Wednesday, 30 March 2016

Silaturrahim Mengundang Rejeki

Apakah Teman-teman setuju dengan pernyataan bahwa dengan silaturrahim akan mendatangkan rejeki? Saya sih yes! Ada cerita yang selalu kuingat terkait kalimat itu.
Waktu masih mahasiswa dulu, biasalah saat akhir bulan kena kanker alias kantong kering padahal kiriman dari orang tua entah masih kapan datangnya. “Bapak belum ada uang buat bulanan, mungkin 2 minggu lagi” kalimat bapak lewat SMS itu terngiang di kepala dan bikin nyut-nyut. Bahkan setelah membayangkan adegan di film ‘Kiamat Sudah Dekat’ “Peace! Dua minggu lagi! Suer!” _sambil mengacungkan jua jari membentuk ‘V’_pun, hanya cengiran masam yang keluar. Mau bagaimana lagi? Solusinya kudu nyari pemasukan lain padahal gaji les privat pun belum tahu kapan dibayar. Maklum, les-nya personal tidak lewat lembaga sehingga urusan gaji adalah terserah si ibunya anak les. Yasudahlah..
“Rin, silaturrahim yuk, lanjutin rencana kita buat jadi agen asuransi,” ajak sahabat kentalku begitu datang ke kos. Ya, beberapa waktu terakhir memang kami sedang getol mencari uang tambahan mulai dari jualan buah segar di Simpang Lima, jualan kerupuk dan donat dari kos ke kos, dan terakhir dapat tawaran menjadi agen salah satu asuransi syariah dengan iming-iming bonus yang menggiurkan.
“Yaudah, yuk! Semoga jadi rejeki kita. Lagi cetek nih!”
Kami pun berboncengan menuju rumah kenalan sahabatku yang juga seorang manager marketing perusahaan asuransi itu. Kami mendapati penjual kelengkeng berjejer di pinggir jalan hampir di semua tempat.
“Enak kali ya, panas-panas gini makan kelengkeng sambil ngadem di bawah pohon itu,” gumamku.
“Aku yo pengen kelengkeng ik, sama sate lontong juga, tapi samalah kita lagi nggak cukup duitnya,”
Kami sama-sama terdiam lalu sesaat berikutnya meledaklah tawa kami. Menertawakan kekonyolan dan kantong kering dan ternyata hari itu kami sedang puasa, sampai hampir lupa kan?!. Hehe.
Sampai di tempat tujuan kami disambut dengan ramah lalu setelah berbasa basi dan membahas tetek bengek asuransi kami pun bersiap pamit. Rupanya tuan rumah meminta kami menunggu maghrib dan berbuka bersama mereka.

Wuiih! kebetulan nih! begitu kira-kira dalam kedip dan pandang-pandangan kami sambil tertawa mau mengiyakan tapi malu mengakui.
Adzan maghrib berkumandang, dan jrengjreng! Ibu yang ramah itu datang membawa nampan besar berisi dua gelas air es yang ditetesi cairan klorofil (oia, beliau juga agen salah satu merk herbal), sepiring kelengkeng yang ranum dan dingin baru keluar dari lemari es, dan dua piring lontong lengkap dengan sate ayam berlumuran bumbu kacang dan kecap yang membuat liur mengucur.
Nafas kami terhenti sejenak, kami terhenyak dan tidak percaya dengan apa yang ada di hadapan kami. Alhamdulillah, atas nikmatMu ya Allah karena hari itu keinginan untuk makan kelengkeng dan sate lontong pun kesampaian tanpa harus keluar biaya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?!
Beberapa hari berikutnya, saat puasa juga. Iya benar sekali, kami rajin puasa senin-kamis selain untuk menjalankan sunnah juga untuk mengurangi biaya konsumsi. Uhuk! Tapi begitulah kenyataannya hidup jadi mahasiswa dan anak kos yang sering kekurangan dana. Kalau sudah saking mepetnya bahkan puasa a la – a la puasa Daud yang berselang seling hari puasa dan tidak.
***
Kami harus segera mengumpulkan tugas tapi untuk biaya rental komputer dan nge-print, uangnya tak cukup. Jika kami gunakan untuk print artinya tak ada uang lagi untuk makan. Solusinya, mencari tumpangan ngetik dan print gratis. Alhamdulillah.. punya saudara sepupu jauh yang baik sekali dan bahkan sering ngasih uang saku. Eheheh.
Berangkatlah kami ke sana naik bis membawa bahan untuk mengerjakan tugas. Sampai di sana menjelang maghrib dan ternyata mbak sepupu yang baik itu baru saja memesan seporsi besar Pizza H*t dan otomatis kami pun kebagian jatah sepotong pizza yummy. Alhamdulillah, teringat obrolan ringan kami sehari sebelumnya soal (lagi-lagi) makanan dan pizza h*t yang untuk kantong kami masih tak terjangkau.  
***
Keseruan saat nikahan sepupu

Obat Sakit Paling Manjur
Manfaat berkumpul bersama keluarga yang satu ini dialami oleh kakak sepupu nenekku, yang kupanggil nenek juga. Saat idul fitri, menjadi tradisi kami yang muda untuk mengunjungi keluarga besar yang lebih tua. Waktu itu nenek tengah sakit diabetes dan jari kelingging kakinya luka hampir membusuk. Dokter mengatakan sebagian kakinya harus segera diamputasi untuk mengatasi menyebarnya pembusukan.
Beliau jelas menolak untuk diamputasi, sampai anak-anaknya yang telah berkeluarga dan kebanyakan tinggal di luar kota datang khusus untuk membujuknya. Namun tak berapa lama ternyata kondisinya makin membaik sehingga hanya dilakukan operasi kecil. Seluruh keluarga pun sangat bersyukur. Bisa jadi, karena bertemu dengan anak cucunya itulah yang membangkitkan rasa bahagia nenek dan menjadi semangat untuk sembuh.
Pantaslah jika ada anjuran untuk menjenguk orang sakit karena bisa mengurangi beban si-sakit. Hayoo.. ada nggak yang sedang sakit tiba-tiba merasa sangat sehat setelah bertemu dengan keluarga?.
Menambah Relasi
“Kamu punya toko online ya, Rin?” kata Oom dari keluarga suami saat pertemuan dan halal bihalal keluarga.
“Iya Om, gimana Om?”
“Kalau mau ini ada sepupu Om juga agen busana muslimah, kali aja Arin mau jadi resellernya,”
Ini dia yang kumaksud menambah relasi, berupa supplier yang bisa konsinyasi. Coba kalau waktu itu tidak datang dan memilih tinggal dirumah, mungkin informasi berharga itu belum kudapatkan.
Kedekatan Keluarga
Ini rejeki silaturrahim yang tak terbayarkan mahalnya. Keluarga yang tinggalnya jauh dari kita belum tentu setahun sekali bisa bertemu. Memang, setelah idul fitri umumnya orang saling mengunjungi keluarganya tapi bagi yang tinggal di luar pulau belum tentu bisa setiap tahun berkunjung.
Tak kenal maka tak sayang, begitu pula dengan keluarga. Jika tak pernah bertemu maka kedekatan pun akan berkurang. Beruntung saat ini banyak media yang bisa membantu mendekatkan yang jauh. Meski begitu, bertemu langsung akan lebih berkesan.
Saat acara pernikahan dan keluarga besar berkumpul lalu saling bercerita, nostalgia, memotivasi, dll rasanya tidak ingin beranjak dari kebersamaan bersama mereka. Lebih menyenangkan lagi, jika sudah ada kedekatan hati akan lebih mengasyikkan saat bepergian bersama karena tidak ada lagi rasa sungkan dan canggung.
Di keluarga besar bapakku, sangat erat tradisi untuk saling mengenalkan dan mempelajari silsilah keluarga. Kami yang sudah berstatus cucu- buyut-canggah-wareng-dst (istilah dalam bahasa jawa untuk menyebut urutan keluarga di bawah/atasnya) sesekali diajak berkunjung ke keluarga besar sembari dijelaskan silsilahnya. Pusing mengingat banyak nama dan wajah, tapi hikmahnya kami jadi merasa memiliki saudara yang sangat banyak.
Baru-baru ini bahkan bani K.H.R Abdul Fatah Sigedong Kepil Wonosobo membuat grup di facebook dan memasukkan para anggota keluarga ke sana, termasuk aku dan ketiga adikku. Sungguh kebetulan yang menyenangkan.
Oia, saking dekatnya dengan keluarga simbah, aku pernah membuat istilah untuk ke 14 cucu Mbah dengan membuat urutan mulai dari kakak #1 (kakak tua) hingga adik ke #14. Seperti julukan di perguruan silat di film-film kungfu kan?. Empat belas cucu dengan 6 cicit tapi jika berkumpul ramainya melebihi pasar krempyeng ba’da subuh. Amazing! Cerita tentang anak-anak sampai bully-bully-an khas tak lagi menyinggung hati.
Narsis bareng para sepupu di Borobudur

Tempat Singgah 
Ini bukan tempat singgah seperti rumah singgah untuk tunawisma itu ya... maksudnya adalah saat kita bepergian ke suatu tempat, jika ada keluarga yang tinggal di daerah tujuan itu bisa menjadi tempat singgah kita untuk sementara. Catatannya, kita menghubungi terlebih dahulu dan mengabarkan kedatangan.  Jika mereka berkenan untuk kita datangi dan bisa menjadi tempat menginap, usahakan untuk tidak merepotkan dan batasi waktunya maksimal 3 hari. Keluarga yang tinggal berjauhan ini pun biasanya senang saat didatangi keluarga lainnya.
Seperti saat bepergian ke Cilacap. Dulu rasanya buta sekali dengan daerah sana, tetapi karena ada saudara sepupu dan sahabat suami yang tinggal di Cilacap, kami pun bisa bertanya seputar rute dan kondisi jalan. Selain itu, bisa temu kangen dan istirahat sejenak di rumahnya. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui; travelling sekaligus silaturrahim.
Itu baru sekelumit kisah tentang manfaat silaturrahim. Masih banyak hal lain yang bisa kita dapatkan dengan silaturrahim dan berkumpul bersama keluarga besar. Pastinya, saat bertemu mereka meskipun kadang ada hati yang harus menahan perih, tapi selalu ada hikmah dan inspirasi yang diambil. Ada kalanya mendapat pencerahan untuk selalu bersyukur, dan tak jarang mendapat pengingat untuk bersabar dengan kondisi diri saat ini.

Ah, saya jadi kangen berkumpul dengan keluarga besar. Bagaimana dengan teman-teman? 

11 comments:

  1. Sodaraku buanyak, tp jrg ngumpul brg. Nunggu lebaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo ngumpul keluarga besar kami jg nunggu lebaran Mba.. :)

      Delete
  2. seruuuu... memang momen paling asyik kalau pas ngumpul2 sama keluarga

    ReplyDelete
  3. Joss tenan memang manfaat dari silaturahim ini :D

    ReplyDelete
  4. Iya ya mbak, kalo silaturahim memang kayake adaaa aja berkahnya. Bikin saya makin sadar pentingnya silaturahim

    ReplyDelete
  5. aku jarang silaturahim ke sodara...hicks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo agendakan :)

      atau mau ke semarang sini nengokin ponakan? hihi

      Delete
  6. Saudaraku juga bayak dan tinggalnya juah-jauh..jadi kalo mau liburan bisalah ke tempat mereka hihi :D

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam