Tuesday, 4 October 2016

Rahasia Hidup Abadi


Rahasia Hidup Abadi_Memiliki kehidupan yang bahagia sepanjang masa adalah impian setiap orang. Namun, hukum alam memberi kita jatah hidup di dunia yang tak bisa diprediksi, tak bisa kita minta sebagaimana keinginan kita. Ada kalanya seorang bayi hanya mendapat kesempatan yang sangat singkat sesaat setelah menghirup udara dunia, ada juga yang mendapat rejeki umur panjang hingga seratus tahun, melebihi umumnya harapan hidup manusia saat ini.
Ingin hidup 1000 tahun lamanya? Jika itu dikaitkan dengan usia biologis, sudah pasti jawabannya imposible. Namun jika umur panjang itu adalah usia maka jawabannya adalah I’M POSSIBLE. Manusia bisa hidup abadi, bukan dengan ilmu sihir atau balsam seperti mumi, tapi dengan ia mengikat ilmu yang dimilikinya lewat TULISAN.

Ya, manusia yang bisa hidup abadi adalah seorang PENULIS.
Ratusan kisah para ulama terdahulu kita dengar adalah tentang bagaimana perjuangan mereka untuk menuntut ilmu lalu menuliskannya menjadi kitab-kitab seperti yang sekarang kita pelajari. Ulama yang hidup ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu pun masih kita dengar gaung namanya sampai saat ini dan masa-masa yang akan datang.
Alqur’an yang hingga sekarang tak pernah sehurufpun berubah, sampai kepada kita juga melalui sebuah tulisan (kitab) dan hafalan para huffadz-nya.
Hari Ahad tanggal 2 Oktober kemarin lusa, saya berkesempatan mengikuti training menulis yang diadakan oleh Kharisma (Rohis FIB Undip) yang bekerjasama dengan FLP Semarang dan Gajah Mada Press. Hadir sebagai trainer adalah Ali Margosim Chaniago, yang dikenal dengan Baba Ali. Beliau adalah seorang penulis, blogger, trainer dan pakar ketahanan keluarga. Sepak terjang beliau dalam dunia kepenulisan telah bertahun-tahun diuji hingga sampai sekarang berhasil menelurkan beberapa buku.

Foto bersama peserta yang masih unyu-unyu semua
*peserta laki-laki dicrop* haha
dok. pribadi 

Senang sekali bisa datang bersama teman blogger, Mba Yuli Arinta dan Relita. Berada di tengah-tengah mahasiswa dan bahkan ada pelajar SMP membuat kami serasa remaja lagi *halah*
Alhamdulillah, meskipun trainingnya diadakan di aula masjid namun kami tetap bisa leluasa mendengarkan materi dan tanya jawab dengan trainer.
Baba Ali mengawali dengan memberikan suntikan semangat berupa kisah-kisah ulama terdahulu yang haus akan ilmu dan tiada hari tanpa menulis.
“Sejarah islam tidaklah tertulis kecuali dengan dua warna tinta. Tinta warna hitam yang ditorehkan oleh tinta para ulama dan tinta warna merah yang ditorehkan oleh darah para syuhada” (Syaikh Abdullah Azzam (rahimahullah)).
“Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak mampu menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah, menulis adalah belajar untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer)
Bagaimana agar menjadi ‘manusia abadi?’ berikut resep rahasia yang disampaikan oleh Baba Ali yang beliau sebut dengan SECRET of WRITER
Pertama, 4M
Ingin menjadi penulis produktif? Maka syarat utamanya adalah 4M ini. Apa saja 4M itu?
Membaca- membaca- membaca- menulis! That’s the keywords.
Siap menjadi penulis produktif yang ‘hidup’ sepanjang masa? Mulailah dengan 4M
Kedua, Penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik. Usahakan untuk membaca dengan lengkap, tidak hanya skimming hal-hal penting saja karena dengan cara ini akan memperkaya perbendaharaan kata. Tentu tak ada salahnya sesekali membaca dengan fast reading,  sesuaikan saja dengan kemampuan dan waktu kita ya, Temans. Jika sesekali butuh membaca banyak tetapi waktunya terbatas, bolehlah mengambil poin-poin pentingnya saja.
Ketiga, ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Bagaimana caranya? Jika tidak ada ide kita bisa membaca beberapa buku, amati baik-baik hal apa yang paling menarik dari masing-masing buku, lalu sarikan, dan kita modifikasi dengan gaya bahasa kita sendiri. Voila! Jadilah sebuah buku.
Mudah ya? Iya, sepertinya (hehe), tapi praktiknya membutuhkan jam terbang yang tinggi. Untuk yang sudah biasa menulis bisa jadi hanya membutuhkan sedikit effort, tapi bagi penulis pemula macam saya bisa menjadi pertaruhan besar. Well, setiap yang memulai pasti akan menemukan hambatan sendiri, dan mereka yang telah berada di punak sana pasti pernah melewati jalanan terjal menajak, berliku dan penuh rintangan. Bedanya, mereka tidak menyerah. Will you?
Perlu diingat juga, untuk rumus ATM ini jangan sampai kita hanya copy-paste karya orang. Plagiat itu seperti maling yang mencuri karya orang dan diakuisisi menjadi karya sendiri. Oleh sebab itu, saat belajar menulis dari karya-karya penulis lain, harus berhati-hati agar tidak terjebak dan malah menjiplaknya.
Keempat, Niatkan untuk ibadah. Bagaimana jika saya berniat menulis sebagai sumber pendapatan? Why not?! Sah-sah saja menjadikan menulis menjadi pekerjaan yang menghasilkan. Banyak sekali peluangnya mulai dari menulis artikel, puisi, blog, copywriter, sampai menjadi ghostwriter pun bisa. Tapi, alangkah lebih baiknya jika setiap pekerjaan (termasuk menulis) kita niatkan sebagai ibadah, agar berkah. Jikapun apa yang kita lakukan masih menghasilkan rejeki yang belum sesuai dengan keinginan kita, maka kemanfaatan dan keberkahannya lebih utama.
Selanjutnya, menjadi seorang penulis itu harus sabar. Seperti sebuah proses yang panjang, melewati perjalanan untuk mencpai tujuan kita harus melalui setiap halte dan stasiun untuk sampai di pemberhentian. Tak bisa secara ujug-ujug (Bahasa Jawa, tiba-tiba) kita sampai di tempat yang kita inginkan, yeah! Kecuali kita bisa meminjam pintu kemana saja-ya Doraemon. *LOL*
Pernah dengar seorang penulis yang mengirimkan hampir seratus karyanya hingga akhirnya dimuat di majalah yang dituju? Jika dia berhenti menulis dan mengirimkan karya, bagaimana mungkin karyanya akan dimuat di majalah kesayangannya?
Kisah-kisah heroik para penulis yang tak patah arang meski berkali-kali ditolak penerbit
Masih belum lengkap, Temans.. menulis juga kudu kontinyu. Misalnya sehari satu pararaf, sehari satu halaman, atau sehari satu artikel semuanya disesuaikan dengan diri kita. Kita yang memahami seberapa kapasitas kita.
Jika telah bisa konsisten menulis setiap hari, lama kelamaan kita akan menemukan gaya dan track sendiri yang khas.
Terakhir, mengurangi maksiat. Hm.. apa pasal? Karena maksiat akan membuat pikiran jernih kita tertutup kabut. Dengan mengurangi maksiat, ilmu akan semakin mudah masuk ke dalam otak kita dan akan lebih lancar saat menyimpulkan dan menuliskan kembali ilmu yang kita dapatkan.
Allahua’lam bishshawab, semoga kita bisa meniru teladan para ulama terdahulu dan menjadikan menulis sebagai aktivitas harian kita. Menulis sebagai sarana ibadah, mengajak untuk kebaikan, menyebarkan hal yang bermanfaat, dll.
Semoga bermanfaat, Temans.

12 comments:

  1. Aku setuju. :D Satu-satunya yang bisa dinikmati setelah kita tiada adalah karya kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba Nisa..

      Kepengen seperti Mba Nisa yang karyanya banyak banget 😊

      Delete
  2. Semoga bisa istiqomah menulis yaa mba, dan menghasilkan karya besar Aamiin

    ReplyDelete
  3. Semoga bisa istiqomah menulis yaa mba, dan menghasilkan karya besar Aamiin

    ReplyDelete
  4. Saya jadi gak perlu nyatat hasil seminar kemarin.😆😇 Makasih mba. .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi. Sama-sama, smg bermanfaat ya 😊😊

      Delete
  5. Saya jadi gak perlu nyatat hasil seminar kemarin.😆😇 Makasih mba. .

    ReplyDelete
  6. Karena menulis bikin hidup jadi "abadi", semoga kita bisa menuliskan yang baik-baik dan bermanfaat saja ya. :)

    ReplyDelete
  7. Nice tips mbak... karena menulislah kita ada :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Mba Ririt.
      Smg istiqomah nulis ya 😊

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam