Saturday, 16 July 2016

3 Tokoh Fiksi Inspiratif Versi Saya


Assalamu’alaikum, Temans,
Pernah punya pengalaman terasa terhipnotis setelah membaca novel atau cerita fiksi lainnya? seolah-olah kita adalah tokoh utama dalam kisah tersebut. Ya, saya pun hampir setiap kali membaca novel atau cerpen merasakan hal yang sama.
Namun sayang, saya bukanlah pengingat detail segala sesuatu kecuali yang sangat berkesan. Dan jika ditanya tentang tokoh fiktif yang sangat menginspirasi saya, saya teringat tiga nama: Sukirman, Slamet dan Laisa. Siapakah mereka? Tentu saja mereka tokoh utama dalam novel yang saya baca. Oke, hampir setiap membaca novel selalu ada inspirasi seberapapun besarnya, tapi entah kenapa tiga tokoh itulah yang muncul di kepala tanpa berfikir panjang.

Sukirman dan Kisah Di Balik Rumpun Bambu
Di Balik Rumpun Bambu, judul buku cerita anak SD yang masih kuingat sampai sekarang. Well, mungkin saya salah mengingat nama tokohnya, entah Sukirman atau Suparman dan Su lainnya. kita sebut saja Sukirman, semoga jika penulisnya membaca tulisan ini bisa dikoreksi, hehe.
Buku itu kutemukan di (sebutlah) perpustakaan sekolahku, di Madrasah Ibtidaiyah dengan status terdaftar dan sehari-hari jarang sekali siswanya yang mengenakan sepatu. Karena tidak punya, dan sebagian karena lebih nyaman bertelanjang kaki. Perpustakaan itu hanya berupa rak buku yang menempel di salah satu dinding ruang guru yang kecil. Tak ada prosedur peminjaman buku yang jelas. Jika ingin meminjam buku, tinggal datang saja ke sana dan pamit kepada bapak/ibu guru yang ada di kantor. Jadi jangan tanya jika lama-kelamaan koleksi bukunya habis karena (mungkin) ada yang lupa mengembalikan.

Ilustrasi, credit pixabay
Sukirman, seorang anak SD yang tinggal dengan ibunya. Ayahnya telah meninggaal dan hanya mewariskan sepetak tanah dan rumah reot yang ditinggali bersama ibunya. Dia tumbuh menjadi remaja yang tangguh dan tidak banyak maunya. Bahkan cerita itu dimulai dengan pagi harinya yang harus berkutat dengan sumur timba untuk mengisi ember-ember dan bak mandi, lantas saat ia sudah menyiramkan air ke tubuhnya dan hanya menemukan sisa-sisa sabun mandi, ia hanya diam dan melanjutkan mandi sambil membatin ‘pasti ibu belum punya uang untuk membeli sabun mandi’.
Sebelum berjalan kaki ke sekolah, ia sarapan dengan singkong rebus hasil menanam di sepetak tanah di samping rumah.  Setelah pulang sekolah ia akan membantu ibunya membuat besek yang akan dikumpulkan ke pengepul. Begitulah aktivitasnya sehari-hari.
Singkat cerita, dengan kegigihannya ia bisa membuat berbagai macam kerajinan dari bambu dengan kreasi yang lebih modern dan cantik sehingga bisa dijadikan ornamen penghias ruangan. Cerita happy ending dengan dia berhasil mengembangkan bisnis kerajinan anyaman bambunya dan merekrut banyak orang untuk bekerja di tempatnya.
Slamet dan Petualangan Hidupnya
Sama dengan kisah Sukirman, buku ini kutemukan di perpustakaan sekolahku. Saya tak ingat judulnya, tapi masih lekat dalam ingatan jalan ceritanya.
Slamet, seorang yatim piatu yang terpaksa harus mengundi nasib ke kota, sendirian. Awalnya ia mencari kerabatnya tapi tak ia temukan hingga ia terkatung-katung di alun-alun Kota Semarang, hidup bersama seorang gelandangan di pasar Jaik (Johar).
Suatu hari ia memutuskan untuk pergi ke ibu kota, karena malu selama di Semarang hanya menumpang temannya itu, dan sesekali berkerja pada penjual wedang ronde. Ia menumpang truk kenalan temannya yang juga mengurus segala sesuatu agar ia bisa sampai ke Jakarta.
Di Jakarta, setelah berhari-hari terkatung-katung tak jelas dan menjadi pencari putung rokok, ia mencoba peruntungan dengan menjadi penjual bakso keliling. Malang, suatu hari ia dicegat preman yang merampas semua uang dan dagangan miliknya. Praktis ia dipecat dan akhirnya mencoba membuat bakso sendiri, berjualan bakso milik sendiri.
Sempat menuai untung besar, tapi akhirnya rugi karena banyak pesaing bermunculan, ia memutuskan pergi ke Irian Jaya. Meski keadaan awal tak sesuai yang diharapkan, di sana ia pun berjualan bakso dan menjadi juragan bakso terbesar.

Ilustrasi, credit pixabay
Cerita diakhiri dengan kepulangan Slamet ke kampungnya setelah sukses di pulau ujung timur itu, dan kunjungan singkatnya ke Semarang namun ia tak menemukan sahabat yang telah banyak membantunya di masa lalu.
Laisa si Bidadari Surga
Temans, kamu suka membaca novel tulisan Tere Liye? Toss dulu ya! Sejak membaca Hafalan Shalat Delisa beberapa tahun silam, saya seperti kecanduan untuk membaca tulisan-tulisannya. Meskipun kadang menemukan beberapa hal yang tidak sreg di hati dan kesamaan alur cerita di beberapa novel, tapi saat membaca rasanya tidak bisa beranjak dari setiap kalimatnya.
Bidadari-bidadari Surga, itu novel kesekian Tere Liye yang kupinjam dari perpusda Wonosobo. Sebelumnya saya juga senang meminjam buku dari perpustakaan guru ngaji yang juga memiliki beberapa karyanya, seperti tetratogi Pukat, Burlian, Amelia dan Eliana.  
Sumpah waktu membaca buku itu (bahkan sampai dua kali baca) saya bercucuran air mata. Membayangkan betapa kerasnya perjuangan hidup Laisa, dan betapa tangguhnya ia membersamai keempat adiknya, Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta sehingga semuanya meraih kesuksesan sesuai mimpi masing-masing.
Tak perlu cerita lebih panjang tentang Laisa ya, karena pasti sudah hafal dengan ceritanya apalagi telah difilmkan juga.  
Antara Sukirman, Slamet dan Laisa.
Ilustrasi, credit pixabay
Bagi saya, ketiganya memberikan semangat yang sama bahwa dalam keterbatasan, tidak menghalangi siapapun untuk bisa meraih impian. Memang dibutuhkan tekad baja dan semangat tinggi karena harus melalui jalan terjal dan jatuh bangun tak terhitung jumlahnya. Juga bahwa kita harus mengingat budi baik orang-orang yang berperan membawa kota sampai pada titik ini.
Ketiga kisah dan tokoh itu berlatar belakang sama: kehidupan yang serba sulit dan kekurangan, tapi akhirnya mereka bisa mendobraknya dan melaju di tangga teratas. Bukan dengan lobi sana-sini atau membayarnya dengan harta yang dimiliki, tetapi memeras otak dan keringat untuk bertahan hidup dan menggapai mimpi, juga memberi manfaat untuk setiap orang.
Usaha, do’a, sabar dan syukur bukankah itu bekal yang harus selalu ada dalam setiap tapak kaki kita?



5 comments:

  1. Aku tau mreka, tp blm knal wong blm baca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba bukunya masih ada Mba, aku pinjemin :D

      Delete
  2. Replies
    1. Kalau yang dua mungkin susah nyarinya Mba, kalo Bidadari Surga di perpus pasti ada, sayang ga punya jadi ga bisa minjemin, hehe

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam