Thursday, 29 October 2015

Semangat Sumpah Pemuda Ala Blogger

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2015

Soempah Pemoeda
Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Membayangkan saat diproklamasikannya sumpah pemuda ini, rasanya dada bergemuruh tersihir semangat para pemuda Indonesia pada waktu itu, yang bersatu padu demi kemerdekaan Indonesia dan mengusir penjajah. Setelah 87 tahun, semoga semangat itu masih menggebu di dada para pemuda Indonesia saat ini. *sambil ngelirik anak-anak alay di sekitar.

Eniwey baswei, mungkin karena jarak waktu yang sudah semakin jauh, tentu perjuangannya berbeda dengan waktu itu. Saat ini pemuda (kalo saya emak-emak tapi umur masih muda nih.. *timpuk) menghadapi tantangan global yang lebih berat dibanding perjuangan fisik. Bukan menyepelekan perjuangan para pahlawan pada masa kemerdekaan, maksudnya kalau sekarang bukan eranya perjuangan fisik, gitu.. piss Bro!

Tantangannya adalah sesuatu yang tidak tampak alias maya. Ya, dunia maya banyak meracuni otak masyarakat Indonesia, meskipun kegunaan dan kelebihannya sangat banyak tentu tak bia dipungkiri efek negatif dari internet. Berbagai kasus kriminalitas, pornografi, trafficking, pelecehan, dll bisa terjadi ‘hanya’ karena internet. Untuk itu masing-masing kita harus pandai-pandai memanfaatkan tanpa harus terjerumus ke dalam sisi negatifnya. Terlebih anak-anak yang notabene adalah generasi penerus kita.

Banyak juga pemuda yang berhasil memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk membuka lapangan kerja bagi ribuan orang. Contohnya ya ojek online yang sedang nge-hits itu, atau situs dagangan online yang setiap orang bebas ngelapakin dagangannya, bisa juga menyediakan berbagai sarana penunjang pendidikan, dan seabrek peluang lainnya yang bisa diambil agar bermanfaat bagi banyak orang.

Tuesday, 27 October 2015

Travelling Nyaman dan Aman Bersama Keluarga



Belum lama ini saya dan keluarga melakukan perjalanan yang cukup singkat Semarang – Jakarta PP.  Total hanya sekitar 48 jam perjalanan darat yang ditempuh dengan menggunakan mobil Avanza. Kami pilih Avanza karena mobil ini sangat mudah kami dapatkan baik di rental mobil maupun dari tetangga/teman. Memang ini  mobil keluarga Indonesia banget.

Perjalanan kami waktu itu dalam rangka tugas suami yang bekerja di lembaga sosial. Mobil yang sebenarnya bisa diisi 7 orang ini, hanya berisi 4 orang dan seorang bayi usia 1,5 tahun. Di bagian depan ada suami yang merangkap sopir dan satu penumpang, bagian tengah ada saya bersama bayi dan di bagian belakang ada 1 lagi penumpang. Rasanya seperti punya tempat tidur berjalan karena masing-masing kami bisa dengan leluasa selonjoran kaki di dalam mobil. Memang sih, menjadikan mobil debagai tempat tidur berjalan itu tidak aman, tapi kalau kondisi seperti ini kan sayang juga kalau tidak dimanfaatkan, hehe.

Kami bertolak dari Semarang sekitar pukul 21.00, begitu berangkat karena sikecil belum tidur suami langsung memasang lagu anak-anak kesukaannya yang sudah tersimpan di flashdisk, membuat sikceil makin ceria di atas mobil dan ikut joged-joged mengikuti irama lagu yang rancak. Kami pun merasa aman dan nyaman karena tidak terasa getaran mobil dan suara dari luar. 

Setelah sikecil tertidur dan tingal orang dewasa yang melek, suami mulai mencari gelombang radio agar selalu ada suara yanng menemaninya, terutama lagu dangdut yang musiknya jedag-jedug menghentak agar sedikit mengusir kantuk. Maklum, waktu itu weekday dan suami bahkan baru berisitirahat sejenak setelah pulang dari kantor langsung bersiap berangkat ke Jakarta. Iya, salah satu alasan ngajak saya adalah ada tukang pijat gratis dan teman ngobrol asyik di mobil dengan banyak fitur itu.

Sunday, 25 October 2015

My Trip My Adventure

Ada yang hobi perjalanan naik motor atau touring? Wah, rasanya pasti menyenangkan sekaligus melelahkan. Baru-baru ini kami (suami, anak dan saya) melakukan perjalanan pulang kampung ke Wonosobo dengan mengendarai motor. Kedengarannya biasa aja gitu ya? Hihi. Bagi yang biasa naik motor sih memang biasa, tapi bagi saya yang lebih suka naik kendaraan umum, perjalanan kali ini jadi luar biasa karena meskipun dulu kuliah di Semarang tapi belum pernah pulang-pergi Semarang Wonosobo dengan kendaraan roda dua. Lebih asyik naik bis karena bisa ditinggal tidur dan santai ngemil.
Tapi kalo naik bis rasa petualangan ‘My Trip My Adventure’ nya kurang berasa. Ehm. Agak gimana rasanya saat menuliskan judul di atas, karena kalimatnya sama persis dengan acara Televisi yang masih nge-hits sampai sekarang.

Sempat terfikir mau menulis judul ‘mudikku petualanganku’ tapi kurang sreg di hati. Sudahlah, intinya sih perjalanan kemana pun termasuk perjalanan pulang kampung adalah bagian dari travelling kami.
Beberapa kali pulang ke Wonosobo dapat nyaman karena ada pinjaman mobil, sesekali harus nyoba naik motor lah, kalau belum punya mobil sendiri, apalagi sedang masa efisiensi seperti ini. Ups.

Saturday, 24 October 2015

Sakinah Hingga Jannah



Menikah, bukanlah perkara mudah dan bukan pula adu cepat dimana pemenangnya adalah siapa yang sampai lebih dulu. bukan, sama sekali bukan. Menikah adalah permulaan dari sebuah perjalanan panjang sepasang anak manusia. 

Mengutip istilah pakar parenting dan keluarga, Cahyadi Takariawan, menikah seperti naik roller coaster. Saat posisi kita berada di kursi penonton apakah takjub? Penasaran? Ada keinginan sangat kuat untuk ikut ke sana? Barangkali itu yang kita rasakan. Namun ketika kita sendiri yang berada di atas, barulah kita pahami bahwa menikah itu tak mudah seperti yang dibayangkan. Ada kalanya jalanan landai, ada kalanya harus jungkir balik dan teriak histeris, ada kalanya naik lalu terjun bebas dan kembali tenang. Semuanya akan dilalui sampai garis finish, selalu dengan harapan yang sama: sakinah hingga Jannah-Nya.

Menikah selain sebagai ibadah bernilai besar setengah agama, juga ibadah yang berat karena adanya janji di hadapan Allah dan pemindahan tanggung jawab seorang perempuan dari ayahnya kepada laki-laki yang menjadi suaminya. Penyatuan itu juga mengharuskan adanya hak dan kewajiban masing-masing dalam membina rumah tangga. Untuk itu sangat penting bagi siapa saja untuk membekali diri dengan ilmu seputar pernikahan dan rumah tangga.

Sejak kapan harus belajar ilmu tentang pernikahan? Jawabannya adalah sedini mungkin sebelum menikah. Kenapa? Karena jika hari H telah ditentukan waktu yang tersisa untuk mencari ilmu sangat pendek, lebih-lebih sudah disibukkan dengan pernak-pernik persiapan perhelatan.

Persiapan ilmu menikah bukan berarti berandai-andai dan membayangkan kehidupan pernikahan yang mudah dan indah, juga bukan masa untuk membayangkan menikah dengan si fulan atau fulanah.

Ya, saya pun pernah pada posisi yang sama saat keinginan menikah begitu menggebu namun belum ada kemampuan untuk melangkah ke sana. Solusinya? Puasa dan memberbanyak aktivitas positif, dengan tetap mengumpulkan ilmu seputar rumah tangga dan pernikahan.
 
Sayap-sayap Sakinah. _dok.pribadi_ *fokus bukunya, abaikan yang lain. hehe
Sayap-sayap sakinah, buku duet Afifah Afra dengan Riawani Elyta ini menjadi semacam buku wajib bagi yang tengah mempersiapkan pernikahan dan yang sudah menikah. Menyiapkan diri baik sudah ada seseorang yang melamar maupun masih tahap merayu Allah dengan do’a-do’a.

Buku ini menyadarkan kita (eh, saya) pentingnya untuk menjejak bumi meski impian setinggi langit. Ya, dalam salah satu bab di sini Mba Afra bercerita tentang impiannya bersanding dengan seorang ikhwan yang bla..bla..bla.. namun Allah memberikan orang yang ternyata berbeda dengan impiannya. Jika sudah begini, apa akan memprotes Allah? Atau menyerah dengan kondisi? Padahal seringkali Allah memberikan sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan meskipun tidak kita inginkan. Atau bisa jadi Allah tengah menguji dengan sesuatu yang tidak disukai yang tentunya belum tentu tidak baik. Dan sunnatullah, penyatuan dua insan yang berbeda ini butuh pengorbanan dan pengertian, butuh saling melengkapi dan mengisi agar seimbang dan sempurna. Kisah-kisah pernikahan yang disuguhkan membuat kita makin siap menghadapi tantangan yang (pasti) akan dihadapi meski berbeda porsi dan masalahnya.

Bahasan dalam bukunya pun telah tersusun rapi mulai dari episode mencari calon pendamping dan menyiapkan pernikahan hingga tips rumah tangga awet hingga kakek-nenek. Disertai dengan dalil Alqur’an dan hadits, bukti dan hasil penelitian dari beberapa pakar, juga kisah-kisah nyata seputar pernikahan membuat pembaca tidak bosan saat menikmatinya. 

Sst... saat sedang kesal dengan suami, buku ini juga sering jadi ‘pelarian’ saya untuk mendapat pencerahan. Sampai bukunya lecek keseringan dibuka.   Pencerahan lewat catatan-catatan kecil dan puisi di setiap bab-nya maupun kisah dan isi di dalamnya. Setelah lega baru menyambut suami dengan senyuman.

Segar Gurih Es Marem Amelia



Jika berjalan menyusuri wilayah Kota Semarang, pasti mata kita akan mendapati penjual es dengan tulisan ‘ES MAREM’. Awalnya kupikir ini es khas Semarang, mungkin terlebih saat melihat salah satu gerobak es ini berjudul ‘Es Marem Khas Semarang’.

Penasaran saya pun mendatangi sebuah kedai Es marem di daerah Jembatan III Tlogosari, Es Marem Amelia namanya. Waktu melihat menu yang tersedia, ternyata sama saja dengan es campur lainnya.
Iseng tanya ke penjualnya kenapa namanya es marem,

Friday, 23 October 2015

Aku Mencintai Suamimu



Bagi seorang perempuan, terutama istri bagaimana rasanya jika ada seseorang wanita yang tiba-tiba menghampiri dan mengatakan ‘Aku mencintai suamimu’. Apa hendak dikatakan? Marah? Tersinggung? Atau malah mempersilakan wanita itu untuk tetap mencintai suaminya?

Ya, mencintai memang fitrah, sunnatullah yang akan muncul dalam setiap hati manusia normal. Mungkin ia berupa simpati, empati, atau entah rasa apa yang sulit dijelaskan tapi membuat hati hangat, pikiran dan do’a tertuju pada yang dicinta. Ah, memang tak akan habis dan tak akan sempurna mengungkapkan tentang cinta, meskipun seluruh kata telah terucap.
Sebagian mungkin tak sudi mempersilakannya untuk tetap mencintai suami tercinta. Meskipun jika wanita itu yang lebih dulu mencintai. Meskipun wanita itu telah lebih jauh mengorbankan apa yang dia punya untuk seseorang yang sekarang menajdi suami orang lain.
Biarkan saja, toh pernikahan yang menjadikan halal, bukan segala bentuk hubungan sebelum ikrar suci itu diucapkan...

Tidak-tidak. Tidak sesederhana itu; karena dalam pernikahan ada hati yang lebih berat melepas ankanya selain ayah dan ibumu. Iyalah ibu suamimu. Sangat pantas jika ia berkata ‘AKU MENCITAI SUAMIMU’

Ya, laki-laki yang sejak dalam kandungan telah ia bela, telah ia rawat sedemikian kasih bahkan jika nyawa taruhannya pun akan diberikan, tiba-tiba setelah dewasa ia harus membagi cintanya pada wanita yang bahkan baru saja dikenalnya. Oh, tentu sakit menjadi seoarng ibu yang terduakan.
Mertua. Satu kata ini sering menjadi momok bagi perempuan yang hendak menikah, takut mertuanya galak, takut begini begitu yang semuanya hampir menyalahkan mertua. Tapi kenyataannya tak sedikit mertua yang baik hati dan sayang anak menantunya. Tak jarang pula menantu yang jahat kepada mertuanya.

Bagaimanapun, ia adalah orangtua kita. Perempuan yang telah melahirkan dan menyayangi suami kita. Kewajiban seorang istri adalah taat pada suaminya, dan kewajiban seorang anak laki-laki adalah taat kepada ibunya. Maka sampai kapanpun, kewajiban suami adalah untuk menaati ibunya dalam kebaikan. Untuk itu para istri, mari kita bantu suami agar tetap berbakti kepada ibunya. Dan tak lupa tetap berbakti kepada orangtua.

Allahummaghfirlana waliwalidaina warhamhum kamaa rabbayana shaghira..
Yaa Allah... sayangilah orangtua-orangtua kami seperti mereka menyayangi kami sejak kecil. Aamiin..

Thursday, 22 October 2015

Kerupuk Melarat



Apa sih, kerupuk melarat itu? Jangan-jangan kerupuk yang bikin melarat siapa aja yang makan?! Syerem amat. Hei! Bukaan!! Hihi. Salah besaar!!
Istilah kerupuk melarat ini karena proses memasaknya yang tidak menggunakan minyak goreng sehingga lebih hemat. Ada juga yang menyebutnya kerupuh miskin atau kerupuk non kolestrol.
Nggak digoreng pakai minyak trus pakai apa dong?! Pakai pasir. Ha?! Pasiir?!
Ssst... tenang... dalam sebuah acara di TV tentang penjelajahan seseorang sembari membuat makanan tradisional, pernah ditayangkan proses pembuatan kerupuk melarat ini. Semua bahan dan prosesnya masih dilakukan secara tradisional.
Bahan utamanya adalah pati singkong beserta bumbu seperti garam, bawang putih dan terasi. Setelah adonan dibuat selanjutnya dikukus lalu dijemur dibawah sinar matahari hingga kering. Setelah kering barulah digoreng menggunakan pasir. 
Kerupuk melarat. dok. pribadi
Proses penggorengannya semi modern, dengan alat seperti tabung dilengkapi dengan tuas pemutar sehingga cukup memasukkan kerupuk mentah ke dalamnya, putar dan aduk-aduk setelah matang dan mengembang diangkat dan dikemas, siap untuk dijual.
Tenang, pasir yang digunakan adalah pasir bersih yang berwarna hitam mengkilat, tidak ada kandungan tanahnya, jadi aman.
Oia, kerupuk pasir ini banyak di daerah pantura mulai dari Tegal hingga Kendal. Di Tegal ada kerupuk antor, kerupuk goreng pasir warna putih dengan bumbu gurih yang terbuat dari bawang putih dan kelapa sangrai. Di Pekalongan, Pemalang, Batang dan Kendal bentuk dan rasa kerupuknya hampir sama. Warnanya pun cenderung sama yaitu putih, kuning dan merah muda.
Kerupuk melarat ini sangat nikmat dimakan berteman rujak buah dengan sambal yang pedas, sedikit asam dan legit. Hm... rasanya meledak di lidah. Nikmat juga untuk melengkapi sambal brambang atau sambal pecel. Ingin mencobanya? Yang tidak suka pedas enak juga dimakan langsung.

Friday, 16 October 2015

My Hijab My Identity



“Di Semarang kan panas, kamu nggak kegerahan pake kerudung lebar dan pake gamis gitu?”
“Ehm, nggak tuh, gerah mah nggak pake ginian juga tetep kerasa,” jawabku santai, meskipun sebenarnya gerahnya nggak ketulungan.
Ini cuplikan percakapanku dengan salah satu teman kuliah dulu. percakapan biasa, saat ngobrol santai dan akrab bersama teman gank yang sebagian menutup aurat lengkap hingga kaos kaki, sebagian berkerudung kecil memakai rok, ada yang santai ber jeans tapi berkerudung, ada pula yang tomboi dan seorang yang selalu tampil cantik ber-make up dan belum berkerudung. Entah kenapa kami begitu akrab waktu itu. Alhamdulillah, setelah sekian tahun tak bertemu dan hanya berkomunikasi lewat dunia maya, hampir semuanya sudah berjilbab rapi.
Sudah menjadi kodratnya jika segala sesuatu berubah. Dan perubahan butuh proses panjang, baik perubahan positif atau negatif. Mungkin kita heran saat mendapati teman kita berubah menjadi pribadi yang sangat berbeda dengan yang kita kenal dulu, terlebih hidayah Allah siapa yang mengira dan menjamin?
Sejak kecil aku dibesarkan dalam keluarga yang agamis dan sangat kental ke-NU-an nya. Bapak tiap hari mengajar di madrasah diniah, dan Mbah kakung menjadi penceramah di masjid dan beberapa desa sekitar. Untuk urusan pakaian, pendidikan dan pergaulan, Bapak adalah orang yang sangat ketat. Aturan berpakaian yang dibuat bapak untuk anak-anak perempuannya adalah:

Thursday, 15 October 2015

Save Hutan Indonesia



Asap: bencana tahunan ini selalu melanda Indonesia khusunya wilayah dengan hutan terluas seperti di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Penyebabnya? Bisa proses alami karena gesekan dedaunan dan kayu-kayu kering dalam masa kemarau panjang, bisa juga karena human error dalam pembukaan lahan baru.

Tentang pembukaan lahan baru dengan cara pembakaran, tidak hanya 1 undang-undang yang mengaturnya. Dalam peraturan menteri Negara Lingkungan Hidup No. 10 tahun 2010 tentang Mekanisme pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan/atau lahan disebutkan bahwa izin pembakaran hutan untuk perorangan sesuai dengan tradisi masyarakat untuk membuka lahan pertanian adalah maksimal 2 hektar/orang. Ini pun sebenarnya tidak disarankan karena tetap akan memicu kebakaran hutan. Pembukaan lahan tanpa pembakaran (PLTB) adalah solusi yang diberikan oleh pemerintah dan dengan pengawasan ketat.

Namun, nyatanya setiap tahun kejadian asap selalu berulang. Ya, memang hanya sebentar dibandingkan dengan lamanya menikmati bersih sejuknya udara karena supply oksigen dari hutan, tapi meski hanya sebentar selalu memakan korban tak sedikit.korban langsung yang terkena ISPA, korban kecelakaan kendaraan karena jarang pandang menyempit, korban dalam  sisi ekonomi, dan menjadi masalah grobal karena penerbangan ter-delay, distribusi barang dan jasa terkendala, akhirnya bermuara kembali pada permasalahan negara yang tak kunjung selesai.

Dan tahun 2015 ini menjadi daurat sipil asap terpanjang dlam sejarah. Terlebih ditengah peliknya permasalahan yang tengah melanda Indonesia baik dari sektor ekonomi maupun politik. Hal ini tentu menelan korban yang tak sedikit mulai dari balita yang meninggal karena ISPA, anak-anak sekolah yang terpaksa tidak bisa mendapatkan pelajaran hingga para pekerja yang terancam tidak bisa mendapatkan penghasilan karena berbagai kendala setiap harinya. Dampak paling kecil mungkin jarak pandang yang menyempit, tapi ini juga berimbas pada banyak hal lain.

Apa pemerintah tidak punya tindakan preventif

Tuesday, 13 October 2015

Selamat Jalan, May



Sabtu, 10 Oktober 2015 menjelang ashar tiba-tiba mendengar kabar tentang kepergian seorang aktivis kampus Undip, Maya Rizki Analia.
Tahun 2009 itu, aku mengenalnya lewat data mahasiswa baru hasil oprek KMMS (Keluarga Mahasiswa Muslim Sastra), berasa mendapat angin segar karena ada banyak nama. Salah satu nama yang membuatku girang adalah Maya Rizki Analia, yang kata selentingan teman-teman tembalang anaknya santun banget. Alhamdulillah... semoga ia kelak menjadi penerus perjuangan di Rohis, doaku.
Saat bertemu dengannya yang masih malu-malu sempat kutanyakan perihal kebenaran namanya Analia bukan Amalia karena telingaku ternyata lebih familiar dengan nama kedua. Dia membenarkan sambil tertawa.

Tahun 2012, adikku mendapat beasiswa masuk Undip akhirnya aku pun harus mengantarnya ke Semarang, sembari mengenang masa-masa mahasiswa dulu. kalau tidak salah registrasi waktu itu tepat di bulan Ramadhan. Kami menginap di wisma sepupu, tapi malamnya kedatangan beberapa ‘tamu’ yang akan menyelesaikan membuat ‘amunisi’ alias souvenir untuk diberikan kepada Mahasiwa baru yang mampir ke stand UKM Rohis. Karena sedang nganggur, aku pun mencoba menemani Maya yang tengah berjibaku dengan kain perca. Ya, waktu itu sedang nge-trend kanzhashi jadilah kami membuat kerasi bros dari perca itu. Tentu saja sambil ngobrol ngalor-ngidul dan menanyakan kabar teman-teman rohis. Waktu itu sempat kugoda ia ‘calon ibu muslimah Undip’ yang lagi-lagi hanya dijawabnya dengan senyuman.

Setelah itu menjadi lebih sering berkomunikasi karena di kos (wisma islam), dialah yang membina adikku, dan aku pun sering bertanya perihal kondisi di wisma saat itu.
Tahun 2013, tiba-tiba Maya menghubungi, menanyakan agenda kemuslimahan periodeku waktu itu. Hm.. rasanya merasa sangat bersalah karena aku sudah banyak lupa. Kujanjikan akan meminjamkan buku ‘Panduan Pengembangan Potensi Muslimah’ yang diterbitkan oleh Jarmusnas namun karena keterbatasan sampai cukup lama kami baru bisa mengantarkannya, dan ternyata dia sudah mendapatkannya lewat jarmusda Semarang.

Komunikasi setelahnya hanya sebatas tanya kabar lewat SMS/WA dan info-info kegiatan rohis dan sesekali bertemu dalam kegiatan besar se-Kota Semarang. tahu-tahu dapat kabar dia pulang ke Bogor tapi skripsi masih pending, terhenti sejenak untuk pengobatan. Ah, hanya bisa mendoakannya waktu itu, termasuk saat beberapa hari terakhir mendengar kabar kondisinya makin kritis.
Allah lebih sayang padamu, Dek. Engkau berpulang dalam kondisi terbaik setelah mepersembahkan toga sarjana untuk kedua orang tuamu. Semoga tiap tetes keringan dan langkah yang kau tempuh dalam menuntut ilmu, serta langkah ringanmu mengajak kepada kebaikan menjadi jalan engkau sampai ke surgaNya. Aamiin... 

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Ali Imran: 169-170)