Friday, 16 October 2015

My Hijab My Identity



“Di Semarang kan panas, kamu nggak kegerahan pake kerudung lebar dan pake gamis gitu?”
“Ehm, nggak tuh, gerah mah nggak pake ginian juga tetep kerasa,” jawabku santai, meskipun sebenarnya gerahnya nggak ketulungan.
Ini cuplikan percakapanku dengan salah satu teman kuliah dulu. percakapan biasa, saat ngobrol santai dan akrab bersama teman gank yang sebagian menutup aurat lengkap hingga kaos kaki, sebagian berkerudung kecil memakai rok, ada yang santai ber jeans tapi berkerudung, ada pula yang tomboi dan seorang yang selalu tampil cantik ber-make up dan belum berkerudung. Entah kenapa kami begitu akrab waktu itu. Alhamdulillah, setelah sekian tahun tak bertemu dan hanya berkomunikasi lewat dunia maya, hampir semuanya sudah berjilbab rapi.
Sudah menjadi kodratnya jika segala sesuatu berubah. Dan perubahan butuh proses panjang, baik perubahan positif atau negatif. Mungkin kita heran saat mendapati teman kita berubah menjadi pribadi yang sangat berbeda dengan yang kita kenal dulu, terlebih hidayah Allah siapa yang mengira dan menjamin?
Sejak kecil aku dibesarkan dalam keluarga yang agamis dan sangat kental ke-NU-an nya. Bapak tiap hari mengajar di madrasah diniah, dan Mbah kakung menjadi penceramah di masjid dan beberapa desa sekitar. Untuk urusan pakaian, pendidikan dan pergaulan, Bapak adalah orang yang sangat ketat. Aturan berpakaian yang dibuat bapak untuk anak-anak perempuannya adalah:
Panjang, Longgar, dan pakai rok. Jika mau pakai celana, pakailah kulot dan panjang bajunya harus minimal di atas lutut. Mau pakai celana pun izinnya belibet! Hm... semacam aturan kuno yang menjengkelkan bukan?! Itulah yang kurasakan dulu.
Selalu ada keinginan untuk berpakaian seperti teman-teman yang boleh memakai T-shirt, kaos oblong, celana jeans, dll. Tapi, memang waktu itu kami pun tak punya cukup dana untuk sekedar bergaya. Ya, namanya orang kampung yang hidup pas-pasan, beli baju baru setahun sekali menjelang idul fitri. Hihi. Jadi semacam tradisi H-3 hingga H-1 pergi ke pasar dan menikmati keramaian di sana sembari mencari baju baru.
Pernah juga merasa marah dengan bapak dan ibu yang tidak pernah mengizinkanku membeli baju sesuai keinginan. Lebih sering membeli bahan yang bahkan warna dan coraknya pun tidak kusukai, lalu ibu menjahitkan dengan model tunik sederhana sesuai keahliannya menjahit, maksudku waktu itu ibu hanya bisa menjahit beberapa model baju. Kunoooo....!! batinku.
Selalu dan selalu kuutarakan keinginanku untuk membeli kaos, baju casual, dan celana jeans, tapi sebanyak itu pula bapak menyerangku dengan dalil-dalil dan wejangan tentang menutup aurat yang biasanya hanya kudengar sambil lalu.
Saat SMA, aku mulai lebih mengenal jilbab (ah, lebih enak menggunakan kata jilbab untuk menggantikan kata khimar) syar’i yang menutup dada. Aku pun mulai mencoba melebarkan jilbabku. Maksudnya tentu bukan menyambungnya dengan kain lagi, tapi melipat segitiganya tidak pas di tengah agar kain yang di luar sebagai jilbab lebih lebar. Oia, kain seragamku dulu terbuat dari bahan hero, mirip bahan katun tapi sedikit lebih kaku. Ini bahan yang populer dipakai untuk jilbab pada waktu itu, karena selain harganya lebih murah warnanya pun beragam. Asal tahu saja, jilbabku yang cukup lebar ukuran 115cm*115cm hanya seragam sekolah warna putih dan cokelat tua saja. Di luar itu aku kembali memakai jilbab seadanya.
Gara-gara jilbab lebar ini temanku pernah mengatai aku terlihat seperti anak SMA dari depan, tapi dari belakang seperti ibu-ibu beranak dua. Dueng!! Ah, namanya teman kan suka bercanda, hiburku pada diri sendiri.
Saat melanjutkan kuliah si Semarang, aku dipertemukan dengan komunitas perempuan berjilbab lebar. Hehehe. Nggak ada sebenarnya komunitas itu, cuma aku dulu menyebutnya begitu. Alhamdulillah, berkat mbak-mbak kos yang shalihah cantik dan baik hati aku bisa terus berpakaian syar’i. Bahkan dulu saat stok rok yang hanya tiga biji itu habis, pagi-pagi sudah bersiap berangkat kuliah dengan celana kulot tetiba dicegat salah satu mbak yang secepat kilat meminjamkan rok hitam lebarnya. Aaah...!! terharu mengingat ini. Ada juga yang langganan meminjami jilbab dan baju, bahkan memberi hadiah jilbab lebar. Terimakasih, mbakku semua... *pelukciumsatusatu.
Sejak itulah aku mulai merasakan betapa beruntungnya aku karena sejak kecil dulu orangtua selalu keras dalam masalah pakaian. Ini juga yang membuat selera berpakaianku sampai sekarang hampir tidak berubah. Alhamdulillah....
Perlahan, kerudung-kerudung tipis kucomot dari lemari, berganti dengan kerudung segi empat lebar yang kebanyakan kuperoleh dari hasil berjualan jilbab secara konsinyasi. Iya, keuntungan jualan jilbab lebih sering kupakai untuk membeli jilbab. Lama-lama koleksi kerudung sudah lebih dari cukup, yang artinya tidak perlu beli lagi dalam waktu lama karena awetnya bisa bertahun-tahun.
Tantangan selanjutnya adalah cuaca di Semarang yang cenderung panas, membuat siang hari terasa terpanggang. Apalagi saat jalan kaki pulang kuliah atau ada jadwal kuliah siang. Rasanya ingin buka jilbab dan berhenti di bawah pohon menunggu ada angin sepoi-sepoi (hush!). untuk menyiasati ini kami biasanya sedia payung atau pas melewati ATM dan kebetulan sepi sengaja masuk ke ATM untuk sejenak ngadem, pura-pura cek saldo tabungan, gitulah... Haha.
Dituduh pengikut aliran sesat
Pengikut aliran sesat. Wahab*. Ekstrimis. Itulah berbagai kata yang dilontarkan masyarakat di sekitarku saat aku pulang liburan kuliah dengan penampilan yang berubah: kerudung lebar, rok lebar dan kaos kaki. Berbagai pandangan sinis selalu kuterima saat melintas di depan banyak orang. Bahkan pernah seorang tokoh menyindirku saat beliau mengisi pengajian di masjid. Katanya aku ini menggadaikan keyakinan dengan berpindah mazhab demi mendapat beasiswa kuliah, mana belum nikah juga orangnya. Kalau dipikir-pikir nggak nyambung juga sih si ibu itu, memangnya apa hubungannya saya dapat beasiswa kuliah di Undip, belum menikah dan penampilan yang berubah?! . Hihihi.
Untungnya bapak membelaku saat seorang keluarga memprotes penampilanku. Bapak bilang, imam Syafi’i bahkan mewajibkan bercadar, tidak hanya kaos kaki. Fyuuuh... lega.. ternyata bapak mendukung.
Sejak saat itulah semakin merasa mantap dan nyaman memakai pakaian yang lebar. Alhamdulillah jejakku ini pun diikuti oleh kedua adik perempuanku yang melanjutkan kuliah di Purwokerto dan Semarang. Kini kami selalu kompak, sering memakai baju yang sama atau senada, kerudung lebar, dan kadang sedikit modifikasi/kombinasi warna, agar kami bisa ‘mengatakan’ kepada keluarga besar bahwa berjilbab lebar pun bisa tetap fashionable.
Hijab nyaman di Hati
Hijab yang nyaman di hati tentunya yang sesuai dengan aturan Allah, syar’i itu syarat utamanya. Menutup dada itu wajibnya, dan mengulurkannya ke bawah itu sunnah. Sebelum menikah, sangat nyaman memakai blouse, rok lebar dengan dalaman kulot, dan kerudung segiempat. Dengan penampilan seperti ini bisa bebas keman-mana dan nyaman hangout kemana aja. Kerja, ngaji, ke perpus, main ke gunung, jalan kaki pulang-pergi kerja, ngajar les, dll. Benar-benar pakaian multifungsi.
Setelah menjadi emak-emak, ternyata selera selera sedikit berubah, lebih karena tuntutan profesi agar simpel dan tidak ribet. Hijab yang nyaman itu yang mudah dipakai, akses menyusuinya gampang, bahannya adem nyaman tidak mudah kusut, dan bawah tetap lebar agar bisa ‘pencilakan’ keman-mana. Hihi nggak ding, biar bisa main sama anak yang suka lari-larian maksudnya.
Untuk khimarnya sekarang juga jarang pakai yang segiempat kecuali untuk datang ke acara yang formal. Saat mengintip lemari pun sambil senyum-senyum karena tumpukan khimar segiempatnya hampir tidak pernah berubah. Lebih banyak pakai bergo-bergo kaos untuk di rumah dan khimar semi instan bahan cerutty untuk pergi-pergi. Iya, punya balita yang masih nge-ASI memang kudu waspada dengan peniti dan jarum-jarum yang biasanya akrab dengan hijaber. 
d' sisters. tebak aku yang mana? hihi
Sejatinya, berhijab itu adalah bentuk ketaatan pada yang memberi kehidupan, untuk membentengi diri dari perbuatan maksiat, dan menjadi pengingat agar senantiasa menghiasi diri dengan akhlaqul karimah.
Mau dalam kondisi apapun, berhijab itu wajib bagi setiap muslimah. So, nggak perlu dibikin ribet dan harus ngikutin trend kekinian dalam busana muslimah. Jika ada rejeki cukup untuk itu, alhamdulillah dan kenapa nggak? tapi alangkah lebih baik jika dialokasikan untuk yang lain daripada sekadar mengoleksi baju di lemari. Jika tidak ada? Ya syukuri apa yang ada karena prinsip syar’i itu tidak terbatas pada model dan waktu. Setuju?! Mari berhijab, because hijab is muslimah identity.
Tulisan ini diikutkan dalam GiveAway #HijabNyamandiHati

20 comments:

  1. Assalamu'alaikum..Berkunjung.
    Tulisan yang sunggug direkomendasikan ke para muslimah.
    InshaAllah, aamiin..^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumussalam... terimakasih sudah berkunjung kemari Mba Zalwa..

      Aamiin... :)

      Delete
  2. Aku selalu seneng deh liat perempuan yg jilbabnya syari kaya mbak Arina..doakan supaya aku bisa segera nyusul mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... Yaa Rabb...
      semoga dimudahkan Mba Muna.. :*

      Delete
  3. Mba yg ditengah bukan ? hehe
    Sama mba saya sejak punya bayi juga sukanya yg simple kyk jilbab instan gtu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. 100 buat Mba Izzawa, 1000 buat saya. wkwkwkwkwk
      saya yang kiri mba, jilbab ungu. yang tengah dan kanan adik2 saya :)

      itu kebetulan pas idul fitri, jalan silaturrahim ke orang sekampung saya kecapekan gendong sikecil yang cukup ndut jadi digantiin sama Buliknya itu yg pake kacamata :D

      Delete
  4. Sama mba, bapak ku juga mengharuskan ku pakai baju dan celana longgar dan harus panjang, gak boleh pakai yang pendek pendek, rambut juga harus panjang.. Hihhii.. Begitulah versi sopan dan pakaian wanita menurut ayah aku. Betul itu mba, bagus. Semoga Istiqomah ya. Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... makasih Mba Asti :)

      Iya Mba.. sama banget deh. pernah pengen potong rambut pendek, aku potong aja kek model cowok toh kalo keluar ga kelihatan krn pake jilbab. tapi begitu bapak tahu langsung dimarahin, cuma udah dipotong ya mau gimana lagi, dinasihatinnya jangan diulangin lagi potong pendek :D

      Delete
  5. di semarang yang fanas hanget inih (sampai lebay ngomongnya hehehe)
    jilbab dan baju lebar justru memberi perlindungan yang ya mbak :)
    walau pernah dibilang seperti 'karung'
    *ihiks*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi. Iya mba Diah...
      Ngelindungin biar kulit item manisku (minta ditimpuk nih) ga makin gosong. Ups

      Delete
  6. Jadi ingat waktu smp diminta bapak, masuk SMA sudah harus pakai kerudung/jilbab.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebaikan emang harus dipaksakan &dibiasakan ya mba.. biar lama2 jd kebiasaan

      Delete
  7. Aku pakai hijab saat masih jadi mahasiswi juga, bapak dan keluarga malah yang cemas dengan penampilangku.Kalo ibu sih mendukung, dengan bikinin aku gamis dan rok panjang.

    ReplyDelete
  8. Replies
    1. Hehehe.
      terimakasih sudah berkunjung, Pak Didik

      Delete
  9. Semoga istiqomah. Mudah-mudahan sukses GA-nya.

    ReplyDelete
  10. Assalaamu'alaykum... Ikutan mampir... :)
    Subhaanalloh bagus bgt tulisannya..
    Baarokallaahufiik...
    Kalo foto2 brg jualannya dmna dik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumussalam... Trimakasih mba, sdh kesini :)
      Kalo barang jualan di instagram/fb sama sebagian di www.jualclodisemarang.blogspot.com

      Oia mba, dulu awal kenal dg jilbab lebar, akhwat, termasuk PK* gara2 sering dipinjamin buku&majalah annida sama Istiqomah. Jazakillah khair ya Mba2nya Iis yg rajin kirim buku ^^
      Dari situ sy jd pengen nulis, sampe skrg :)

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam