Thursday, 1 September 2016

Penting Nggak sih, Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah?



Bismillahirrahmanirrahim,

Ngomong-ngomong soal budi pekerti, tidak akan terlepas dari yang namanya pendidikan karakter. mungkin banyak kita dengar akhir-akhir ini pendidik (guru) yang seolah tak punya taring ketika menghadapi orang tua dan anak didiknya.
Memang seharusnya para guru pun mendidik anaknya tidak dengan kekerasan. Tetapi bagaimana jika kesabarannya tengah diuji dan dia (yang juga manusia biasa) akhirnya berlaku kasar terhadap anak didiknya yang tak bisa diingatkan?
Sedih sekali dengan beberapa kasus pelaporan murid terhadap gurunya yang menyebabkan sang guru mendapatkan perlakuan kasar dari orangtuanya. Bukankah seharusnya ketika berada di lingkungan sekolah, anak adalah tanggung jawab gurunya dan seharusnya masalah akan selesai begitu dia keluar dari gerbang sekolah. 

Berbagai kasus itu mengingatkanku pada masa dulu, yang jika saya mengadukan guru yang menurut saya tidak adil, orang tua justru memarahi saya, bukan melabrak guru ke sekolah.
Itulah pentingnya pendidikan budi pekerti di sekolah, seperti masa itu ada pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang kemudian berubah menjadi PKN (Pendidikan Kewarganegaraan).

Belajar dari Sistem Pendidikan Pesantren
Pesantren, bagi saya adalah kawah candradimuka seorang anak agar ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat menghadapi tantangan masa depan. Ya, karena saat berada di pesantren atau di boarding school, maka ia diajarkan untuk menghormati gurunya, bersikap baik terhadap teman-temannya, berbagi, juga menemukan solusi jika terjadi perselisihan antar siswa/santri.
Saya memang belum pernah menjadi santri, kecuali sekitar sebulan mencicipi hidup di pondok pesantren. Tapi, di lingkungan tempat tinggal saya bertebaran pesantren dan keluarga saya pun tak sedikit yang nyantri.
Hal utama yang sangat patut dicontoh adalah mengenai ketaatan dan ta’dzim-nya seorang santri terhadap guru atau ustadz/ah-nya. Budi pekerti seorang santri terhadap gurunya dengan menghormatinya, mendengarkan nasihatnya, juga mendengar dan taat terhadap perintahnya.
Orang yang menuntut ilmu wajib menghormati gurunya. Bagaimanapun, seorang murid dituntut untuk berlaku baik terhadap gurunya yang merupakan orangtuanya di sekolah. Selanjutnya, seorang pencari ilmu juga semestinya tidak merasa sombong dengan ilmu yang telah dimiliki, terlebih merasa sudah lebih pandai dibanding gurunya. Karena, ilmu akan masuk jika seorang pencari ilmu ikhlas dan menghormati pendidiknya.  

Saya jadi teringat dengan syair dari kitab ala laa tanalul ‘ilma yang dulu sering dibaca saat belajar di TPQ (tapi sekarang lupa syairnya, hanya ingat sebait pertama saja).  Juga kitab Ta’lim muta’alim yang berisi tentang adab seorang pencari ilmu (ah, saya juga sudah lupa isinya, jadi PR untuk belajar lagi).


Reward and Punishment
Mungkin dari berbagai sumber kita pernah mendengar kasus mengenai kekerasan yang terjadi di lingkungan pesantren. Namun sebenarnya hal itu tidak bisa dipukul rata, semacam karena nila setitik rusak susu sebelanga.
Pasti, setiap hal atau sistem mempunyai sisi buruk yang tidak boleh ditiru, termasuk dalam pesantren. Tetapi di sini kita hanya akan membahas mengenai pendidikan budi pekerti saja.
Saat dulu teman-teman sekolah saya bercerita tentang ta’zir, saya bingung. Apa itu ta’zir? ta’zir adalah hukuman yang bersifat pendidikan atas perbuatan dosa (maksiat) yang hukumannya belum ditetapkan oleh syara’.
Ta’zir di pesantren tempat teman saya nyantri itu adalah cukur gundul baik santri laki-laki maupun perempuan. Peraturan yang dilanggar oleh santri pun memiliki bobot hukuman yang berbeda. Misalnya, hukuman untuk pencuri adalah langsung digundul. Namun hukuman untuk yang melanggar aturan tidak berpacaran adalah dipanggil ke kantor pusat pesantren, lalu dinasihati. Jika kejadian berulang kali, tak pelak akan terkena ta’zir paling berat juga.
Jadi, hal tersebut tidak bisa dikatakan kejam, karena sudah ada aturan yang (seharusnya) dipahami  oleh masing-masing siswa/santri. Jika ada yang melanggar, mereka sadar betul bagaimana konsekuensinya.
Hukuman/ta’zir bukan bermaksud untuk menegaskan bahwa posisi seorang guru adalah sebatas tingkat otiritasi saja, melainkan untuk memberi pelajaran baik bagi penerima hukuman maupun bagi sesama lainnya. Hukuman yang cukup berat dimaksudkan untuk memberikan efek jera.
Namun, bagaimana jika seorang guru/ustadz memberi hukuman lalu si anak justru melaporkan kepada orangtuanya? meskipun jika ia benar-benar bersalah? it’s fine jika ternyata yang salah adalah gurunya, right?!
Well, itulah yang kita hadapi sekarang. Terdegradasinya pendidikan karakter anak. Jadi, penting sekali untuk menanamkan budi pekerti atau pendidikan karakter anak di sekolah. Sekolah bukan sekedar untuk mendapatkan nilai dan ijazah dengan angka spektakuler yang menghiasi lembarannya. Bukan, tak sesempit itu. Sekolah adalah rumah kedua tempat anak belajar bersosialisasi, belajar menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang muda, belajar berekspresi, belajar empati, dll. Hal yang sama yang ia dapatkan di rumah.
Tugas orangtua adalah untuk mendidiknya, bukan membelanya dari kesalahan yang mereka lakukan. Semoga generasi yang akan datang akan lebih dan pendidikan budi pekerti pun diberikan sebagimana pentingnya.

Allahua’lam. 

6 comments:

  1. Penting mbak. Btw kalau di negara Jepang kalau gak salah awal2 anak sekolah sampai grade brp gtu anak2 lb ditekankan utk belajar ttg budi pekerti dll, baru setelah grade tertentu diajrin matpel yg sbnrnya , kalau gk salah sih. Enta Jepang apa negara lain gtu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, di Jepang.

      Ada teman yang kuliah di sana dan dua anaknya ikut. suaminya pernah sharing seputar pendidikan di sana, jadi anak kelas 1-3 pelajarannya cuma 3 macam kalo ga salah ^^ lebih menekankan ke berhitung, karakter dan satunya lupa

      Delete
  2. Yess penting sekali. Supaya kita bisa menghormati orang2 yang telah memberi kita ilmu. Tanpa mereka kita tahu apa? Orang tua juga di rumah hanya mengajari yang mereka tahu saja, tak seluas yang disampaikan guru. Biasanya santri paham sekali dengan masalah ta'dzim pada guru, hehe.

    Harusnya sebagai seorang siswa/santri sadar juga dong kalau sudah ada peraturan begitu begini mau tidak mau ya harus dijalani, sebagai konsekuensi dia belajar di sekolah/pesantren. Dengan menyetujui untuk belajar d suatu tempat berarti dia setuju juga untuk menaati peraturan yang ada.

    Perihal hukuman di sekolah/pesantren biasanya kan sudah dijelaskan kalau melakukan ini hukumannya ini. Jadi kalau sampai dihukum ya salah siswa/santri, aturannya kan sudah jelas.

    ReplyDelete
  3. Beda jaman, beda tantangan, budi pekerti ditinggalkan, fokus hanya pada kognitif, orang tua cenderung permisif... kompleks masalah anak jaman sekarang. That's why baik orang tua dan guru wajib banget belajar parenting...

    Tidak ada alasan, "orang jaman dulu nggak pake parenting2an juga anaknya jadi semua.."

    Iya tapi jaman dulu nggak ada gadget, nggak ada tayangan TV yang merusak, nggak ada sosmed...

    Didiklah anak-anakmu sesuai jamannya.. orang tua dan guru juga harus mau berkembang tidak stagnan di tempat.. saat orang luar malah berbondong2 fokus sama pendidikan karakter, kita fokus biar anak nilainya tinggi, rangking satu, menang ini itu -- tapi nggak jujur bukan masalah, nggak hormat sama guru juga bukan masalah....


    Dan yang lebih penting lagi pend. karakter/ budi pekerti nggak bisa sekedar teori kaya PMP or P4, ini life skill, butuh pembiasaan dan praktek :)

    Jadi kalau guru dan ortu pengennya anak2nya santun dan hormat, tanya sama diri masing2... sudah jadi guru dan ortu yang santun dan hormat juga belum? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup! harus terus belajar.. Makasih pencerahannya Mba Ririt :)

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam