Friday, 23 September 2016

[SHARE] 10 Tanda Akhlaqul Karimah yang Melekat dalam Diri Kita

Bismillahirrahmanirrahim,
Apa kabar, Temans?
Semoga senantiasa dalam lindungan Tuhan yang Maha Esa, aamiin...
Beberapa hari terpaksa membiarkan blog dikerubuti sarang laba-laba, karena pulang kampung dan sinyal kembang-kempis-timbul-tenggelam-tersengal-sengal meskipun sudah bela-belain beli paket yang memungkinkan bisa akses internet di sana.
Mungkin memang disuruh quality time sama keluarga di Wonosobo, supaya nggak main gadget setiap saat.
Alhamdulillah tadi malam sudah kembali menginjakkan kaki di Kota Atlas yang super panas dan bisa kembali lancar jalan-jalan di dunia maya.
Oia, tadi sore ada ‘lingkaran cinta’ dan saya pun menyempatkan datang karena sudah kangen bertemu teman-teman seperjuangan. Dan materi yang disampaikan oleh ustadzah pun menyentuh sangat, sehingga ingin sharing di sini. Semoga menjadi pengingat untuk diri saya sendiri dan pembaca yang budiman semuanyaJ
Ustadzah menyampaikan seputar alhlaqul karimah yang dibawa oleh rasulullah Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.
Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq (dan aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq), begitu sabda rasulullah SAW dalam sebuah hadits.
Manusia ibarat buku berjalan yang dibaca dan (sangat mungkin) ditiru oleh orang lain, sehingga yang diteladankan oleh rasulullah pun banyak hal berkaitan dengan akhlaq.
Akhlaq seseorang akan terlihat seiring dengan pemahaman terhadap al-islam dan kualitas keimanannya. It’s means, seharusnya orang yang lebih banyak memahami islam maka akhlaqnya akan semakin baik dibandingkan yang belum/pemahamannya masih sedikit.  Atau bisa juga dikatakan bahwa implikasi dari pemahaman yang baik terhadap islam dan dalamnya keimanan seseorang akan terlihat dari akhlaqnya.
Tentu, setiap orang ingin memiliki akhlaq yang baik/akhlaqul karimah, bahkan sejak usia dini pun selalu diajarkan oleh orangtua kita. Mulai dari menghormati orang yang lebih tua, menyayangi orang-orang di sekitar kita, menjaga dan menyayangi binatang, dll.
Lalu, bagaimanakah tanda-tanda bahwa akhlaqul karimah telah melekat dalam diri seseorang?
Ada 10 hal yang menjadi karekteristiknya, yaitu:
Pertama, seseorang yang akhlaqul karimah telah melekat dalam dirinya maka ia adalah orang yang jarang berselisih. Jarang berselisih bukan berarti lari dari masalah atau memilih untuk diam daripada menimbulkan konflik.  Tetapi, ia adalah orang yang lapang dan menghargai perbedaan sehingga saat ada selisih pendapat dengan orang lain maka tidak akan berlarut-larut. Pasti dalam kehidupan toh tidak mungkin tidak bermasalah sama sekali, bukan?!
Kedua, baik dalam bersikap kepada siapapun. Istri terhadap suami, dan sebaliknya. Majikan terhadap ART dan sebaliknya, kakak terhadap adik, terhadap mertua, menantu, sahabat, tetangga, dan semua orang terutama yang ia bersosialisasi secara langsung.
Ketiga, tidak mudah mencari-cari kesalahan orang lain.
Hm.. perkara ini sih memang sejak dulu sering menjadi masalah ya, seperti kata pepatah ‘gajah di pelupuk mata tidak tampak tetapi semut di seberang lautan tampak’. Iya, karena yang dilihat oleh manusia adalah orang lain yang ada di hadapannya, kecuali jika ia mau berkaca.
Keempat, senantiasa berusaha memperbaiki keburukan yang ada pada diri sendiri. Setiap orang pasti memiliki sisi baik dan buruk, seperti dua sisi mata uang. Tak bisa dipungkiri selalu ada keburukan yang melekat dalam diri seseorang. Untuk itu, hendaknya hal-hal yang tidak baik tersebut dipangkas agar tidak lagi berkembang atau bisa hilang sama sekali.
Kelima, mudah menerima udzur bagi orang yang menurut kita salah. Pernahkah kita ‘menyemprot’ orang yang menurut kita salah? Misalnya saat salah melakukan pekerjaan yang telah diinstruksikan atau kesalahan lain yang bisa saja terjadi. Bagi orang yang berakhlqul karimah maka ia tidak mudah menyalahkan melainkan berusaha untuk memahami udzur/halangan orang tersebut. Misalnya salah karena mungkin tidak jelas mendengarkan instruksi, atau kita yang kurang gamblang menjelaskan, dll.
Keenam, bersabar terhadap orang-orang yang menyakiti kita.
Sering memakai istilah ‘sabar ada batasnya?’ padahal sejatinya sabar itu tidak ada batasnya, hanya kita yang perlu untuk terus meningkatkan level kesabaran kita. Seperti dalam firman Allah: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (Q.S Ali Imran:200)
Ketujuh, selalu berintrospeksi dengan justru mencela diri sedniri yang penuh kekurangan (merasa diri selalu memiliki kekurangan). Sikap ini bukan berarti akan menimbulkan sifat rendah diri, tetapi adalah seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk.
Delapan, selalu merasa bahwa aib ada pada diri kita, bukan pada orang lain. jika sudah seperti ini, niscaya tidak akan ada menjelek-jelekkan atau membicarakan keburukan orang lain karena merasa malu dengan diri sendiri yang juga jauh dari sempurna.
Sembilan, selalu berwajah ceria.
“Senyum manismu dihadapan saudaramu adalah shadaqah” (HR. Tirmidzi)
Sepuluh, lembut dalam perkataannya. Sikap lembut merupakan salah satu ‘perhiasan’ bagi seorang muslim yang juga merupakan salah satu hal utama dalam berinteraksi dengan orang lain.
Ehm! Ehm! saya termehek-mehek dalam banyak poin nih, apalagi entahlah ‘cetakan’ wajah saya seperti ini yang sering disalah artikan sebagai jutek/nggak ramah terutama saat saya diam. Duh, semoga bisa senantiasa memperbaiki diri. Suer! Saya orangnya baik hati ko serta tidak sombong dan rajin menabung kalau ada maunya.ups.
Once more, semoga serpih hikmah sore tadi bermanfaat dan bisa menambah kualitas diri agar selalu menjadi yang lebih baik dan terus lebih baik. Aamiin...
Salam,



 **tulisan ini dibuat dari 'hasil mendengarkan' mohon maaf jika ada hal yang terlupa/salah, dan itu adalah karena saya sendiri. Kebenaran hanya milik Allah semata. 

3 comments:

  1. Semoga kita bisa menjadi manusia yg berakhlakul karimah sebagaimana Rasulullah ya, Mbak Arin. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... Yaa Rabb... Makasih Mba Ummi Nadliroh :)

      Delete
  2. Sepertinya untuk menjalankan ke 10 nya itu berat ya mbak Arin, tapi yang namanya kebaikan harus kita paksakan meskipun semua itu butuh proses dan waktu. Semoga kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, aamiin :)

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam