Tuesday, 24 November 2015

Profesi Utama Dunia Akhirat

Hari ahad, 22 November kemarin adalah hari yang super sibuk *gaya* yup! Hari itu ada agenda sarasehan guru TPQ se Kecamatan Pedurungan, Gayamsari dan Genuk. Dua minggu sebelumnya, panitia baru rapat dan menentukan tema acara, undangan, pembicara dan tetek bengek lainnya.
Konsep acara yang digagas adalah silaturrahim guru TPQ di wilayah tiga kecamatan, sekaligus memberikan penghargaan terhadap mereka. Selama ini tahu dong ya, namanya guru TPQ itu sangat lebih tidak diperhatikan dibanding guru honorer. Iya, kalo guru honorer ada kemungkinan bisa naik jadi PNS, lha kalo guru TPQ jalurnya kemana?! *nangis*
Jadi inget masa-masa dulu bantu ngajar TPQ, pengelolanya hanya satu orang dan beliau masih bertahan sampai sekarang meskipun hanya mendapat sedikit perhatian dari takmir masjid. Pernah sih, sesekali mendapat THR dari pemkot, tapi jumlahnya tak setimpal dengan tenaga dan pikiran yang sudah mereka keluarkan.
Ya, ngajar ngaji kan urusan akhirat, harusnya nggak usah mikirin dapat ‘sesuatu’ dong..! ups. Ada yang punya pikiran gitu?! Hm... memang jadi guru TPQ itu urusan akhirat, kalo nggak mana mungkin mereka betah tiap hari kudu ngeladenin puluhan kepala dengan beda sifat dan karakter, ratusan keinginan anak didiknya dan segala tingkah polah mereka, juga harus sabar ngajarin semua huruf hijaiyyah sampai benar. Kadang gurunya sabar, eh muridnya nggak sabar gara nggak naik-naik bacaannya padahal emang belum bener trus ortunya ikutan sensi trus brenti deh ngajinya. Nahloh! Padahal mah ngaji itu emang kudu sabaaar selebar lapangan nggak berpagar.
Dan yang lebih penting, mau ngajar ngaji atau ibadah lain pun butuh materi. Busana muslimnya, pulang/pergi ke tempat ngajarnya, buku panduannya, sarana prasarana, dan yang paling penting ilmunya. Jangan dikira bisa ngajar ngaji itu gampang nyari ilmunya ya... *kalo para guru TPQ pasti tahu perjuangannya, hehe* so, semuanya harus saling mendukung dan seimbang.
Untuk itulah
panitia juga ngundang Ustadz Zuber Safawi. Iya, calon wakil walikota Semarang tahun 2015 itu, karena beliau punya program untuk menyejahterakan guru TPQ.
Ustadz Zuber Safawi. dok.panitia
Kembali ke panitia dulu ya... rencananya sih panitia pengen ngasih ‘sesuatu’ untuk mereka yang hadir. Disepakati jilbab san sarung, tapi dengan target peserta 500 orang, jika semua hadir maka budget-nya kurang lebih Rp.12.500.000 dengan asumsi harga jilbab kurang lebih Rp.25.000/pc dan sarung Rp.50.000/pc. Biasanya yang hadir kan lebih banyak kaum ibu J
Jadi bendahara bingung lah, darimana bisa dapat uang sebanyak itu dalam waktu dua minggu?! Padahal banyak agenda yang masih butuh dana juga. Bismillah.... semua panitia pun optimis dan berdo’a memohon jalan kemudahan dari Allah. Proposal dan ‘gerakan peduli jilbab’ pun disebar. Tak sampai dua hari, dalam grup Whatsapp panitia selalu dilaporkan perkembangan dana dari para donatur. MaasyaaAllah...  kami banyak bertakbir. Betapa Allah menggerakkan hati mereka yang dermawan untuk menyumbangkan dana dan apa yang mereka punya. Mulai dari donatur cetak undangan, jilbab, sprei, makan siang, hingga uang jutaan rupiah per orang pun kami terima. Ya, mungkin inilah berkah buat para guru TPQ. Semua tak lepas juga dari perjuangan semua panitia terutama Ibu ketupat yang lobi sana-sini nya jos gandos.
Dan segala keriuhan mulai dari cetak undangan, editing, nyebar, sampai segala persiapannya tumpah ruah di hari Ahad itu.  Bertempat di Halaman Toko Paving Adhi Jaya Jl. Woltermonginsidi, 300 guru TPQ hadir dalam suasana takdzim dan gembira.
diantara 300 peserta yang hadir. dok.panitia
300 dari target 500 sudah membuat kami tersenyum senang meskipun masih dipusingkan dengan urusan setelahnya. Jam 6 pagi, sebagian panitia sudah standby dengan nuansa putih-hijau yang menyejukkan. Pas banget sama konsep tempat acaranya. Outdoor, ada banyak pohon, udara panas tapi cukup ada semilir angin, backdrop pun dengan warna senada. Hadir pula Tiga badko TPQ dari tiga kecamatan.
Acaranya seperti biasa dong... pembukaan trus pembacaan ayat suci Al-qur’an. Oia, qari’ yang sedianya mau tasmi’ qur’an ternyata kecelakaan dan berhalangan. Qadarullah akhirnya digantikan oleh ananda Dani, yang masih imut-imut tapi qira’ah Qur’annya jempolan. Habis itu ada sambutan dari SC mewakili semua panitia oleh Ustadzah Khodijah, dan sambutan dari ketua Badko Pedurungan yang memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara itu.
Setelah itu acara sarasehan bersama Ustadz Zuber Safawi yang didampingi Bapak Imam Mardjuki, seorang anggota dewan Kota Semarang. acaranya gayeng banget, ustadz karismatik itu menyampaikan program beliau terkait kesejahteraan guru TPQ sekaligus strateginya. Beliau juga memohon do’a restu kepada para hadirin dalam pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Semarang tanggal 9 Desember nanti. Semoga dimudahkan, Ustadz.. aamiin.. kami rindu pemimpin yang menjadi teladan.
Ustadz Zuber dan Badko. dok.panitia
Dan acara intinya adalah taujih oleh Ustadzah Aisyah Dachlan. Familiar dengan nama beliau?! Yup! Beliau adalah putri dari ulama besar KH. Dachlan Salim Zarkasyi, penemu metode baca tulis Al-Qur’an Qiroati. Beliau bercerita bahwa semua anak KH. Dachlan yang berjumlah 13, profesi utamanya adalah ngajar ngaji dengan profesi sambilannya sebagai dosen, pengusaha, guru SD, dll. Denger itu, langsung merinding deh. Betapa apa yang dulu telah diperjuangkan oleh ayahandanya kini dilanjutkan oleh semua anaknya.
Hj. Aisyah Dahlan mewakili panitia memberikan penghargaan terhadap guru TPQ yang pengabdiannya paling lama. Ada seorang bapak yang mulai ngajar TPQ dari tahun 1983 dan sampai sekrang masih bertahan. Salut dengan perjuangan beliau. Lalu penghargaan untuk TPQ dengan murid terbanyak, tercatat ada 250 murid TPQ. Jumlah yang fantastis untuk TPQ di kampung, kan?!
Sambil ngisi taujih, banyak doorprize bertaburan juga..!! selamat ya, Bapak/Ibu guru TPQ. We love you full! Hihi.
Pemberian penghargaan. dok.panitia
Lanjut ke ustadzah Aisyah, beliau melanjutkan lagi bahwa dalam sebuah hadits dikatakan sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. Bukankah ini tertuju untuk para guru ngaji?! Tapi memang terkadang banyak ketimpangan di masyarakat. Inginnya semua pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya sampai dileskan sana sini, tapi untuk urusan membaca Al-qur’an malah disepelekan. Padahal, tugas orangtua yang utama salah satunya adalah mengajarkan Alqur’an kepada anak-anaknya.
Pembawaan Bu Aisyah yang tegas tapi tetap humoris membuat peserta tersihir untuk fokus mendengarkan ceramah beliau. Sayangnya, sound system kurang memadai jadi yang bagian belakang kurang jelas dengan suara beliau. Terakhir, sebelum pulang bisa menukarkan kupon Serbu (Serba Seribu) dengan jilbab/sarung. Barakallah, Bapak/Ibu semoga berkah dan bermanfaat. Selamat melanjutkan kembali perjuangan menjadi guru ngaji.
Serius mendengarkan ceramah. dok.panitia
Menyerbu stand SERBU. dok.panitia
Hfft.. habis acara langsung merasa makjleb ingat waktu ‘dipaksa’ bapak untuk ngaji waktu masih kecil. Dulu sering misuh-misuh jam main kurang karena harus ngaji, tapi baru kerasa banget sekarang. Terimakasih, Bapak.. love you Pak..!! Ngaji tahsin alhamdulillah udah, tapi ngaji qiro’atinya udah lama banget vakum sampai gharib dan empat tahun lebih belum lanjut lagi. Hiks! Malu... *tutupmuka*
Yuuuk... belajar ngaji bareng J

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam