Thursday, 20 October 2016

Fragmen Buram Kehidupan si Gadis Kampung



Ada banyak fragmen hidup yang diinginkan untuk selalu dikenang. Namun ada pula kisi-kisi gelap yang sedianya tak ingin kita kenang tapi melekat begitu saja ibarat daki dari asap tungku kayu bakar yang menghitam saat menempel di permukaan benda-benda.
Seperti halnya seorang gadis kecil yang tinggal di negeri di atas awan. Ia tak pernah bisa memilih terlahir dari rahim ibunya, tapi takdir Tuhan jua lah yang telah menurunkannya di sana, dan memberinya hidup bersama keluarga kecil itu.
Gadis kecil yang tumbuh dengan mengakrabi sungai dan sawah yang terbentang di pinggiran desa. Apalagi yang membuatnya bahagia selain kicauan burung dan udara sejuk pagi hari serta teman sepermainan yang membuatnya bisa tertawa lepas.

Tapi, kerikil-kerikil tajam kehidupan sering jua menghampirinya. Kerikil yang berserakan dan menghimpit langkahnya untuk maju. Kerikil yang justru berada dalam lingkaran keluarganya sendiri.
Mendung pun menggayuti masa kecilnya. Lalu berubah menjadi suram. Sesuram tangis-tangis sang ibu yang kerap ia dengar. Jiwa kecilnya yang belum memahami bahwa kesulitan yang dihadapi adalah untuk menguatkan dirinya, membuatnya menjadi gadis pemarah yang sering bersungut-sungut saat menghadapi sesuatu. Kehidupan juga lah yang membuatnya menjadi gadis pendiam si kutu buku yang cukup berprestasi.
Setelah lulus masa sekolah hampir tak ada bayangan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mimpi-mimpi tentangnya kerap membayangi, namun hanya jalan gelap yang ia temukan.
Tapi Tuhan ternyata sangat menyayanginya. Tak dinyana, ia mendapat beasiswa untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Jika ia berhasil lolos dalam seleksi, maka akan mendapat beasiswa selama dua semester berikut uang saku bulanan yang akan dibayarkan tiap 6 bulan sekali.
Ia pun mencoba peruntungan. Bersama sang Bapak ia menyusuri jalanan kota Semarang berbekal surat undangan untuk mendaftar seleksi. Halang rintang yang dihadapi selama perjalanan ia anggap sebagai tapak langkah yang pasti dihadapi oleh setiap orang. Ia sadar, bahwa jalan setiap orang berbeda, meski mereka mempunyai tujuan yang sama.

Perempuan Senyum Rembulan
ilustrasi

Episode Perempuan Berjilbab dengan Senyum Rembulan
Saat mendapat pengumuman bahwa ia lolos di universitas negeri terpandang di Jawa Tengah, si Gadis seperti linglung. Rasa senang membuncah sekaligus sedih dan kalut muncul dari dasar hatinya.
Bagaimana caranya bapak harus membayar uang registrasi yang tak sedikit itu?
Si Bapak tak kalah bingung, tapi ia hanya berucap kalimat yang menguatkannya.
“Bismillah, sudah terlanjur basah mandi sekali. Sebelumnya kita sudah disibukkan dengan seleksi dan sebagainya. Sayang kalau tidak diambil karena sudah ‘mengalahkan’ ratusan kepala yang lain. Kalau memang rejeki pasti ada jalan.”
Kalimat yang membuat gadis itu menangis, senang dan terharu bahwa meski orang-orang di luar -sana mencemooh dan tak rela ia berpendidikan tinggi, tapi ada orang-orang terkasih yang melindungi dan mendukungnya.
Maka di hari yang telah dijadwalkan untuk registrasi, mereka pergi ke kampus. Mereka menempuh perjalanan 4 jam dengan bis ekonomi dengan hanya membawa setengah dari uang yang seharusnya dibayarkan.
“Entah nanti bagaimana, kita hanya mengharapkan keajaiban.”
Kalimat sang Bapak lagi-lagi membuatnya ingin berhenti daripada menyusahkan kedua orangtua, tapi beliau justru menyemangatinya dan memintanya untuk berdo’a sepanjang perjalanan.
“Assalamu’alaikum... mau registrasi ulang ya Dek? Ada yang bisa dibantu?”
Di tengah teriknya matahari siang bolong di kota Semarang, seorang perempuan berjilbab mendekatinya. Si Gadis dan sang Bapak tengah duduk mencangkung kebingungan di selasar kampus, mencari kesejukan sambil beristirahat sejenak setelah perjalanan.
Maka terlibatlah percakapan diantara mereka, dengan perempuan berjilbab bertanya dan si Gadis menjawab seperlunya. Malu dengan bahasa Indonesianya yang medok sekaligus tidak percaya diri di hadapan orang baru.
“Kalau Adik mau mengajukan keringanan biaya bisa ko, nanti dibantu sama tim advokasi mahasiwa,” begitu katanya dengan senyum rembulan tersungging di bibirnya.
“Oia? Syaratnya bagaimana Mba?”
“Bla..bla..bla...”
Ia pun harus mendaftar, interview dengan tim advokasi, dan menunggu dipanggil untuk bertemu dengan pembantu rektor.
Detik demi detik berlalu, hingga jam pun berputar menunjukkan waktu tutupnya loket registrasi. Maka advokasi pun harus dihentikan, dilanjutkan esok hari di tempat yang sama.
Beruntung, mereka bisa menginap di tempat saudara jauh yang tinggal di Semarang.
Esoknya saat mereka kembali lagi ke kampus, si senyum rembulan menyambutnya dengan ramah dan menemaninya hingga namanya dipanggil masuk ke ruang rektorat.
Dengan negosiasi selama beberapa menit, Pembantu rektor itu pun menandatangai surat yang menyatakan bahwa biaya sekian juta rupiah bisa dibayarkan di tahun berikutnya. Fyuuh... cukup melegakan meski biaya tersebut tak benar-benar digratiskan, hanya ditangguhkan. Namun menjadi rezeki tersendiri yang bisa jadi jalan dari Allah, jalan dari tempat yang tak disangka.
Si Senyum rembulan dan uluran tangannya telah menorehkan tekad dalam hati si Gadis, bahwa suatu saat ia pun harus seperti beliau yang membantu banyak orang tanpa pamrih. Mengulurkan tangan untuk mereka yang membutuhkan, meski sejatinya tak mengemis bantuan.

Jalan masih panjang, perjuangan belum berakhir
ilustrasi

Perjuangan belum Berakhir
Setahun berlalu biaya kuliah terbayarkan dengan gali lubang tutup lubang karena beasiswa datangnya tak menentu. Bagaimana nanti setelah beasiswa itu berakhir? Maka jalan satu-satunya adalah mencari beasiswa lagi.
Berbekal surat-surat dan IPK yang mencukupi persyaratan, ia pun menjajal untuk melamar beasiswa PPA. Namun yang diterima adalah hal yang menohok ulu hatinya.
“Mahasiswa penerima BMU tidak boleh mengajukan beasiswa lagi!” kata si Ibu dengan wajah kurang bersahabat.
“Maaf Bu, tapi BMU itu hanya dua semester... dan sekarang sudah memasuki semester 3.”
“Siapa bilang?! Sejak dulu BMU itu ya selama 4 tahun!”
“Di surat yang dulu dari dikti hanya menyebutkan dua semester, Bu,” Si Gadis tak ingin berhenti berjuang.
“Yadusah. Tanya ke rektorat saja kalau begitu!”
Sampai di rektorat yang harus ditempuhnya 1 jam dengan bis dan angkot menuju kampus 2, ia hanya mendapati penjelasan yang sama dengan yang dipahaminya selama ini.
“Pak, bisakah saya meminta surat keterangan yang menyebutkan jika saya menerima BMU hanya selama 2 semester dan boleh mengajukan beasiswa lagi?”
“Maaf Mba, saya rasatidak perlu. Sudah cukup jelas, silakan jika mau mengajukan beasiswa lagi. Jangan lupa lengkapi persyaratannya.”
Ia pun meninggalkan pintu bagian kemahasiswaan dengan perasaan tak menentu.
Yasudahlah, kalau rejeki tak akan kemana, yang penting sudah berusaha. Kalimat bapaknya tiba-tiba terngiang dan mampu membuatnya kembali tersenyum.
Setelah negosiasi dengan pegawai bagian beasiswa di TU fakultas, ia pun mendapatkan izin untuk mengajukan beasiswa.
Fyuuh... IPK tiga koma paling tidak aku tak perlu bertebal muka meminta Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) ke kelurahan, meskipun jika dihitung-hitung bapak termasuk keluarga level bawah.
“Mbak, SKTM-nya mana?”
“Beasiswa PPA juga harus menyertakan itu ya Bu?”
“Ya harus dong Mba! Sudah berapa kali saya bilang bla..bla..bla..”
Maka demi memperjuangkan beasiswa itu, ia pulang kampung dengan uang saku terakhirnya. Meminta surat keterangan tidak mampu dari kelurahan dan stempel kecamatan. Bertebal muka dengan petugas di kelurahan dan menelan pahit-pahit wajah ketus petugas kecamatan. Ternyata hal itu harus diterimanya bahkan dilakoni untuk tahun-tahun berikutnya saat perpanjangan beasiswa.
Tak ada waktu untuk melepas rindu kepada keluarga karena harus segera mengurus kelengkapan persyaratan. Maka keesokan harinya ia berangkat pagi-pagi dengan bis ekonomi agar hemat ongkos. Ia merelakan diri bergumul dengan pengapnya hawa dan hiruk-pikuk penumpang serta pengamen dan penjaja asongan yang hilir-mudik naik-turun bis.
Kembali ke kampus pun tak ada sisa waktu untuk beristirahat. Ia langsung menuju kampus dengan berjalan kaki, tak tega menyewa becak yang mangkal tak jauh dari rumah kos karena itu artinya ia harus memangkas lagi uang saku yang pas-pasan.
“Assalamu’alaikum, selamat siang, Bu. Ini berkas-berkas sudah saya lengkapi semoga tidak ada yang kurang,” kata di gadis begitu menemui petugas di fakultas.
Beliau pun meneliti satu persatu berkas yang dibawanya.
“Mba, kalau mau bohong jangan berlebihan dong!”
“Bohong?! Mmm...maksudnya bagaimana, Bu?,” si Gadis terbata, tak memahami apa yang dituduhkan padanya itu.
“Ini loh! Penghasilan bapak kamu lima ratus ribu perbulan?! Yang benar saja! Uang buat bayar kos kamu berapa? Buat bayar biaya bulanan berapa?! Hitung coba. Memangnya dengan penghasilan begitu cukup untuk biaya kuliah? Hm?! Belum lagi biaya hidup keluarga di sana?!”
Seakan palu godam diayunkan ke kepalanya. Sakit. Pening. Dan ia tak mampu berkata-kata selama sekian detik, sibuk menahan air mata yang sudah mendesak meronta ingin keluar.
“Bu, kenapa saya harus bohong? Begitulah nyatanya,” jawabnya lirih.
“Bapakmu petani kan? Pasti sawahnya banyak dan penghasilannya juga tak sedikit.”
“Aamiin.. terimakasih sudah mendoakan, Bu. Tapi kondisi saat ini bapak saya hanya petani kecil dengan hasil panen tak menentu. Biaya kos saya murah karena saya tinggal di rumah kontrakan bersama teman-teman. Rumah seadanya sekamar bertiga yang penting bisa untuk bernaung dan belajar. Untuk makan, kami bergantian piket masak agar menghemat pengeluaran bulanan...”
Lengang. Si ibu seperti berpikir tapi masih setengah percaya dengan perkataan si Gadis.
“Mungkin ibu perlu melihat langsung kondisi rumah saya jika ingin membuktikan. Silakan Ibu datang ke sana jika berkenan. Saya mohon pamit jika sudah lengkap berkasnya. Assalamu’alaikum.”
Tanpa menunggu persetujuan si Ibu, ia meninggalkan ruang TU. Sesungguhnya ia tak kuat lagi menahan dorongan air mata itu. Maka ia kembali ke rumah kos dengan menangkupkan selembar tisu ke wajahnya.
Ya Rabb... sejatinya hamba tak ingin menghinakan diri, tapi juga tak mungkin jika harus terus menerus berhutang tanpa mencari beasiswa. Bisiknya selama perjalanan menuju tempat kos.
Bukannya hanya berpangku tangan, tapi gaji dari mengajar privat hanya cukup untuk membayar pulsa dan fotokopi diktat kuliah.
Terkadang miris melihat teman-temannya yang lain juga mendapat beasiswa tapi uangnya digunakan untuk membeli gadget. Artinya, ia tak butuh beasiswa huh?! Sedangkan baginya, beasiswa artinya ia bisa bernapas lega karena untuk semester berikutnya tak perlu dipusingkan dengan biaya SPP.
Sudahlah! Mengapa harus memikirkan orang lain? Bisik hatinya yang lain.
Ia terus percaya bahwa Allah lah yang Maha kaya, yang maha meng-kayakan orang atau bahkan memiskinkan. Ia percaya bahwa setiap jengkal langkah dan hidupnya telah diatur dalam kitab-Nya. Dan ia selalu yakin bahwa Tuhan akan memberinya jalan dari manapun.
Pandangan manusia hanya terbatas pada apa yang dilihatnya. Tapi pandangan-Nya tak terhingga melampaui batas masa dan jarak.
Pikiran manusia pun terbatas pada apa yang bisa disimpannya di dalam kepala. Tapi skenario-nya jauh lebih cerdas dan cantik dari segala daya upaya manusia.
Maka kenapa harus risau dengan kalkulasi dan akuntansi manusia jika kepunyaan-nya jauh lebih canggih dan up to date?
Maka si Gadis pun terus berjalan, meniti langkah menuju setitik cahaya harapan. Tekad untuk bisa seperti si Senyum Rembulan lah yang membuatnya bertahan dan terus bertahan. Membuatnya ingin berarti, ingin memberi manfaat untuk mereka yang membutuhkan. 
Bukankah ujian adalah ujung tangga untuk mencapai jenjang berikutnya?
Bukankah jika tak pernah merasakan kerasnya kehidupan ia tak akan mudah mensyukuri nikmatNya yang lain? termasuk beasiswa yang akhirnya ia dapatkan hingga menyelesaikan studi stata satu-nya. 



Note:
Untuk Mba Ira, semoga tulisan ini sesuai ya. Hanya sepenggal puzzle hidup yang keinginan untuk meulupakan makin kuat maka sekuat itu pula ingatannya melekat. Fyuuh... lega sudah bercerita banyak tentang ‘Si Gadis’. Hehe.
Barakallah atas milad Mba Ira dan Blog-nya semoga berkah dan makin bermanfaat. 
Asli saya lebih bingung untuk menulis bagian ini, Mba. Karena blog Mba Ira sekarang sudah berubah menjadi cantik dan lebih responsive dari sebelumnya. Congratulation ya Mba, atas template barunya J
Ngomong-ngomong soal tulisan di www.irawatihamid.com, saya suka karena Mba Ira sering menambahkan tips-tips saat membahas tema tertentu. Saya juga sekali dengan ulasan tentang film yang rinci sekali. Hihi (mantan penggemar film India nih Mba.. ups)
Barakallah juga belum lama ini Mba Ira meraih juara lomba kan ya?
Semoga makin semangat menulis dan berbagi.
Salam,





Tulisan ini diikutkan dalam Irawati Hamid First Giveaway “Momen yang Paling Berkesan & Tak Terlupakan” 

29 comments:

  1. Fyuuhhh.... aku suka banget gaya penulisannya ini mbak...
    Sukses sllau yaaa mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mba Rohmah, sudah lama nggak nulis fiksi jadi pengen nulis lagi,wkwk

      Delete
  2. Banyak juga yang ikut first giveaway mba Ira. Pengalaman seperti itu yang biasanya membuat seseorang menjadi semakin kuat ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba, ibarat kena virus lalu tubuh secarara alami memperkuat imunitas :)

      Delete
  3. Dulu ada beberapa teman kampus yang dapat beasiswa dan keringanan SPP. Termasuk yang mampu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang di kampus saya (katanya) malah nyisa-nyisa tuh Mba beasiswa, padahal jamanku beberapa tahun yang lalu sampai berebut jatah :)

      Delete
  4. Masya Allah, mrebes mili bacanya Mba :'). Seperti berkaca, meski aku nggak dapat restu dari orangtua untuk menlanjutkan kuliah. Karena menurut mereka meski beasiswa, toh masih ada urusan tetek bengek seperti makan, kos2an, buku2 dan lainnya *duh curcol

    Barakallah, Mba Arin. Gudlak untuk lombanya ya :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. makasih Mba Rotun.. :)

      iya Mba, untungnya dulu aku ketemu sama teman-teman yang humanis banget, yang mau tinggal di rumah yang biasa aja, yang makan asal ada nasi dan garam pun tak apa :)

      Delete
  5. Strong girl.. semangat membara. Semoga barokah ya mba..aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. makasih Mba Hap :)

      You are the real wonder woman, Mba!

      Delete
  6. Saya suka perempuan2 tangguh begini. Menginspirasi dan jd teladan buat generasi penerus..

    ReplyDelete
  7. menyentuh banget mbak....hidup memang harus penuh perjuangan ya mbak...sukses mbakk arin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... sukses juga untuk Mba Ningrum :)

      Delete
  8. ah perjuangan yang tak terperikan, semangat

    ReplyDelete
  9. I feel u Mbak. Pernah berada di masa seperti ini juga. Hanya saja aku gagal pas tes.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tangis yang dulu sekarang berbuah senyuman ya Mba :)

      Mungkin kalau gagal tes aku tidak akan mencicipi bangku kuliah Mba, atau entah skenario yang lain bagaimana

      Delete
  10. Rintangan bikin kita naik 1 level :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat! anda telah berada di level selanjutnya :)

      kek main game ya Mba Tina

      Delete
  11. Potret Indonesia banget yah, birokrasi yg susah ditembus. Intinya orang Indonesia itu kuat2 dan penuh semangat salah satunya mbak Arina ini. Jangan pernah berhenti berjuang ya mbak...pengalaman yang bisa memotivasi pembaca lain...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. makasih Mba Ety

      Saya pun tidak akan kuat tanpa dorongan dan doa dari kedua orangtua dan sahabat-sahabat seperjuangan di kampus :)

      Delete
  12. Terharu mba dg kisah perjuangannya :( penasaran sm si senyum rembulan itu siapa :) semoga kedepannya dimudahkan dalam rezeki yaa mb. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku lupa namanya Mba Senyum rembulan itu Cha..

      karena setelah kuliah nggak pernah ketemu lagi

      Delete
  13. Kesulitan memacu kita untuk berjuang. Dan berjuang membentuk kita jadi makin kuat. Selamat menularkan kebaikan si senyum rembulan dan menyemangati insan lain :)

    ReplyDelete
  14. Tokoh gadis itu mbak arinakah, tapi pasti kejadian demi kejadian bakalan menguatkan kita, sekarang tinggal mengecap manisnya aja bukan, saya juga pernah dulu isak tangis ketika membayar biaya kuliah, dan dilamar beberapa orang terus gak jadi nikah, tapi sekarang paham dengan kejadian dulu, manis-manisnya saya rasakan sekarang 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba Vita.. anggap saja si gadi itu Mawar (ups)

      bener banget jika life is never flat. karena dengan jalan yang bergelombang itu kita belajar menyeimbangkan tubuh untuk melewatinya :)

      Delete
  15. Aku slalu terpesona sama mreka yg mau berjuang dlm pendidikan

    ReplyDelete
  16. membaca kisah Mba Arina mengingatkan saya pada kisah adik bungsu saya Mba, perjuangannya untuk kuliah sangat besar. Dengan kegigihannya Alhamdulillah akhirnya ia bisa kuliah :)

    terimakasih sudah berpartisipasi di GA saya yah Mba :*

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam