Tuesday, 13 October 2015

THE LORAX, Makhluk Kecil Penjaga Hutan


Nonton film, itu kesukaanku sejak dulu meskipun dulu hanya bisa nonton lewat TV. Saat SMA, lebih banyak nonton film India bareng teman-teman se-gank. Lalu saat kuliah dan bertemu dengan hampir semua orang pecinta film apalagi kuliah di sastra yang tak jarang membahas film, mau tak mau jadi sering  nonton.
Oia, waktu itu bagi mahasiswa seperti saya, tidak ada budget untuk nonton film di bisokop tapi selalu update DVD film terbaru dari rental film langganan. Bayar sewanya pun patungan orang se-kost.
Setelah menikah kadang nonton di bioskop bareng suami. Hampir semua film aku suka terutama yang alurnya mengena di hati. Nonton film laga bareng suami, nonton drama sendirian sampai termehek-mehek pun sering, film korea yang bikin gemes dan berderai pun dijabanin, apalagi dulu film india sampai hafal lagu dan adegan-adegannya. Tapi  yang selalu jadi favorit adalah film animasi, termasuk kartun anak-anak yang lucu. Hihi (emak-emak apa anak-anak nih?!)

Saat pulang kampung dua pekan  yang lalu adikku menyodori film lama, tahun 2012 berjudul THE LORAX yang katanya bagus, tentang penjaga hutan, promo adikku waktu itu. Karena penasaran, aku pun segera melahapnya. Dan benar, banyak hal yang membuat tersentak dari dialog-dialog dan adegan dalam film itu.

Oia, ini ulasan filmnya,

Film animasi 3D ini diangkat dari buku cerita karangan DR.Seuss dengan judul yang sama. Film yang disutradarai oleh Chris Renaud dan Kyle Balda ini dirilis tahun 2012 bertepatan dengan peringatan ulang tahun Dr.Seuss ke 108.  

Film ini diawali dengan gambaran keceriaan dan kegembiraan warga ‘Thneedville’ sebuah kota yang nyaman, tentram dan damai. Dari sini mulai digambarkan keanehan Thneedville, yaitu pepohonan yang terbuat dari platik dan dipompa dengan angin, juga penjual galon yang isinya udara, bukan air.
Tokoh utamanya, Ted Wiggins (Zac Efron) mempunyai seorang sahabat perempuan, Audrey (Taylor Swift) yang diam-diam ditaksirnya. Ted melakukan berbagai cara agar ia bisa bertemu dan ngobrol dengan gadis pujaannya itu hingga ia mengetahui sahabatnya itu menginginkan untuk melihat keindahan pohon yang asli, bukan plastik seperti yang selama ini mereka lihat. Ya, kehidupan di Thneedville adalah kehidupan yang damai tapi penuh misteri dan terisolir dari dunia luar. Kehidupan yang seolah sempurna tapi sebenarnya tidak.


Ted bertekad akan mewujudkan keinginan Audrey. Satu-satunya orang di rumah yang memahami Ted adalah neneknya (Betty White), yang bercerita bahwa di luar kota masih ada biji pohon. Hal ini membangkitkan semangat Ted untuk menjelajah ke luar dan mencarinya.
Nekad, Ted menerobos batas kota untuk mencari biji itu tanpa mengetahui bahwa ia dimata-matai oleh Mr. Aloysius O’Hare pengusaha udara kaya-raya di kota. Begitu keluar dari pagar pembatas, Ted mendapati kenyataan di sektarnya yang hitam pekat berasap tanpa ada kehidupan, yang ada hanya kayu-kayu tua dan sisa-sisa pabrik berserakan. Ia pun bertemu dengan Mr. Once-Ler yang tidak mau menampakkan wajahnya.

Dengan bujukan Ted, Oncy bercerita bahwa ia lah yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan alam yang terjadi. Dulu ia adalah seorang pecundang yang selalu diremehkan dan tidak dianggap oleh keluarganya, namun mempunyai mimpi untuk menciptakan sesuatu. Pergilah ia hingga menemukan ‘taman surga’ yang dihiasi rerimbunan ‘truffula tree’ dengan daunnya yang berwarna-warni dan sangat lembut. Binantang di sekitarnya pun hidup damai dan rukun. Tanpa dosa, Oncy menebang pohon meski sudah dicegah oleh para binatang. Setelah ia tebang satu pohon tiba-tiba langit menjadi gelap dan muncullah The Lorax, makhluk kecil penjaga hutan yang kembali mengingatkan Oncy untuk tidak menebang pohon. Tapi lagi-lagi dia beralasan hanya menebang sedikit.

Surga 'Truffula Tree' gambar dari sini
Daun pohon yang lembut itu ia pintal dan dijadikan ‘Thneed’ sebuah syal rajutan istimewa yang bisa digunakan untuk apa saja karena seratnya yang alami dan sangat halus. Dengan hasil karyanya itu ia menjual ke kota namun tak seorang pun menanggapi. Hingga ia kedatangan keluarganya yang merasa akan mendapatkan untung darinya. Karena merekalah ia dengan tanpa beban membabat pohon satu-persatu demi meraup keuntungan berlipat-lipat. Oncy tak bia berhenti menebang pohon, hatinya telah dibutakan oleh bujukan keluarganya dan rayuan dollar yang terus mengalir ke tangannya.
Meskipun ada perang batin dalam diri Oncy, tetapi ia selalu menemukan pembenaran bahwa dia hanya mengambil sedikit pohon, dirinya tak seberapa jahat karena ia juga memberikan dana CSR bagi orang di sekelilingnya, dan ia sangat mencintai binatang. Alasan yang terus membuatnya menebang pohon hingga satu-satunya hal yang membuatnya berhenti adalah: POHON TERAKHIR TELAH DITEBANG!

Setelah semua pohon lenyap barulah ia meratap dan menyesal sepanjang hidupnya. Sesal yang tak berguna karena surga itu telah hancur, berganti dengan asap hitam dan tebal dengan sungai yang tercemar limbah hingga tak ada satu pun binatang dan tumbuhan yang bisa hidup di sana.
 
Setelah semua pohon ditebang. sumber gambar disini
Mr. Once-Ler tak mau menyerahkan biji yang ia miliki dan meminta Ted kembali keesokan harinya.
Ted, meskipun telah mendapatkan ancaman dari Mr.O’Hare tetap melanjutkan perburuannya. Ia pun mendatangi lagi Mr.Once-Ler lagi  untuk mendapatkan biji yang tersisa.
Mengetahui hal itu, Mr.Ohare pun mengejar dan berniat membunuh Ted. Adegan lucu terjadi saat kejar-kejaran menyelamatkan biji pohon.

Akhirnya Ted, Ibunya, Neneknya dan Audrey berhasil menyelamatkan benih dan meyakinkan penduduk tentang betapa pentingnya pohon bagi mereka. Ya, selama ini mereka telah dihasut oleh O’Hare si penjual udara bahwa pohon itu menjijikkan dan tak perlu lagi ada pohon karena ia sadar jika ada pohon artinya ada oksigen maka usahanya akan bangkrut.

Saat menonton film ini, tiba-tiba teringat dengan darurat sipil yang tengah dialami masyarakat Indonesia khususnya di beberapa kota di Sumatera dan Kalimantan. Asap yang ditimbulkan oleh ‘kebakaran hutan’ yang notabene adalah ulah oknum yang ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya. Tapi korban dari ulah oknum ini adalah jutaan manusia berikut ekosistem di sekitarnya bahkan mengancam keutuhan hubungan bilateral Indonesia dengan beberapa negara tetangga.
Ah, waktu itu sampai menangis terlebih saat teringat saudara-saudara kita di sana yang tak lagi bisa menghirup udara segar.

Dari film ini aku pun merasa diingatkan lagi untuk lebih menjaga lingkungan sekitar, menanam pohon, menghemat air, dan mengolah sampah agar sumber daya alam terjaga dan tetap ada untuk generasi selanjutnya.
Sebuah ungakapan yang sangat menyentuh diucapkan oleh The Lorax: “Biarkan cintamu bersinar, tanamlah biji di dalam bumi. Let it grow”

"Unless someone like You cares about whole awful lot, nothing is going to get better. It's not"
_Dr. Seuss_

“Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?

 

8 comments:

  1. Film nya keren.. kok bisa ya saya terlewatkan.. hehehe bener bgt mba ini mirip sm kejadian kebakaran hutan skrg. Mereka merasa hanya membakar sedikit pdhl uda semuanya mereka bakar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Ruli.. miris banget ya?

      Di youtube banyak ko mba, kan film th 2012, tapi sy jg baru nonton. Hihi

      Delete
  2. Aku juga suka banegt film ini..rencananga abis.mid semester anak2 mahasiswa.mo kuputerin ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, filmnya ga lama tapi makjleb.
      Oia ini mba Muna sungkar kan ya? Hehe
      Ngajar dimana bu dosen? :)

      Delete
  3. filmnya bagus ya mbak...keren...bisa u referensi u anak2 mendidik juga ya

    ReplyDelete
  4. film ini dibutuhkan pada kondisi kita saat ini, bagus banget untuk mengedukasi masyarakat, terimakasih atas partisipasinya ya

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam