Tuesday, 30 August 2016

Majalah Lama Sumber Inspirasi


Majalah Lama Sumber Inspirasi- Bismillahirrahmanirrahim... 
Temans, Kamu langganan malajah setiap bulan? Setelah dibaca, jadi apakah tumpukan majalah itu? dibuang, diloak, atau disimpan rapi?
Waktu saya kecil dulu, jangankan untuk langganan majalah, bisa membaca majalah bekas saja sudah senang sekali. Alhamdulillah, sekarang bisa setiap bulan punya majalah dan dapat banyak pencerahan dari sana.
Btw, meskipun saya dulu membaca majalah bekas (dan edisi lama, tentu saja) tapi saya juga tetap mendapatkan inspirasi dari saya lho. Ada profil yang membuat saya berdesak kagum, juga cerpenis muda yang ceritanya membuat saya meneteskan air mata, atau kisah lain yang tak kalah memberi hikmah.
Bagaimana cerita saya dengan majalah-majalah itu? yuk, duduk manis saya siapin camilan dan teh hangat dulu biar nanti asyik nyimak sambil ngeteh :D

Saya punya bulik yang juga tetangga saya, beliau ini adik sepupu bapak. Denganku, hanya terpaut sekitar 6 tahun, jadilah saya seperti adiknya. Saat ada masalah sering kuminta bantuannya meskipun saat saya kecil dulu beliau jutek sekali.
Setelah saya beranjak besar dan biasa ngobrol atau saling curhat, kami menjadi sangat akrab. Hangout ke kota berdua, ke perpustakaan lalu meminjam novel dan bergantian meminjam, atau pergi ke rumah saudara di desa lain.
Sesekali bulik saya membeli majalah bekas di lapak-lapak buku bekas. Penjualnya menggelar lapak di emperan lobi menuju salah satu swalayan terkenal di Wonosobo. Lumayan, dengan harga yang hanya beberapa ribu kami bisa menikmati majalah Femina atau Kartini edisi dua-tiga tahun silam.
Saat itu kalau tidak salah saya masih SMP, tapi kisah dalam majalah itu masih teringat hingga sekarang kecuali nama-namanya.
Ya, dalam profil majalah itu memuat seorang perempuan yang menjadi bussiness woman sukses tetapi sangat low profile. Terlebih beliau adalah salah satu putri wakil presiden Indonesia, Bapak Try Sutrisno.
“Saya Adalah Anak Bapak Saya, Bukan Anak Wakil Presiden”
Kalimat ini sangat menggugah saya waktu itu. bagaimana tidak? Seorang putri pejabat yang notabene orang nomor dua di Indonesia justru tidak ingin dikenal sebagai anak seorang yang punya jabatan bergengsi.
Ingat kasus beberapa bulan yang lalu? Tentang seorang remaja bestatus pelajar SMA yang memarahi seorang polwan yang menangkapnya. Padahal jelas-jelas dia lah yang bersalah karena ugal-ugalan dan tidak membawa SIM saat mengendarai mobil. Apa yang dikatakan remaja itu? dia mencatut nama salah satu orang penting di Indonesia demi terbebas dari hukuman.
Berbeda sekali dengan putri Bapak Try Sutrisno yang dimuat dalam lembar-lembar majalah itu. saya mencoba searching dengan kata kunci ‘anak try sutrisno’ dan muncul beberapa nama. Dua orang diantaranya adalah perempuan: Natalia Indrasari dan Nora Tristiyana. Namun saya juga tidak ingat betul siapa diantara beliau berdua yang ada di sana.
Bisnis Woman, Menjadi Perempuan Mandiri dengan Passion
Beliau adalah seorang perempuan pengusaha, yang bekerja dari rumah. beliau menjadi ibu rumah tangga dan mengasuh anak serta mengelola bisnis parcel.
Mengapa menggeluti bidang ini? Ternyata simpel saja, yaitu karena beliau suka sekali cafting dan ingin bisa berkarya dari rumah.
Nah, cocok banget kan sama bahasan ‘dari hobi jadi profesi?’ tjakeeeep!
Dan saya ingat, yang justru memotivasi saya waktu itu adalah bapak (yang juga selalu membaca buku/majalah yang kupinjam dari teman/bulik).
“Ini nih, bagus. Orangnya rendah hati meskipun anak wakil presiden. Apalagi punya bisnis parcel. Kamu bisa tuh bikin kek gini, kamu kan suka kerajinan tangan beginian,” Kata Bapak
Saya yang awalnya tidak tertarik menjadi penasaran dan membaca berkali-kali, bahkan mencoba meniru kreasi parcelnya. Parcel yang dibuat memang unik, berisi coklat/permen yang dibuat menjadi bunga dengan tambahan pita/kertas warna-warni. Dan hasilnya, buket bunga cantik.
Nah, jadi makin semangat deh buat berkarya. Tapi, lama kelamaan saya hanya menjadi pencetus untuk ide-ide crafting. Akhirnya yang melanjutkan adalah dua adik saya yang lebih telaten. Saya jadi ‘bos’ yang bilang “bulbul (panggilan sayang untuk buliknya Hasna, adik saya) buat beginian dong” atau “Bulbul seperti ini cantik, bisa nggak?” lain waktu “Bul, buatin ini untuk Hasna” dan seterusnya. Paling tidak saya masih menyemangati mereka untuk meneruskan ‘bisnis crafting’ yang sejak dulu menjadi impian kami bertiga.
Sekarang saya jadi tukang nulis dulu ya, Bul!
Pelajaran dari cerita itu tetap melakat di ingatan ko’!
Nah, masih banyak sebenarnya kisah-kisahku sama majalah lama itu, termasuk nyari model baju/kebaya, gunting-gunting gambar dan tulisan untuk membuat scrab-book, dll.
Hm.. jadi ingat nih, tumpukan majalah saya  itu perlu lebih dimanfaatkan.
Teman- teman punya kisah menarik seputar majalah lama juga? Berbagi cerita yuk...
Salam

19 comments:

  1. Aku waktu SMA langganan majalah Annida. Hehe. Suka sama cerpen2nya. Sekarang masih ada ngga yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku dulu baca Annida pinjaman dari teman SMP Mba, hihi :D

      Delete
  2. Majalahku banyak banget Mbaa. Tabloid juga. Pas punya anak pertama rajiiin banget beli AyahBunda, Nakita, dll. Hihi. Pas mau pindah Palopo aki bagi2 aja ke tetangga sama teman2. Semoga sih bisa bermanfaat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...

      asyik ih jadi tetangganya Mba Rotun :D

      Delete
  3. Aku SMP langganan MOP, terus suka pinjam majalah atau tabloid temen
    SMA malah jarang baca majalah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyik ya Mba, sejak dulu sudah puya langganan majalah :)

      Delete
  4. Dulu Ayahku suka langganan majalah Intisari, sedangkan aku majalah Anita hihi ketauan baget ya umurnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi. yang suka intisari tuh budheku, tapi di luar kota. kalau pulang Wsb kadang bawa, aku pasti bawa-bawa ^^

      Delete
  5. Dulu Ayahku suka langganan majalah Intisari, sedangkan aku majalah Anita hihi ketauan baget ya umurnya :D

    ReplyDelete
  6. Justru baca majalah bekas itu yg asyik, mbak. ^^

    ReplyDelete
  7. Dulu pas sekolah suka banget sama majalah annida, karena itu sering nongkrongin perpus cuma buat baca majalah annida ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau aku pinjam Annida dari teman SMP Mba :)

      Delete
  8. Aku kayaknya juga baca putrinya pak Try itu, hahaha...
    Asiknya belii majalah bekas ya, dapat lumayan baru harga muraaaah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah lama banget kan Mba? jaman aku masih piyik. wkwkwk
      iya Mba.. hehe

      Delete
  9. Aku juga suka koleksi majalah dan koran lama. Rasanya beraat banget bila harus berpisah :D cuma kocaknya aku dapet pasangan yg nggak suka baca. Ujung2nya dia ngomel melihat majalah bekas menuh2in rumah.akhirnya setelah kusortir sebagian kusumbangin deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha. Mba Aira... toss!!

      Bojoku bilang pusing kalau aku ajak ke tokbuk :P baginya, belanja buku itu pemborosan. makanya aku mau menebar virus cinta buku ke anak-anakku :)

      Delete
  10. Pas SMP sama SMA aku juga suka gunting-guntingin majalah buat ditempel di diary atau jadiin scrap book.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, itu seru banget.. kalo majalah bekas kan nggak begitu berat, karena belinya juga murah :D

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam