Wednesday, 30 December 2015

Mundur Selangkah Untuk Melesat Maju


Sumber gambar 
Passion. Satu kata tersebut akhir-akhir ini menjadi booming. Banyak orang sukses karena passion-nya, yang bisa jadi awalnya hanya dianggap sebelah mata oleh banyak orang. Ada alasan seseorang resign dari perusahaan besar tempatnya mendapat gaji tinggi selama ini; ada pula seorang kawan yang menolak tawaran dari sebuah BUMN ternama dan memilih untuk mengikuti program mengajar di daerah terpencil karena satu kata: Passion.

Bicara tentang passion juga, membuatku teringat sebuah fragmen kehidupan seorang gadis kecil. Seorang gadis yang dibesarkan oleh orangtua dari keluarga petani sederhana cenderung kekurangan di sebuah kota kecil yang dingin. Berjualan nangka potong hasil panen sendiri, ikut panen sayur lalu menjualnya ke pasar, memetik kopi dan hasil penjualannya untuk membeli buku, dan banyak aktivitas di sawah yang membuatnya merasakan betapa hidup itu tak mudah. Ia pun bertekad untuk bisa sekolah tinggi dengan biaya sendiri, atau mencari beasiswa agar kuliah gratis.

Saat akan memasuki dunia perguruan tinggi memang ada tawaran beasiswa, tapi waktu itu hanya untuk tahun pertama. Tahun selanjutnya harus mendaftar lagi sambil menahan malu karena disangka berbohong, mengatakan pernghasilan orangtua hanya Rp.500.000,- perbulan. Iya, karena bisa kuliah adalah sebuah keajaiban baginya. Dan perihal penghasilan perbulan yang jika dinalar tidak mencukupi untuk kebutuhan itu, disinilah logika tidak bisa mengkalkulasi karena akuntansi Allah yang lebih bermain. Ternyata dalam perjalannanya banyak rejeki dari jalan yang tak disangka-sangka.

Ia pun mencari penghasilan dari mengajar les privat, membuat pernak-pernik, berjualan jilbab, sampai jualan krupuk dan pulsa. Mungkin memang passion-nya adalah berdagang.
Sejak SD, kecintaannya pada pelajaran Bahasa Indonesia menggiringnya untuk menyukai belajar mengarang, menulis puisi, dan melahap buku-buku cerita di perpustakaan sekolah. Saat SMP ia mulai mengenal diary dan makin cinta dunia menulis. Di bangku SMA beberapa kali mengikuti lomba menulis meskipun selalu gagal.

Saat menentukan jurusan masuk kuliah, bukan dengan pertimbangan yang matang, ya karena semacam cultural shock atau euforia bisa mengikuti SNMPTN yang untuk mengharapkan saja ia ketakutan. Hanya karena suka pelajaran Bahasa Inggris, ia pun melingkari jurusan yang satu itu.

Tahun pertama ibarat bumerang baginya. Salah jurusan. Itu yang ia rasakan. Tapi, mau bagaimana lagi?! Jika tidak diteruskan, sayang dengan beasiswa dan biaya yang sudah dikeluarkan untuk registrasi dan lain-lain. Ingin pindah jurusan ke Bahasa Indonesia, tapi itu artinya harus mengulangi lagi SNMPTN dan belum tentu ia akan mendapat kursi di PTN yang sama. Dan ia memilih untuk bertahan, demi orangtua yang telah berjuang mati-matian untuknya.

Saturday, 26 December 2015

KEEP CALM and LET'S SELFIE with OPPO R7s

dok.pribadi
Hobi selfie tapi kamera hape nggak mendukung hobi? Duh... rasa kiamat dunia ini. Terlebih disaat semua orang membutuhkan gadget yang satu ini. Smartphone yang bisa melayani semua keperluan digital penggunanya. Eksekutif butuh untuk membuat jadwal meeting, menyimpan hasilnya, menyusun project, dll. Seorang blogger pun membutuhkannya untuk meyusun tulisan, mengambil foto, dan memosting tulisannya di blog. Seorang ibu membutuhkannya untuk mencari informasi seputar perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya, mencari inspirasi resep masakan, juga sebagai media pembelajaran bagi sikecil. Seorang penjual online pun sangat membutuhkan untuk menciptakan foto yang menarik pembeli, juga untuk memasarkan produknya. Dan semuanya pun membutuhkan media sosial untuk berkomunikasi dengan orang terdekat maupun dengan kolega dan sebagai sarana menambah teman baru lewat berbagai komunitas.
Dampaknya, setiap orang menginginkan untuk eksis di dunia maya (baca: media sosial) dan makin banyak bermunculan foto selfie-wefie-groufie dalam setiap moment. Ngetrip nggak ada foto, ibarat makan tanpa garam, begitu istilahnya. Mau makan, habis masak, nikah, punya anak, anak bisa merangkak, anak bisa jalan, wisuda, dan semua moment dalam hidup akan meninggalkan kenangan lewat foto. Selfie?! Siapa takut?! Karena tidak semua orang bisa pergi bersama teman, dan saat bersama-sama pun akan lebih mengasyikkan jika semua orang masuk frame, tidak ada yang berkorban menjadi ‘tukang foto’.
Tampilan mewah nan elegan OPPO R7s
Baru-baru ini, OPPO mengeluarkan produk barunya yaitu OPPO R7s dengan tagline Style In a Flash. Fitur andalannya adalah kamera dengan resolusi tinggi. Yup! Saat berkesempatan mencoba smartphone seri ini, benar-benar langsung jatuh cinta dan tak tega melirik HP butut yang sekarang masih menemani. Bahkan sikecil Hasna yang belum genap 2 tahun pun langsung asyik ber-selfie ria sana-sini dan kegirangan melihat wajah imutnya makin gemsin di layar. Ah, iya tentu saja HP bundanya langsung dilempar.

Wednesday, 23 December 2015

Nostalgia Putih-Abu

Foto Bareng Kakak Sepupu (Tinggal foto ini yg masih ada)  Dok. Pribadi
Kata orang, masa SMA adalah masa paling menyenangkan yang menyimpan sejuta kenangan, tapi tidak menyenangkan buatku.  Masa itu aku mengalami kekecewaan yang luar biasa di masa kelulusan karena masalah hati. *uhuk* Meskipun bukan masa paling menyenangkan, tapi benar jika masa itu jadi masa penuh kenangan.
Jika masa putih-merah sampai putih-biru kebanyakan masih culun dan lugu, masa SMA biasanya sudah mulai ‘berani’ dan merasa sudah besar. Ingat kan, hebohnya yang sudah pada punya SIM waktu SMA, dan umur 17 tahun akhirnya sudah harus punya KTP dan punya hak untuk memilih saat ada pemilu. Selamat! Akhirnya kamu diakui sama negara. Hehe.
Jaman aku kecil dulu, belum kenal deh sama pacaran-pacaran*berasatuabanget* padahal aku lahiran 80a’n lho.. 87 kan masih muda.. *GeEr* mungkin karena anak desa kali ya..
Waktu SMP sebagian teman ada yang pacaran sama kakak kelas, sama anak SMA, ada juga yang sama teman sekelas. Tapi, jumlahnya masih lebih sedikit dibanding yang ngejomblo. Dan kita have fun aja tuh di sekolah. Apalagi jadi orang desa yang harus sekolah jalan kaki mendaki gunung lewati lembah *kayak ninja hatori aja* teman seangkatan SD yang melanjutkan sekolah di SMP yang sama hanya 4 orang, dan semua laki-laki. Jadi, tiap pagi jam 5.45 kami sudah siap berangkat menempuh rute sekitar 3km. Kami sekolah di MTsN Kalibeber jadi otomatis seragamku panjang. Berangkat bareng temen cowok bikin aku pontang-panting. Harus sering ngangkat rok biar bisa jalan secepat mereka dan setengah lari waktu lewat turunan. Pulangnya, kadang nebeng mobil bak terbuka bekas bawa kambing ke pasar. Seru kan?! Itu cuma setahun pertama sih, tahun berikutnya ada adik kelas yang bisa diajak bareng. 
Ups! Malah bahas masa SMP. Ibarat naik tangga satu tingkat, masa SMA juga begitu. Melanjutkan sekolah di MAN Kalibeber, berangkat sekolah ada angkutan khusus untuk palajar. Lumayan, sekarang bisa dadahdadah sama adikku yang masih berseragam putih-biru. Hore, nggak jalan kaki lagi. Tapi pulang sekolah tetep kudu jalan kaki, naik angkotnya cuma 5 menit jalan kaki 30 menit. Masih mending sih nggak sejauh waktu SMP.
Di kelas, biasa lah aku pendiem dan nggak supel banget, cenderung jutek dan cuek bebek. Sering ngerasa minder bin rendah diri *padahal badanku lumayan tinggi lho* jadi jarang banget bisa ngobrol asyik sama orang apalagi temen cowok. Tapi, rupanya aku akrab sama beberapa orang yang talk aktive banget dan akhirnya nular deh, mulai bisa bercanda hahahihi sama temen cowok.

Monday, 21 December 2015

Sukses Berbisnis dan Menulis Bersama emakpintar.asia

Dok.pribadi
‘Perempuan tidak perlu sekolah tinggi, toh nantinya hanya akan menjadi ibu rumah tangga. Sayang ijazahnya kalau tidak dipakai’
Ada yang masih beranggapan seperti pernyataan di atas? Padahal di era modern seperti ini, setiap orang termasuk kaum perempuan bisa menyalurkan kerativitas dan ilmu yang dimiliki dimana saja. Utamanya ia menyalurkan ilmu dirumah karena seorang perempuan adalah sekolah dan guru pertama bagi anak-anaknya. Di tempat kerja pun, dituntut untuk profesional sesuai kepakaran masing-masing. Perempuan dituntut untuk menjadi sosok yang cerdas, pintar dan kreatif dalam posisinya baik sebagai istri, ibu, maupun seorang profesional.
Tapi, memang masih banyak yang beranggapan bahwa menjadi seorang ibu (atau emak) adalah hal lumrah yang pasti akan terjadi sehingga tidak perlu menyiapkan ilmunya. Lalu, bagaimana jika sudah terlanjur menjadi ibu tapi ilmu yang dimiliki masih sedikit?! Tentu saja harus memperkaya diri dengan beragam informasi yang saat ini sangat mudah diakses. Ilmu tentang parenting, ilmu menyusui, tentang MPASI, berbisnis, atau juga ilmu yang sesuai dengan hobi emak seperti crafting dan menulis.    
Indari Mastuti, seorang writer business specialist baru-baru ini launching emakpintar.asia, sebuah website yang menjadi wadah bagi kaum perempuan terutama kaum ibu untuk menambah ilmu tentang menulis dan bisnis.
Dengan website tersebut memungkinakan para perempuan untuk belajar dari mana saja dan kapan saja, juga sebagai media informasi Indscript Training Center yang mengadakan berbagai training menulis dan bisnis bagi perempuan. Di sini, pengunjung bisa belajar mendapatkan rahasia praktis sukses berbisnis, meningkatkan omzet, bagaimana agar usahanya berkembang pesat, cara menerbitkan buku, dan banyak tips menarik dan bermanfaat lainnya.

Thursday, 17 December 2015

Cara Mudah Memeram Alpukat


Suka makan alpukat, tapi malas beli karena sering salah dan kecewa?! Saya pun sebelumnya begitu. Sikecil sih, tepatnya yang doyan buah satu ini. Apalagi waktu mbah nya bawa alpukat mentega sekardus dari Maumere NTT sana. Hm... tiap hari makannya alpukat terus karena waktu itu memang masih awal MPASI dan belum makan nasi.
Saking banyaknya alpukat yang dibawa Bapak mertua itu, jadi sisa-sisa meskipun sudah sibagi ke teman dan tetangga. Jadi ngerasa sedih banget, sayang kan alpukat mentega yang rasanya manis gurih legit itu terbuang sia-sia karena busuk. Ya, masalahnya ada pada cara memeram yang salah.
Suatu hari ada yang ngeshare cara memeram alpukat yang hasilnya nggak mengecewakan, buahnya bisa matang sempurna dan dagingnya tetep kuning kehijauan, menggiurkan deh. Akhirnya mencoba cara itu juga meskipun awalnya ragu.
Yang kubaca dulu di facebook, butuh kertas roti atau tisu dan kebetulan dirumah tidak ada kertas roti, tisu pun habis lupa belum beli. Pakai kertas aja deh, batinku. Nggak niat banget, namanya juga coba-coba.

Monday, 14 December 2015

Mie Rumput, si Ijo Kaya Nutrisi

Mie Rumput. dok.pribadi
Mie rumput, bukan berati mie ini terbuat dari rumput yes, Guys!  Waktu pertama kali dengar dulu sih ngerasa aneh, ko mie rumput sih?! Emang kita sapi gitu yang makan rumput?! Ekekekek. Stay cool, Broh!
Hm.. Yummy.. dok.pribadi
Tahu mie ini gara-gara teman se-lingkaran (baca: pengajian) cerita ada mie ayam warnanya ijo di daerah Lemah Gempal. Namanya anak kos waktu itu, tahun 2008/2009, penasaran deh, dan pengan nyoba. Kebetulan di daerah sana dulu ada toko buku Silmi, toko buku diskon punyanya Pak Zuber Safawi dan Bu Dyah Rachmawati. Pas ada kesempatan ke sana, nggak lupa juga mampir ke mie ijo yang letaknya di pinggir jalan. Lumayan, sambil jalan kaki pulang bisa mampir dulu makan dulu ngadem dulu.  
Ooh, ternyata mie rumput itu mienya warna ijo dan warnanya alami karena dibuat dari air perasan sawi hijau. Cukup menyehatkan kan?! Waktu itu seporsi haeganya Rp.6.500, lebih mahal dibanding mie ayam biasa yang paling Rp.4.500-Rp5.000 tapi ayamnya maknyuss beneran berdaging dan banyak, nggak cuma seuprit. Rasanya pun nagih lah.

Thursday, 10 December 2015

@Taman Dino: Serasa Kolam Renang Pribadi

Taman Dino ini nama area bermain anak-anak di pemancingan Ngrembel Asri. Untuk bisa menggunakan fasilitasnya, pegunjung dikenai biaya Rp. 10.000, free untuk anak di bawah usia 2 tahun.
Di taman ini ada banyak wahana bermain anak yang cocok untuk permainan anak TK mulai dari ayunan sampai wahana yang melatih ketangkasan a la outbond training. Ada dua kolam renang (kecil dan besar) dan satu perosotan. Ada ember tumpahnya juga, tapi waktu itu dimatikan (mungkin karena sepi pengunjung saat hari kerja) dan sedang ada perbaikan di beberapa bagian taman).
Masuk ke sana, kami berkeliling taman, menuju kandang kuda poni.
Oia, lagi-lagi saat week end ada petugas yang berjaga dan memandu anak-anak memberi makan kuda. Lalu ada arena kereta tapi sepertinya sudah lama tidak digunakan, terlihat dari kereta yang aus dan area yang gersang. Ada kandang kelinci, dan beberapa kandang binatang yang bisa dilihat anak-anak.
Asyiknya bermain
Karena Hasna masih bayi, kami tak bisa masuk ke wahana ‘Omah Kayu’ yang bersisi permaianan ‘berat’ untuk anak-anak dan pasir. Untungnya pertugas mengizinkan kami bermain di pasir putihnya. Sepertinya itu pasir pantai asli. Hehe.
Setelah itu... swimmin time!! Yang ditunggu-tunggu sama Oom dan Ayah Hasna. Mbah Ti dan Bunda Hasna Cuma menikmati keseruan mereka dari saung dan sesekali cecipratan. Di kolam ini ada patung dinosaurus yang menyemprotkan air lewat mulutnya, dan ada perosotan. Buat anak-anak yang suka Dinosaurus, bisa eksplore sepuasanya karena di bawah patung yang besar ada keterangan tentang species tersebut. Puas bermain air (dan hujan) kami pun bergegas berganti pakaian lalu mengambil pesanan untuk dibawa pulang. Baby Hasna langsung lelap.
Cukup puas rasanya dengan membayar Rp.10.000 bisa menikmati kolam renang yang serasa kolam renang pribadi karena tidak ada pengunjung lain. Sebelumnya ada sih pengunjung lain tapi mereka turun saat kami masih berjalan menikmati suasana taman. Lain kali bisa dicoba lagi deh! Hohoho. Aamiin.... 

Saturday, 5 December 2015

Tempe Kemul, si Kuning yang Ngangenin*

Bagi orang Wonosobo asli, tak akan pernah merasa bosan menikmati penganan satu ini meskipun setiap hari menyantapnya. Rasanya yang gurih khas dengan warna kuning bumbu kunyit membuatnya selalu dikangenin semua orang.

Lihatlah saat pagi orang rela antri panjang demi sepiring (atau umumnya sepincuknasi megono berikut tempe kemul sebagai lauknya. 

Tempe kemul ini hampir sama dengan mendoan Purwokerto atau tempe goreng tepung di daerah lain. yang membuatnya khas adalah
penggunaan tepung pati/aci basah sehingga tepung yang menyelimuti tempe menjadi renyah, tidak lembek meskipun sudah dingin. Tempe nya pun diiris tipis agar lebih cepat matang, atau menggunakan tempe khusus untuk tempe kemul; yaitu tempe yang dibuat tipis bersap dalam membuatnya, sehingga satu tempe bungkus daun bisa berisi 4-5 lembar.
Camilan (yang kadang dijadikan lauk) ini sangat khas Wonosobo, bahkan membawa bahan dan bumbu dari Wonosobo pun saat dibuat dan dimakan di daerah lain rasanya berbeda. Bisa jadi faktor udara dingin sangat mempengaruhi.

Friday, 4 December 2015

Lubang Sewu, Grand Canyon-nya Wonosobo*

Gyus! Sudah tahu belum kalau di Wonosobo ada tempat bwisata ‘baru’ yang lagu happening banget?! Iyup! LUBANG SEWU namanya. Lubang sewu adalah nama yang diberikan oleh masayarakat sekitar karena batu-batu yang ada di sana berlubang-lubang, hampir seperti sponge alias batu karang di bawah laut. Uniknya tempat ini hanya bisa dinikmati keindahannya saat musim kemarau dan air bendungan surut.  Lubang sewu  tepatnya ada di Desa Erorejo, kawasan Bendungan Wadaslintang Wonosobo.
Lubang Sewu





Penasaran kan?! Yuk.. simak liputan lengkapnya.
Sabtu sore, sengaja kami mengagendakan pergi ke Lubang Sewu biar nggak bolos kerja dan sekolah. Maklum, anak-anak masih sekolah dan kami berdua ngajar. Kami pilih hari Sabtu sore juga agar tidak terlalu panas, tahu sendiri kan sekarang sedang musim kemarau, Wonosobo yang biasanya dingin pun terasa panas terlebih Wadaslintang sudah masuk wilayah yang panas karena berbatasan dengan Kebumen. Selain itu, di sore hari kami bisa melihat matahari tenggelam dan besoknya hari libur jadi bisa lebih santai meskipun capek pulang malam, apalagi anak-anak mabuk perjalanan karena medan menuju Wadaslintang yang berkelok-kelok dan naik-turun.

Thursday, 3 December 2015

Mencoba Sensasi Jembatan Gantung Slukatan*

Guys! Sudah pernah jalan-jalan ke Wonosobo belum? Ha?! Belum?! Hm... kudu banget nih bikin jadwal jalan-jalan ke negeri di atas awan ini.
Memangnya ada apa di sana? Belum tau? Selain ada Dieng Plateu yang fenomenal dengan beberapa objek wisatanya, ada juga wisata golden sunrise Sikunir, Gunung Prau, Gunung Pakuwaja, baru-baru ini ada Lubang Sewu dan Kopen. Belum lagi beberapa danau alami dan buatan seperti Telaga Menjer dan Waduk Wadaslintang.
Nah, salah satu yang lagi nge-hits selain Lubang Sewu adalah Jembatan gantung yang ada di Desa Slukatan. Jembatan ini terbentang sejauh kurang lebih 200m dan menghubungkan dua bukit dan dua Desa yaitu Desa Slukatan dan Dusun Jambu Desa Wonokromo. Sebelum ada jembatan ini, masyarakat kedua desa harus memutar jauh jika akan berkunjung ke sanak saudaranya.
Asyiknya bergaya di jembatan gantung *pic by Qiqy Kuko
Untuk mencapai Desa Slukatan dari Kota Wonosobo menuju utara, belok kiri di Jawar lalu belok kanan di pertigaan di Jalan Jawar-Kalibeber. Melewati jembatan kali serayu desa Wonokromo. Setelah melewati tanjakan ada dua alternatif jalan. Yang pertama lanngsung belok kanan melewati Desa Kebrengan, yang ke dua lurus melewati Desa Wonokromo.