Friday, 22 July 2016

Sudut yang Penuh Kenangan Itu


credit pixabay.com

I’m a happy stay-at-home-mother now!
Teringat percakapan saat kenalan dengan orang beberapa bulan lalu..
“Mba Arin trus sekarang kerja dimana?”
“Alhamdulillah di rumah saja, Bu”
Biasalah ya, percakapan dimulai dengan banyak hal basa-basi seperti ini.
“Dulu kuliah di mana?”
“Di Undip, Bu” jawabku sambil berusaha tersenyum.
“Wah, sayang ilmunya jadi nggak kepakai dong, Mba! Nggak ngelamar kerja dimana-mana Mba?”
Nah! Kalau sudah begini saya memilih menjawab “Nggak, Bu” dan (lagi-lagi) tersenyum manis tapi tak menanggapi lebih jauh. Ah, saya kadang baper apalagi kalau lagi ada tamu bulanan :P

***
21 April 2013, itu tanggal yang bersejarah karena setelah dua tahun lebih beberapa bulan mengabdi di lembaga amil zakat, saya harus mengajukan resign untuk mengikuti suami (eh, waktu itu masih calon ding!) ke Semarang.
Tidak mudah melepaskan semua hal yang telah dilalui selama dua tahun itu, meskipun awalnya ada rasa tidak betah, bete, bingung, ingin bekerja di lembaga yang lebih besar, juga stress dengan tekanan pekerjaan dan sebagainya. Namun saya terlanjur menikmati senyum bahagia orang-orang yang menerima manfaat dari lembaga kami. Ya, meskipun belum menjadi donatur, penjadi perantara antara donatur dengan penerima manfaat kuanggap sebagai batu loncatan agar suatu saat bisa menjadi donatur mereka. Karena waktu itu yang bisa kusumbangkan adalah tenaga dan pikiranku.
Di lembaga yang masih kecil di Kabupaten Wonosobo itu, hanya ada beberapa karyawan. Jadi setiap pagi kami bergantian menjadi satpam, menjadi office boy yang nyapu dan ngepel, juga menjadi front officer. Hehe. Kalau mau minum tinggal membuat sendiri karena sudah disediakan dispenser. Makan siang bawa bekal dari rumah supaya bisa berhemat. Begitulah hari-hari kami, kantor kami mengontrak di sebuah rumah di pinggir jalan raya yang ramai, tapi tepat di belakang rumah ada sungai dan kadang-kadang ada ular mampir ke dalam. Seram ya? Sempat membuat saya trauma gara-gara beberapa kali bertemu ular di sana.
Seperti Apa Meja Kerjaku?
Awalnya adalah sebuah meja kerja yang dulunya dipakai oleh karyawan laki-laki freelance, jadi dia tidak setiap hari ngantor. Terbayang lah bagaimana kondisi di atas meja itu lengkap dengan komputer butut yang seringn ngadat.
Setelah sekian bulan, pak bos berinisiatif membuat sekat agar posisi duduk saya tidak terlihat dari luar. dan renovasi itu sedikit lebih mirip dengan ksekat warteg, sehingga saat ada teman-teman yang datang mereka biasanya bercanda dengan berteriak : “Mba Arin.! Pesan nasi rames sama es teh ya!” yang kusambut dengan gelak tawa atau dengan seruan bernada sama :”Pakai sambal dan kerupuk nggak?!”
Pada renovasi selanjutnya, meja kerjaku dipindah lagi, alhamdulillah mendapat tempat yang lebih nyaman, di sudut ruangan. Di sudut lainnya berdiri lemari besar sekaligus kami jadikan sebagai meja untuk menempatkan barang dan buku-buku.
Selfie di depan meja kerja, tapi mejanya nggak terlihat lengkap
cuma ini foto di kantor yang tersisa :)
dok.pribadi
Isi mejaku ada segala macam barang kesekretariatan karena tugas utamaku adalah menjadi admin dan bagian keuangan. Komputer butut telah berubah menjadi netbook 12’ yang setiap hari kubawa pulang dan (dengan izin kantor) kugunakan untuk menulis juga. Di sebelah kanan ada sebuah printer gagah yang kadang harus bekerja terlalu keras mencetak surat atau brosur yang sedemikian banyak. Di sebelahnya ada rak kecil berisi dokumen surat-menyurat. Lalu di sebelah kiri ada tempat pernak-pernik seperti paper clip, stapller dan refill-nya, selotip, bolpoint, dan sebagainya. Tepat di dinding bagian depan kupasang besar-besar berbagai macam target dan tugas yang belum atau harus kulakukan. Di sebelah kirinya, terpasang juga time schedule dan maca-macamnya dalam styrofoam yang kami buat sendiri.
Cukup menyenangkan bekerja di sana, meskipun harus penuh perjuangan untuk berangkat dan pulangnya. Dulu saya berangkat jalan kaki atau naik ojek, lalu naik angkutan umum sampai depan kantor. Pulangnya pun begitu. Setelah punya motor dan berani mengendarainya sampai kota, aku pun membawa MoJiHoKI (Motor Jihad Honda Kharisma 125) mendaki gunung lewati lembah.
Apa daya, saya yang belum begitu mahir melewati tanjakan dan turunan berbelok berkali-kali harus berkenalan dan mencium aspal. Terakhir kalinya yang membuatku trauma naik motor sampai sekarang (sediih...) adalah saat saya hampir terjatuh ke jurang. Untung waktu itu tidak pernah melaju dengan kecepatan tinggi, sehingga saat hampir terjatuh stang langsung kulepas, motor kubiarkan terjatuh dan saya terjungkal di sebelah kirinya. Fyuuh... kenangan yang masih menyisakan trauma dan bekas luka di tangan sampai sekarang. Tak usah dibayangkan bagaimana kondisi motornya, karena saat esoknya diantarkan bapak ke bengkel sepupu, tiba-tiba dia datang kerumah bermaksud membezuk, dipikirnya kondisiku tak jauh beda dengan si MoJiHoKi.
Ah ya, di meja paling sudut itu juga saya sering berdiskusi dengan teman, tentang apa saja. Kebetulan teman-teman di salah satu organisasi pemuda sana menjadikan kantor itu sebagai basecamp (tak tertulis) sehingga saat sepi dan kerjaan sedikit, kehadiran mereka sangat berarti.
Di sudut itu pula saya biasanya menerima kehadiran seorang mbah tua yang rajin datang setiap dua pekan sekali meminta sumbangan. Mbah tua renta yang berjalan jauh dari rumahnya hingga daerah kantor kami untuk mengambil ‘jatah’ dari beberapa orang. Beliau tak bersedia jika kami mengantarkan kerumahnya, padahal ia harus menanggung seorang anaknya yang lumpuh menderita stroke. Setiap menerima amplop, beliau selalu mendoakan kami, ah indahnya... apalagi yang lebih kami harapkan dari mereka selain do’a-do’a dan senyum kebahagiaan itu?!
Narsis bareng anak-anak di panti asuhan
Di meja itu pula saya menyusun jadwal untuk memberikan pelajaran tambahan di panti asuhan dekat rumah. Bertemu anak-anak yang berlari menyambut lalu berteriak gempita “Bu guru Arina....!” lalu tangan-tangan kecil yang berebut menyalami, adalah kebahagiaan tersendiri setelah menghadapi penatnya rutinitas kantor setiap hari. Betapa, sangat merindukan mereka, yang hingga saat ini jika bertemu di jalan mereka masih memanggilku ‘Bu guru Arina’.
Ah, meja kerja yang sudah kutinggalkan selama 3 tahun lebih...
Meja Kerjaku Kini
Setelah menikah, saya pernah sekali bekerja lagi menjadi relawan di lembaga yang sama di Semarang. Tapi karena hamil, ibu mertua dan suami melarangku untuk bekerja lagi. Yeah! Seringkali keinginan untuk bekerja pun datang dan mengganggu tidur lelapku. Tapi, bukankah jika intinya adalah berpenghasilan, bisa kulakukan dari rumah? Hanya perlu sedikit lebih banyak bersabar, lebih kreatif, lebih bersyukur dan lebih menikmati setiap prosesnya.
Dan kini, saya juga punya meja kerja di rumah (hahaha). Meja kerja itu sebenarnya adalah tempat kerja suami saat awal membuka biro jasa penerjemah tersumpah (nah, kalau butuh jasa untuk menerjemahkan dokumen, bisa banget tuh hubungi kami, lihat saja di www.translatornusantara.com) nah! Malah iklan (piss!)
abaikan rambut sikecil yang awut-awutan. hehe

Isinya hanya meja kerja dengan dua laci di bawahnya, simpel. Warnanya pun standar, coklat kopi. Tak ada yang menarik memang, karena kami tak menambahkan apapun sebagai ornamen di sana. Bukan karena tidak ingin ada pajangan, tapi lebih karena kemananan sikecil kami yang aktif.
Ingin sekali, punya ruang kerja yang tertata rapi, dengan warna kesukaan yang bisa jadi moodbooster, memajang hiasan favorit, wangi... hm.. semoaga suatu saat tercapai, nanti ya kalau sudah punya rumah sendiri. Sekarang masih numpang di pondok mertua indah jadi nggak usah neko-neko dulu. Pastinya, meja kerja itu jadi tempat keduaku setelah kamar. Hehe.
Bagaimana meja kerja Teman-teman? sharing yuk!
Salam,

11 comments:

  1. Meja kerja saya di kantor biasa-biasa saja mbak Arin, agak berantakan malah :)

    Sungguh kenangan yang indah ya mbak, bisa mendapatkan pekerjaan yang bermanfaat buat orang banyak, kemudian bisa menjadi Bu Guru Arina pula :)

    Saya pengen juga punya pekerjaan yang syar'i gitu mbak, no bohong pokoknya deh :)

    Semoga sukses ya mbak Arin, selamat mendapatkan income dari rumah, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... makasih banyak Mba Anjar, semoga Mba Anjar juga :)

      Delete
  2. Meja kerja saya penuh dokumen, mbak. Apalagi kalau pas desa mengajukan dana dari pemerintah, saya sampai gak kelihatan. Hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi. Jadi perangkat desa ya Mba?

      meja saya juga berantakan banyak dokumen (dulu) :)

      Delete
  3. saat ini meja kerja saya penuh dengan banyak berkas Mba, soalnya lagi ada audit di kantorku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, paling puyeng kalo lagi diaudit. semoga lancar ya Mba... semangat!

      Delete
  4. sudut penuh kenangan ya mba arin...

    meja kerja saya berantakan gitu deh he he he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Fitri, sering rindu masa-masa bekerja :)

      Toss Mba! meja saya juga sering berantakan

      Delete
  5. Sebenarnya, Mbak, saya nggak punya meja kerja atau meja belajar yang bagus gitu sih di rumah. Saya mah cuma andelin tempat tidur. Udah nyaman sih di sana.

    Dulu memang pernah ada meja khusus untuk belajar/kerja. Tapi gak pernah dipakai lagi. Akhirnya entah dikemanain tuh mejanya sama orangtua saya. Hihihi

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam