Tuesday, 13 October 2015

Selamat Jalan, May



Sabtu, 10 Oktober 2015 menjelang ashar tiba-tiba mendengar kabar tentang kepergian seorang aktivis kampus Undip, Maya Rizki Analia.
Tahun 2009 itu, aku mengenalnya lewat data mahasiswa baru hasil oprek KMMS (Keluarga Mahasiswa Muslim Sastra), berasa mendapat angin segar karena ada banyak nama. Salah satu nama yang membuatku girang adalah Maya Rizki Analia, yang kata selentingan teman-teman tembalang anaknya santun banget. Alhamdulillah... semoga ia kelak menjadi penerus perjuangan di Rohis, doaku.
Saat bertemu dengannya yang masih malu-malu sempat kutanyakan perihal kebenaran namanya Analia bukan Amalia karena telingaku ternyata lebih familiar dengan nama kedua. Dia membenarkan sambil tertawa.

Tahun 2012, adikku mendapat beasiswa masuk Undip akhirnya aku pun harus mengantarnya ke Semarang, sembari mengenang masa-masa mahasiswa dulu. kalau tidak salah registrasi waktu itu tepat di bulan Ramadhan. Kami menginap di wisma sepupu, tapi malamnya kedatangan beberapa ‘tamu’ yang akan menyelesaikan membuat ‘amunisi’ alias souvenir untuk diberikan kepada Mahasiwa baru yang mampir ke stand UKM Rohis. Karena sedang nganggur, aku pun mencoba menemani Maya yang tengah berjibaku dengan kain perca. Ya, waktu itu sedang nge-trend kanzhashi jadilah kami membuat kerasi bros dari perca itu. Tentu saja sambil ngobrol ngalor-ngidul dan menanyakan kabar teman-teman rohis. Waktu itu sempat kugoda ia ‘calon ibu muslimah Undip’ yang lagi-lagi hanya dijawabnya dengan senyuman.

Setelah itu menjadi lebih sering berkomunikasi karena di kos (wisma islam), dialah yang membina adikku, dan aku pun sering bertanya perihal kondisi di wisma saat itu.
Tahun 2013, tiba-tiba Maya menghubungi, menanyakan agenda kemuslimahan periodeku waktu itu. Hm.. rasanya merasa sangat bersalah karena aku sudah banyak lupa. Kujanjikan akan meminjamkan buku ‘Panduan Pengembangan Potensi Muslimah’ yang diterbitkan oleh Jarmusnas namun karena keterbatasan sampai cukup lama kami baru bisa mengantarkannya, dan ternyata dia sudah mendapatkannya lewat jarmusda Semarang.

Komunikasi setelahnya hanya sebatas tanya kabar lewat SMS/WA dan info-info kegiatan rohis dan sesekali bertemu dalam kegiatan besar se-Kota Semarang. tahu-tahu dapat kabar dia pulang ke Bogor tapi skripsi masih pending, terhenti sejenak untuk pengobatan. Ah, hanya bisa mendoakannya waktu itu, termasuk saat beberapa hari terakhir mendengar kabar kondisinya makin kritis.
Allah lebih sayang padamu, Dek. Engkau berpulang dalam kondisi terbaik setelah mepersembahkan toga sarjana untuk kedua orang tuamu. Semoga tiap tetes keringan dan langkah yang kau tempuh dalam menuntut ilmu, serta langkah ringanmu mengajak kepada kebaikan menjadi jalan engkau sampai ke surgaNya. Aamiin... 

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Ali Imran: 169-170)

2 comments:

  1. Innalilahi wa inna ilahi roji'un...Allah lebih sayang padanya ya mba....semoga khusnul khotimah

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam