Tuesday, 26 July 2016

Film Untuk Angeline, Karena Anak-anak Bukan Boneka


Film 'Untuk Angeline, tayang mulai 21 Juli 2016
Bagaimana rasanya seorang ibu melahirkan? Tak cukup semua kata dalam kamus paling lengkap dikeluarkan, tak cukup segala perumpamaan rasa sakit. 1001 rasa bercampur menjadi satu. Bahagia menanti kehadiran sang buah hati sesaat lagi, sakit akibat kontraksi yang terus menerus, sakit saat bayi melewati jalan lahirnya, belum lagi perasaan gundah yang dipikirkan tentang bagaimana nanti setelah jabang bayi lahir.
Semua rasa yang mendera Si ibu akan sirna begitu mendengar tangisan bayi yang telah dikandungnya selama 9 bulan. Ajaib! Hanya tangisan yang masuk lewat telinga bisa membuatnya menemukan kembali energi yang telah terkuras habis selama proses melahirkan. Mencium, memeluk, lalu membiarkan si kecil dalam dekapannya sementara waktu bagaikan masa terindah bagi seorang ibu.

Tapi, bagaimana jika dalam waktu yang seharusnya sangat berharga itu ia harus gundah karena tak bisa membayar biaya administrasi rumah sakit yang artinya mereka tak bisa segera pulang. Itulah yang dialami oleh Samidah (diperankan oleh Kinaryosih) dalam film Untuk Angeline. Bersamaan dengan dirinya melahirkan, Santo (Teuku Rifnu Wikana) yang bekerja sebagai kuli bangunan di Bali tidak mendapatkan gaji yang seharusnya karena uangnya dilarikan orang. Bagaimana caranya harus membayar biaya yang tak sedikit itu? sementara tabungan pun sudah ludes untuk biaya hidup sehari-hari.
Gelap mata, Santo memilih ‘menjual’ bayi perempuannya kepada pasangan John dan Terry, yang menginginkan anak perempuan, daripada harus menjual sepeda motor yang menjadi sarananya mencari nafkah selama ini. Santo berharap bayinya itu akan hidup bahagia bersama orang lain, tidak menderita bersama orangtua kandungnya yang tak berharta.

                                             

Samidah melepas bayi yang diberinama Angeline itu dengan hati remuk redam. Tak ada yang bisa dilakukannya selain menangis dan berteriak. Terlebih ia hanya diperbolehkan bertemu dengan Angeline kelak saat usianya 18 tahun.
Angeline (Naomi Ivo) kecil tumbuh menjadi gadis yang periang, John papanya sangat meyayanginya. Namun, rasa sayang John dirasa berlebihan dan pilih kasih terhadap Kevin, Anak pertama Terry. Bagaimana tidak? John begitu bersemangat saat membahas segala sesuatu tentang Angel, tetapi hanya melambaikan tangan masa bodoh bahkan mengalihkan topik pembicaraan jika itu tentang Kevin. Keadaan ini membuat Kevin dan Terry mulai membenci Angaline, gadis cilik yang cantik itu.
Puncaknya, dalam pertengkaran dahsyat antara John dan Terry, John mendapat serangan jantung dan meninggal dunia. sepeninggal John adalah neraka bagi Angeline karena mama dan kakak tirinya memperlakukannya tak lebih dari binatang piaraan, bahkan lebih hina dari kucing - kucing kesayangan Terry.
Sarapan sehari-harinya adalah makanan kucing dalam wadah yang sama dan di depan kandang-kandang itu. pukulan, bentakan, dan segala macam cacian adalah menu sehari-hari. Tidurnya tak lagi nyenyak, dan ia pun berubah menjadi gadis kecil yang murung dan tertutup.
Midah, ibu kandung Angeline yang tengah mengais rejeki di Jakarta berkali-kali mimpi buruk tentang anaknya. Ia pun memutuskan untuk pulang ke Bali dan mencari Angeline.  Berhari – hari ia berjalan keliling kota Denpasar hingga menemukan selebaran hilangnya seorang gadis bernama Angeline. Naluri seorang ibu mengatakan itu adalah anaknya. Naas, gadis kecil yang dirindukan bertahun-tahun itu ditemukan meninggal menjadi korban kekerasan orangtua angkatnya.

Wefie sebelum nonton

Mata sembab setelah nonton :(


***

*sodorin tisu* Sedih ya, Temans?
Hiks! Saya sepanjang nonton film tak behenti berderai-derai dan menghabiskan berlembar-lembar tisu. Mulai dari mengingat rasanya saat melahirkan, sampai rasa bersalah yang muncul karena sebelum nonton sempat memarahi sikecil yang sedang banyak tingkah, juga kengerian tentang penganiayaan Angeline, dan Angeline kecil yang hanya bisa pasrah dengan perlakuan Terry.
Kisah yang terjadi di Bali itu memang diambil dari kisah nyata korban kekerasan, Angeline yang ramai diberitakan media tahun 2015 lalu.
Angeline hanyalah satu dari sekian banyak kasus yang terjadi di Indonesia. Ada banyak kasus lain yang tak terekspose, atau begitu saja dipetieskan. Padahal sejatinya, kita sebagai anggota masyarakat harus peduli dengan segala bentuk kekerasan dan pelecehan itu.
Film yang disutradarai oleh Jito Banyu ini berhasil mengaduk-aduk emosi penonton lewat rangkaian konflik yang dialami oleh Angeline maupun Samidah dan Santo. Samidah, sebagai representasi perempuan Jawa yang nrimo ing pandum (menerima apa adanya) dan tunduk pada suami, ia harus menyerah karena keadaan dan karena suaminya yang mencari jalan pintas agar bisa menebus biaya rumah sakit untuk anaknya.
Barangkali  Santo tak pernah membayangkan bagaimana rasanya seorang ibu yang dipaksa pisah dengan anaknya lalu tak boleh bertemu bertahun-tahun lamanya?! Meski ia pun harus menyesal dengan keputusannya 9 tahun yang lalu itu. Ya, penyesalan yang selalu datang terlambat.
Tak hanya drama penganiayaan Angeline, Sang Sutradara juga menghadirkan nuansa kasih sayang lewat Papa John, juga dalam wujud guru dan teman-teman sekolah Angel, serta pembantu di rumahnya, Ni Luh yang sangat perhatian. Ya, anak-anak memang butuh kasih sayang dan perhatian sebagaimana mestinya.
Kak Seto sebagai tokoh yang mewakili sahabat anak pun dimunculkan, dan mengingatkan agar orangtua tak pernah lalai menjaga dan menyayangi anak-anaknya. Pun dengan masyarakat agar peduli dengan hal-hal yang terjadi di sekitarnya.
Melalui film Untuk Angeline ini, sutradara ingin menyadarkan kepada masyarakat Indonesia pentingnya upaya pencegahan terhadap kekerasan terhadap anak dan perempuan. Trafficking, bullyying, pemerkosaan, penganiayaan, pedofil, dll harus dihindarkan dari mereka. Pemerintah pun harus tegas menindak pelaku kejahatan, jangan biarkan mereka ongkang – ongkang kaki dan begitu mudahnya menghirup udara bebas setelah melakukan hal-hal keji yang bisa jadi dia lakukan lagi kepada orang lain.
Pemerintah pun harus berupaya memberikan palayanan yang baik terhadap masyarakat khususnya bagi yang kurang mampu. Kesehatan, pendidikan, dan aspek vital lainnya haruslah diberikan akses mudah bagi mereka. Semoga tak ada lagi kasus bayi harus ditahan karena tak bisa membayar biaya perawatan. Jika pun terpaksa harus didopsi orang lain karena satu dan lain hal, harus ada pihak yang memastikan bahwa keluarga yang anak menampungnya adalah keluarga yang baik, bukan orang yang akan menjual kembali bayi itu.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Angeline saat bercerita di hadapan teman – temannya, dia bukan boneka. Dia tak seperti Luna, boneka kesayangannya yang tak beribu tapi ada Angel yang menjaga dan merawatnya. Semantara ia tak tahu siapa ibunya, tapi semenjak papanya pergi untuk selamanya, ia tak lagi mendapatkan kasih-sayang. Angel bukan boneka yang tak punya perasaan.
Semoga para orang tua semakin menyayangi dan menjaga anak-anaknya, dan kembali tersadar bahwa anak adalah amanah Tuhan yang harus dijaga, bukan untuk diperlakukan semena-mena.  Stop! Kekerasan terhadap anak, mari wujudkan Indonesia menjadi negara yang ramah anak.
Cukuplah satu Angeline menjadi korban, dan mari kita PEDULI!



Yuk, rame-rame nonton Angeline

Salam,








Untuk Angeline (2016)





Produser
Duke Rachmat, Niken Septikasari
Sutradara
Jito Banyu
Penulis Skenario
Pemain





Rating Film
 7.5521 / 10 dari 5 ratings. (sumber: Movie.co.id)




#AyoJadiSahabatAnak bersama Koalisi Online Pesona Indonesia (KOPI)

#KOPIIsCinta dan dukung terus film Indonesia #UntukAngeline

Follow twitter : @KOPIKABARINDO
Instagram       : @KoalisiKopi

Fans Page Facebook : @KOPI Is Cinta @UntukAngeline 

18 comments:

  1. Sepanjang film, mata basah karena air mata...hiks :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Ika.. Jadi inget macsm2.. Termasuk kadang bentak anak :(

      Delete
  2. aku juga paling sedih waktu Angeline bilang dia bukan Luna :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sediih... Hampir semua scene bikin sedih ya Mba.. :(

      Delete
  3. Good movie!
    Semoga banyak yang nonton filmnya, dan ga terulang kasus Angeline ini.

    ReplyDelete
  4. Membaca kisah angeline itu memang sangat mengiris hati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, potret kondisi jaman sekarang ya, miris..

      Delete
  5. Huiks bacanya aja dah bergejolak, membayangin alur ceritanya...
    Jadi penasaran, siap2 bawa sekotak tissue sebelum nonton..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, harus banget! aku sampai sembab banget..

      Delete
  6. ceritanya mengharukan banget yah Mba, tambah penasaran pengen nonton..

    ReplyDelete
  7. Penasaran sama filmnya, kemarin liat trailernya sedih banget kayaknya. Jadi inget peristiwanya tahun lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huum Mba, memang terinspirasi dari peristiwa ANgeline itu..

      Delete
  8. Saya malah gak berani nonton, Mbak. Ngeri ngebayangin cara Angeline di siksa. Kasihan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sediiih Mba.. aku jd inget kadang sumbu kompor terlalu pendek kalo sama anak, jd cepet mbleduk :D

      Delete
  9. Hiks, makasih tisuuenya Mba..*lap air mata*
    Baca review ini jadi keingetan kisah aslinya. Masih nyeseeek kalau ingat peristiwa Angeline. Semoga dengan film ini masyarakat semakin aware dengan kasus kekerasan pada anak. Dan yang pasti menambah rasa syukur bahwa sampai detik ini anak-anak kita masih sehat dan ceria^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. harus mendekap erat anak-anak kita ya Mba.. :(

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam