cukup dengan tiket Rp. 3.000/orang. Bahkan bagi masyarakat sekitar hanya perlu membayar uang parkir dan bebas memasuki area dari sisi selatan setelah melewati jembatan.
Maka saat awal tahun 2017 ini kami berkesempatan ke sana, betapa terkejutnya dengan banyaknya pengunjung dan padatnya area parkir. Niat awalnya ingin melihat taman yang baru dipugar lengkap dengan landmark ‘Telaga Menjer’nya namun berhubung pengunjung di sana lebih berjubel, kami memilih perkir di area selatan dan ‘napak tilas’ perjalanan beberapa tahun sebelumnya dengan menaiki bukit melalui jalan setapak.

Terlihat semangat siKecil? sebelumnya dia ngambek :D
koleksi pribadi @arinamabruroh

Tracking-nya lumayan juga lho! Melewati Jalan setapak menanjak di bibir bukit tepat di samping danau sambil melihat view danau. Tapi hati-hati jika berpapasan dengan orang karena sebelahnya tepat menjadi jurang landai yang menghubungkan ke danau.  Kami berjalan sekitar 20 menit, meski tanjakannya masih level biasa, ternyata capek juga karena harus ekstra hati-hati mengawasi si Kecil yang maunya jalan sendiri.
Hm... katakanlah kami salah jalan sebenarnya. Wkwkwkwk. Niatnya ingin ‘muncak’ ke Seroja namun saya salah membaca papan penunjuk arah (biasalah ya perempuan). Seharusnya kami masih terus jalan lalu belok kiri dari Telaga Menjer untuk menuju Bukit Seroja, kami malah ke area parkir dan si Bapak parkir mengatakan benar kami parkir di sana untuk menuju Seroja. Oia, tak lupa beliau meminta uang parkir Rp. 10.000 sembari mengatakan itu harga tiket untuk dua orang ke Seroja dan Telaga Menjer.
Rasanya ingin mendebat beliau yang semena-mena, tapi sudahlah. Toh pengunjung seramai itu tidak setiap hari. Kapan lagi ya beliau ‘panen’? hehe. Setelah melewati jalan setapak di pinggiran danau, kami terus naik agar bisa melihat view dari ketinggian. Dari jalan itu terlihat pondok-pondok kayu di Bukit Seroja. Rasanya makin gonduk (B.Jawa Kesal) sebenarnya karena tujuan kami itu. Untung diingatkan bahwa waktu sudah sore dan ada anak kecil bersama kami. Ya iyalah, masa lupa sama si #HasnaKurniaFaradisa yang sempat ngambek nggak mau jalan itu?

Menikmati pemandangan sembari duduk di bebatuan
koleksi pribadi @arinamabruroh
Setelah puas mengajak si Kecil bersenang-senang di atas, kami turun menuju dermaga perahu rakit. Terlihat pengunjung antri untuk menaiki perahu mengelilingi telaga. Jika ingin menikmati sensasi naik perahu rakit yang terbuat dari bambu itu, pengunjung cukup membayar Rp.15.000/orang. Tapi sekarang menggunakan bantuan motor lho, tidak dengan bambu atau dayung seperti jaman dulu.

Perahu rakit yang disewakan di Telaga Menjer
Koleksi pribadi @arinamabruroh

Sampah berserakan di Telaga Menjer

Banyak pengunjung antri naik perahu
Koleksi Pribadi @arinamabruroh
Sayangnya sampah berserakan
koleksi pribadi @arinamabruroh
Sayangnya, di sekitar Telaga Menjer tidak tersedia tempat sampah yang memadai sehingga sampah berserakan dimana-mana. Rasanya geram juga, salah satu sisi danau menjadi kurang sedap dipandang karena banyaknya sampah yang terapung di sana, di sela-sela eceng gondok. Kemasan mie instan hingga plastik-plastik jajanan terkumpul di sana.
Sepertinya hal ini harus benar-benar diedukasi ke masyarakat sejak dini. Tak hanya di tempat wisata tetapi juga di lingkungan sekitar. Membuang sampah di tempatnya, hal yang sebenarnya mudah tapi sering diremehkan. Padahal jika diabaikan akan berdampak buruk untuk manusia juga.

Baca : Stop! Mengotori Tempat Wisata
Kini Telaga Menjer telah bersolek. Aura mistisnya mulai pudar. Namun kenangan-kenangan tentang berita pemancing yang tenggelam masih melekat dalam ingatan. Biarlah menjadi pengingat untuk kami bahwa dimanapun dan kapanpun ada Allah yang selalu mengawasi. Dan segala bentuk yang ghaib itu juga merupakan kuasaNya, ciptaanNya.
Traveling, menjelajah alam, bukankah salah satu cara kita untuk mengingatNya?
Semoga bermanfaat,
Salam,

40 comments:

  1. Belum pernah ke wonosobo. Tempatnya cantik juga ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cantik banget Mba.. yuk Mba diagendakan ke Wonosobo :)

      Delete
  2. Duh, sampahnya. :( Andai semua sadar lingkungan, tempatnya pasti bisa jauh lebih bagus lagi.

    ReplyDelete
  3. Danaunya terlihat tenang sekali mba :)
    Pas nih kalau main ke WOnosobo :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk Mba, ke Wonosobo
      *berasa putri pariwisata Wonosobo :P

      Delete
  4. Noted buat alternatif kl main k wonosobo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk Mba... asyik lho. apalagi kalau naik perahunya :)

      Delete
  5. Sy malah fokus ke dik hasna mba. Gaksa bayangin kl ksana sama anak lanangku yg gbisa diam. Emaknya tar sport jantung bbeneran. Etapi mlh bs jd artikel baru mba tentang tips mengajak sibkecil menjelajah alam ya. Hihihiii... makashi sharingnya y mba. Foto2nya bagus bgt :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba... anakku sukanya juga lari2an jadinya cocok lah wisata alam :)

      Delete
  6. Aaaaarrkkkk kangen wonosobo n dieng. Pengen kesana lagi

    ReplyDelete
  7. Wah kelewat nih telaga menjer pas ke dieng wonosobo taun lalu 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diulang lagi Mba Vit, masih banyak tempat menarik selain Dieng :)

      Delete
  8. Wahh bisa nih kapan2 kalau kewonosobo mesti mampir. Hihi

    ReplyDelete
  9. Merinding Mbak aku bacanya soal tumbal. Mau nggak percaya ya emang kenyataannya ada ya. Hihihi. Ngeri ih

    Ke Dieng aja belum pernah eh ini ada yang cuantik pula. Kayak di film2. Film Heart apa syuting di sini? Kok kereeen banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heart syutingnya di Jabar Mba.. tapi mirip yak :D

      Delete
  10. Cakep tempatnya mba Ari .. pingin kalo balik Indo kesana 🤗

    ReplyDelete
  11. Kyknya dulu pas jaman kuliah sempat liputan telaga Menjer, tp sygnya ga sempet menikmati telaganya. Bar wawancara langsung capcus, soalnya msh hrs ke telaga warna dan sekitar. Tp btw eniwe, penyakit wisatawan indo ki nggowoni sampah bikin ironis. Kapan gitu wisatawannya bener2 jadi wisata pecinta alam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Alley, peringatan buat buang sampah di mana-mana tapi cuma sekadar plang aja

      Delete
  12. Apa sih susahnya ya menaruh tempat sampah. Padahal tempatnya sudah bagus banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entahlah Mba... aku sudah komen2 di medsos yang (katanya) pengelolanya, semoga ditindaklanjuti biar bersih

      Delete
  13. wow telaganya keren , aku suka telaga apalagi dalam kesunyian dan mendengar suara alam , hadeuh

    ReplyDelete
  14. Pengen banget bisa ke Wonosobo.

    Btw, kayaknya sudah dikelola ya lokasi wisata ini, jadi ramai pengunjung. Suka sama perahu rakitnya. Kayaknya bakal romantis kalau berada disitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Romantis banget Mba, etapi naiknya ramai-ramai, kecuali sewa buat berdua aja ;P

      Delete
  15. Saya terakhir ke Menjer akhir tahun 2014. Rame2 sama sodara terus naik rakit muter telaga. Seruu. Kalau dikelola dengan serius saya yakin menjer bisa jadi "jualannya" dispar wonosobo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Mba, sekarang sudah mulai menggeliat ko pengelolaan wisata di Wonosobo :)

      Delete
  16. wah wonosobo ternyata ramai juga ya mba :D jadi pengen kesana :D

    ReplyDelete
  17. Belum pernah ke wonosobo dan sekitarnya dakuh. Bagus yah

    ReplyDelete
  18. Arah timur baru sampe Malang Mak, belum menjelajah lebih jauh. Bisa jadi target eksplorasi nih....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini di JawaTengah ko Mba.. :) semoga kapan2 bisa sampai ke Dieng dan sekitarnya ya :)

      Delete
  19. Wonosobo banyak tempat wisatanya ya mbak. Salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak banget Mba, sekarang muncul tempat2 baru juga yang dulunya hanya dinikmati warga sekitar :)

      Delete
  20. Pernah kesana pas ikut suami ambil sample air buat diteliti...asik banget suasannya.. banyak yang mancing waktu itu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Dan, banyak yang mancing, kek di Waduk Wadaslintang :)

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam