Thursday, 15 October 2015

Save Hutan Indonesia



Asap: bencana tahunan ini selalu melanda Indonesia khusunya wilayah dengan hutan terluas seperti di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Penyebabnya? Bisa proses alami karena gesekan dedaunan dan kayu-kayu kering dalam masa kemarau panjang, bisa juga karena human error dalam pembukaan lahan baru.

Tentang pembukaan lahan baru dengan cara pembakaran, tidak hanya 1 undang-undang yang mengaturnya. Dalam peraturan menteri Negara Lingkungan Hidup No. 10 tahun 2010 tentang Mekanisme pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan/atau lahan disebutkan bahwa izin pembakaran hutan untuk perorangan sesuai dengan tradisi masyarakat untuk membuka lahan pertanian adalah maksimal 2 hektar/orang. Ini pun sebenarnya tidak disarankan karena tetap akan memicu kebakaran hutan. Pembukaan lahan tanpa pembakaran (PLTB) adalah solusi yang diberikan oleh pemerintah dan dengan pengawasan ketat.

Namun, nyatanya setiap tahun kejadian asap selalu berulang. Ya, memang hanya sebentar dibandingkan dengan lamanya menikmati bersih sejuknya udara karena supply oksigen dari hutan, tapi meski hanya sebentar selalu memakan korban tak sedikit.korban langsung yang terkena ISPA, korban kecelakaan kendaraan karena jarang pandang menyempit, korban dalam  sisi ekonomi, dan menjadi masalah grobal karena penerbangan ter-delay, distribusi barang dan jasa terkendala, akhirnya bermuara kembali pada permasalahan negara yang tak kunjung selesai.

Dan tahun 2015 ini menjadi daurat sipil asap terpanjang dlam sejarah. Terlebih ditengah peliknya permasalahan yang tengah melanda Indonesia baik dari sektor ekonomi maupun politik. Hal ini tentu menelan korban yang tak sedikit mulai dari balita yang meninggal karena ISPA, anak-anak sekolah yang terpaksa tidak bisa mendapatkan pelajaran hingga para pekerja yang terancam tidak bisa mendapatkan penghasilan karena berbagai kendala setiap harinya. Dampak paling kecil mungkin jarak pandang yang menyempit, tapi ini juga berimbas pada banyak hal lain.

Apa pemerintah tidak punya tindakan preventif
untuk masalah yang setiap tahun pasti ada ini? Hampir serupa dengan banjir yang terjadi di Jakarta dan kekeringan yang melanda banyak wilayah di Indonesia saat musim kemarau. Entahlah, masayarakat kelas bawah hanya bisa melihat dan memberikan aspirasi meskipun belum tentu didengar oleh mereka. Kabarnya untuk penanggulangan asap pemerintah telah mengucurkan dana milyaran rupiah. Apa dengan ini semua permasalahan selesai? Tidak! Atau belum, lebih tepatnya. Karena keterbatasan manusia tidak bisa mematikan selutuh titik api yang ada di sana.

Darurat asap ini semacam fenomena bola salju, dilakukan oleh segelintir orang yang tidak bertanggung jawab dan hanya mementingkan kantong sendiri tapi harus mengorbankan hutan yang luas dan yang seharusnya menjadi kekayaan seluruh rakyat Indonesia, bukan menjadi properti individu/perusahaan.Tak mengapalah jika yang memanfaatkan adalah individu dengan bijak dan secukupnya, tidak mengeksploitasi besar-besaran yang berakibat Indonesia kehilangan ratusan hektar hutan setiap tahunnya. Kondisi ini seperti yang ada dalam film animasi yang baru saya lihat dua pekan yang lalu, tentang seorang pendatang yang menebang kayu di hutan, awalnya hanya sedikit dan selalu merasa sedikit hingga semua pohon habis ditebang.

Dalam suatu tayangan televisi, saya melihat suku terdalam di Papua sangat bijak menjaga hutan. Ketika mereka membutuhkan kayu, maka mereka pergi ke ‘kebun’ dengan membawa meteran panjang dan mengukur lingkar batang pohon itu, jika besarnya kurang dari kesepakatan besar pohon yang boleh ditebang, mereka akan mencari yang lain. Ya, mereka dengan ‘sopan’ menerapkan tebang pilih agar hutannya tetap lestari, mereka yang notabene bukan orang berpendidikan. Lalu?! Manusia-manusia yang menebang pohon dengan semena itu, atau yang mencuri dengan illegal loggingnya, apakah mereka juga orang-orang tak berpendidikan yang punya perusahaan besar?!

Rasanya hanya bisa berdo’a agar mereka mendapat balasan yang setimpal dari Allah, termasuk para korban agar mendapat balasan kebaikan yang berlipat dariNya.
Kami (saya) hanya bisa berdoa dan memberikan sedikit bantuan lain untuk mereka agar hujan penuh berkah segera turun, agar malasah asap ini selesai, agar ada tindakan preventif nyata dari pemerintah sekaligus masayarakatnya supaya tahun depan dan seterusnya tidak ada lagi masalah asap yang mengancam hubungan bilateral Indonesia dengan negara tetangga.  
Foto kondisi asap yang makin parah dan pedih di mata. Palangkaraya 16/10/15

Foto kiriman teman di palangkaraya, sehari setelah kunjungan Bu Menkes

Lalu, bagi masyarakat yang tidak tinggal di daerah itu, apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, mendo’akan mereka.
Kedua, ikut mendorong pemerintah agar segera menyelesaikan permasalahan ini.
Ketiga, Reduce-Reuse-Recycle. Ini tindakan nyata yang bisa dilakukan oleh semua orang. Seperti mengurangi pemakaian barang yang menambah sampah (ex: barang sekali pakai), mengurangi penggunaan plastik, menggunakan kembali barang yang sudah terpakai, usahakan menggunakan wadah foodgrade, mengurangi pemakaian kertas dan barang-barang yang bahan bakunya dari kayu, dll.
Keempat, hemat air. Hemat air mulai dari hal kecil seperti cuci tangan, wudlu, mandi, mencuci, dll agar persediaan air dalam tanah tetap terjaga, tidak habis karena penggunaan yang tidak bijak generasi sekarang.

Yuk, sama-sama menjaga hutan, seperti kata Aa Gym: mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang. 

#SaveHutanIndonesia 
#BlogwalkingBloggerMuslimah.com


22 comments:

  1. Bismiillah. Semoga allah melindung mereka yg terkena paparan asap di sana...

    ReplyDelete
  2. Semoga diri ini bisa mepraktikan; mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang. Terima kasih, mba

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Semoga segera terselesaikan masalah asap ini ya Mba, biar Bunda Sumayyah sekeluarga dan semua warga di sana bisa beraktivitas lagi.
      moga tahun2 berikutnya nggak ada masalah kek gini lagi. aamiin..

      Delete
  4. semoga aja asapnya segera hilang dan semog cepet ujan disana..
    aamiin

    salam
    motorsatria

    ReplyDelete
  5. save hutan indonesia untuk anak cucu! hutan kalimantan udah makin habis itu! ditambah lagi yang sekarang kebakaran. Kalau habis, mau bernafas pake apa kita nanti?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul pak Fahmi,
      Prihatin dg hutan di Indonesia yg makin sedikit

      Delete
  6. Asap ... belum selesai juga ya permasalahannya malah korban yang meninggal mulai bertambah :(
    Tulisannya menarik, Mbak. Di akhirnya ada solusi :)
    Sukses :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba... sediih.. cuma bisa berdo'a :(
      Dapat kabar kakak kelas saya yg di palangka mau dievakusi ke banjarmasin yg berasap tp tdk setebal palangka. Pengennya pulang k Jawa tapi ga bisa jg krn kendala transportasinya

      Delete
  7. Alhamdulilah sekarang sudah mulai hujan ya :-) Semoga tahun depan tidak ada lagi bencana kabut asap ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Uni.. ALhamdulillah... Aamiin.. :)

      Delete
  8. semoga asap, berakhir hanya ditahun ini ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... iya Mba, kasihan kalau tiap tahun ada kebakaran hutan. nambah beban negara juga kan jadinya.. :D

      Delete
  9. Semoga asapnya cepat berakhir dan tidak akan terulang lagi di masa mendatang, aamiin :)

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah sekarang udah berakhir ya mba, semoga nggak kejadian lagi di masa depan. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... semoga asap tahun ini benar2 yg terakhir ya, Mba Amy :)

      Delete
  11. Yang nomor tiga masih terus diupayakan. Alhamdulillah sekarang sudah reda, tapi tulisan ini bisa menjadi bahan perenungan untuk waktu yang akan datang, jangan sampai terulang. Salam kenal dari Yogyakarta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Mba.. ;*
      Sama Mba.. masih berusaha terus untuk melaksanakan ^^ semoga istiqomah

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam