Wednesday, 30 December 2015

Mundur Selangkah Untuk Melesat Maju


Sumber gambar 
Passion. Satu kata tersebut akhir-akhir ini menjadi booming. Banyak orang sukses karena passion-nya, yang bisa jadi awalnya hanya dianggap sebelah mata oleh banyak orang. Ada alasan seseorang resign dari perusahaan besar tempatnya mendapat gaji tinggi selama ini; ada pula seorang kawan yang menolak tawaran dari sebuah BUMN ternama dan memilih untuk mengikuti program mengajar di daerah terpencil karena satu kata: Passion.

Bicara tentang passion juga, membuatku teringat sebuah fragmen kehidupan seorang gadis kecil. Seorang gadis yang dibesarkan oleh orangtua dari keluarga petani sederhana cenderung kekurangan di sebuah kota kecil yang dingin. Berjualan nangka potong hasil panen sendiri, ikut panen sayur lalu menjualnya ke pasar, memetik kopi dan hasil penjualannya untuk membeli buku, dan banyak aktivitas di sawah yang membuatnya merasakan betapa hidup itu tak mudah. Ia pun bertekad untuk bisa sekolah tinggi dengan biaya sendiri, atau mencari beasiswa agar kuliah gratis.

Saat akan memasuki dunia perguruan tinggi memang ada tawaran beasiswa, tapi waktu itu hanya untuk tahun pertama. Tahun selanjutnya harus mendaftar lagi sambil menahan malu karena disangka berbohong, mengatakan pernghasilan orangtua hanya Rp.500.000,- perbulan. Iya, karena bisa kuliah adalah sebuah keajaiban baginya. Dan perihal penghasilan perbulan yang jika dinalar tidak mencukupi untuk kebutuhan itu, disinilah logika tidak bisa mengkalkulasi karena akuntansi Allah yang lebih bermain. Ternyata dalam perjalannanya banyak rejeki dari jalan yang tak disangka-sangka.

Ia pun mencari penghasilan dari mengajar les privat, membuat pernak-pernik, berjualan jilbab, sampai jualan krupuk dan pulsa. Mungkin memang passion-nya adalah berdagang.
Sejak SD, kecintaannya pada pelajaran Bahasa Indonesia menggiringnya untuk menyukai belajar mengarang, menulis puisi, dan melahap buku-buku cerita di perpustakaan sekolah. Saat SMP ia mulai mengenal diary dan makin cinta dunia menulis. Di bangku SMA beberapa kali mengikuti lomba menulis meskipun selalu gagal.

Saat menentukan jurusan masuk kuliah, bukan dengan pertimbangan yang matang, ya karena semacam cultural shock atau euforia bisa mengikuti SNMPTN yang untuk mengharapkan saja ia ketakutan. Hanya karena suka pelajaran Bahasa Inggris, ia pun melingkari jurusan yang satu itu.

Tahun pertama ibarat bumerang baginya. Salah jurusan. Itu yang ia rasakan. Tapi, mau bagaimana lagi?! Jika tidak diteruskan, sayang dengan beasiswa dan biaya yang sudah dikeluarkan untuk registrasi dan lain-lain. Ingin pindah jurusan ke Bahasa Indonesia, tapi itu artinya harus mengulangi lagi SNMPTN dan belum tentu ia akan mendapat kursi di PTN yang sama. Dan ia memilih untuk bertahan, demi orangtua yang telah berjuang mati-matian untuknya.

Saturday, 26 December 2015

KEEP CALM and LET'S SELFIE with OPPO R7s

dok.pribadi
Hobi selfie tapi kamera hape nggak mendukung hobi? Duh... rasa kiamat dunia ini. Terlebih disaat semua orang membutuhkan gadget yang satu ini. Smartphone yang bisa melayani semua keperluan digital penggunanya. Eksekutif butuh untuk membuat jadwal meeting, menyimpan hasilnya, menyusun project, dll. Seorang blogger pun membutuhkannya untuk meyusun tulisan, mengambil foto, dan memosting tulisannya di blog. Seorang ibu membutuhkannya untuk mencari informasi seputar perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya, mencari inspirasi resep masakan, juga sebagai media pembelajaran bagi sikecil. Seorang penjual online pun sangat membutuhkan untuk menciptakan foto yang menarik pembeli, juga untuk memasarkan produknya. Dan semuanya pun membutuhkan media sosial untuk berkomunikasi dengan orang terdekat maupun dengan kolega dan sebagai sarana menambah teman baru lewat berbagai komunitas.
Dampaknya, setiap orang menginginkan untuk eksis di dunia maya (baca: media sosial) dan makin banyak bermunculan foto selfie-wefie-groufie dalam setiap moment. Ngetrip nggak ada foto, ibarat makan tanpa garam, begitu istilahnya. Mau makan, habis masak, nikah, punya anak, anak bisa merangkak, anak bisa jalan, wisuda, dan semua moment dalam hidup akan meninggalkan kenangan lewat foto. Selfie?! Siapa takut?! Karena tidak semua orang bisa pergi bersama teman, dan saat bersama-sama pun akan lebih mengasyikkan jika semua orang masuk frame, tidak ada yang berkorban menjadi ‘tukang foto’.
Tampilan mewah nan elegan OPPO R7s
Baru-baru ini, OPPO mengeluarkan produk barunya yaitu OPPO R7s dengan tagline Style In a Flash. Fitur andalannya adalah kamera dengan resolusi tinggi. Yup! Saat berkesempatan mencoba smartphone seri ini, benar-benar langsung jatuh cinta dan tak tega melirik HP butut yang sekarang masih menemani. Bahkan sikecil Hasna yang belum genap 2 tahun pun langsung asyik ber-selfie ria sana-sini dan kegirangan melihat wajah imutnya makin gemsin di layar. Ah, iya tentu saja HP bundanya langsung dilempar.

Wednesday, 23 December 2015

Nostalgia Putih-Abu

Foto Bareng Kakak Sepupu (Tinggal foto ini yg masih ada)  Dok. Pribadi
Kata orang, masa SMA adalah masa paling menyenangkan yang menyimpan sejuta kenangan, tapi tidak menyenangkan buatku.  Masa itu aku mengalami kekecewaan yang luar biasa di masa kelulusan karena masalah hati. *uhuk* Meskipun bukan masa paling menyenangkan, tapi benar jika masa itu jadi masa penuh kenangan.
Jika masa putih-merah sampai putih-biru kebanyakan masih culun dan lugu, masa SMA biasanya sudah mulai ‘berani’ dan merasa sudah besar. Ingat kan, hebohnya yang sudah pada punya SIM waktu SMA, dan umur 17 tahun akhirnya sudah harus punya KTP dan punya hak untuk memilih saat ada pemilu. Selamat! Akhirnya kamu diakui sama negara. Hehe.
Jaman aku kecil dulu, belum kenal deh sama pacaran-pacaran*berasatuabanget* padahal aku lahiran 80a’n lho.. 87 kan masih muda.. *GeEr* mungkin karena anak desa kali ya..
Waktu SMP sebagian teman ada yang pacaran sama kakak kelas, sama anak SMA, ada juga yang sama teman sekelas. Tapi, jumlahnya masih lebih sedikit dibanding yang ngejomblo. Dan kita have fun aja tuh di sekolah. Apalagi jadi orang desa yang harus sekolah jalan kaki mendaki gunung lewati lembah *kayak ninja hatori aja* teman seangkatan SD yang melanjutkan sekolah di SMP yang sama hanya 4 orang, dan semua laki-laki. Jadi, tiap pagi jam 5.45 kami sudah siap berangkat menempuh rute sekitar 3km. Kami sekolah di MTsN Kalibeber jadi otomatis seragamku panjang. Berangkat bareng temen cowok bikin aku pontang-panting. Harus sering ngangkat rok biar bisa jalan secepat mereka dan setengah lari waktu lewat turunan. Pulangnya, kadang nebeng mobil bak terbuka bekas bawa kambing ke pasar. Seru kan?! Itu cuma setahun pertama sih, tahun berikutnya ada adik kelas yang bisa diajak bareng. 
Ups! Malah bahas masa SMP. Ibarat naik tangga satu tingkat, masa SMA juga begitu. Melanjutkan sekolah di MAN Kalibeber, berangkat sekolah ada angkutan khusus untuk palajar. Lumayan, sekarang bisa dadahdadah sama adikku yang masih berseragam putih-biru. Hore, nggak jalan kaki lagi. Tapi pulang sekolah tetep kudu jalan kaki, naik angkotnya cuma 5 menit jalan kaki 30 menit. Masih mending sih nggak sejauh waktu SMP.
Di kelas, biasa lah aku pendiem dan nggak supel banget, cenderung jutek dan cuek bebek. Sering ngerasa minder bin rendah diri *padahal badanku lumayan tinggi lho* jadi jarang banget bisa ngobrol asyik sama orang apalagi temen cowok. Tapi, rupanya aku akrab sama beberapa orang yang talk aktive banget dan akhirnya nular deh, mulai bisa bercanda hahahihi sama temen cowok.

Monday, 21 December 2015

Sukses Berbisnis dan Menulis Bersama emakpintar.asia

Dok.pribadi
‘Perempuan tidak perlu sekolah tinggi, toh nantinya hanya akan menjadi ibu rumah tangga. Sayang ijazahnya kalau tidak dipakai’
Ada yang masih beranggapan seperti pernyataan di atas? Padahal di era modern seperti ini, setiap orang termasuk kaum perempuan bisa menyalurkan kerativitas dan ilmu yang dimiliki dimana saja. Utamanya ia menyalurkan ilmu dirumah karena seorang perempuan adalah sekolah dan guru pertama bagi anak-anaknya. Di tempat kerja pun, dituntut untuk profesional sesuai kepakaran masing-masing. Perempuan dituntut untuk menjadi sosok yang cerdas, pintar dan kreatif dalam posisinya baik sebagai istri, ibu, maupun seorang profesional.
Tapi, memang masih banyak yang beranggapan bahwa menjadi seorang ibu (atau emak) adalah hal lumrah yang pasti akan terjadi sehingga tidak perlu menyiapkan ilmunya. Lalu, bagaimana jika sudah terlanjur menjadi ibu tapi ilmu yang dimiliki masih sedikit?! Tentu saja harus memperkaya diri dengan beragam informasi yang saat ini sangat mudah diakses. Ilmu tentang parenting, ilmu menyusui, tentang MPASI, berbisnis, atau juga ilmu yang sesuai dengan hobi emak seperti crafting dan menulis.    
Indari Mastuti, seorang writer business specialist baru-baru ini launching emakpintar.asia, sebuah website yang menjadi wadah bagi kaum perempuan terutama kaum ibu untuk menambah ilmu tentang menulis dan bisnis.
Dengan website tersebut memungkinakan para perempuan untuk belajar dari mana saja dan kapan saja, juga sebagai media informasi Indscript Training Center yang mengadakan berbagai training menulis dan bisnis bagi perempuan. Di sini, pengunjung bisa belajar mendapatkan rahasia praktis sukses berbisnis, meningkatkan omzet, bagaimana agar usahanya berkembang pesat, cara menerbitkan buku, dan banyak tips menarik dan bermanfaat lainnya.

Thursday, 17 December 2015

Cara Mudah Memeram Alpukat


Suka makan alpukat, tapi malas beli karena sering salah dan kecewa?! Saya pun sebelumnya begitu. Sikecil sih, tepatnya yang doyan buah satu ini. Apalagi waktu mbah nya bawa alpukat mentega sekardus dari Maumere NTT sana. Hm... tiap hari makannya alpukat terus karena waktu itu memang masih awal MPASI dan belum makan nasi.
Saking banyaknya alpukat yang dibawa Bapak mertua itu, jadi sisa-sisa meskipun sudah sibagi ke teman dan tetangga. Jadi ngerasa sedih banget, sayang kan alpukat mentega yang rasanya manis gurih legit itu terbuang sia-sia karena busuk. Ya, masalahnya ada pada cara memeram yang salah.
Suatu hari ada yang ngeshare cara memeram alpukat yang hasilnya nggak mengecewakan, buahnya bisa matang sempurna dan dagingnya tetep kuning kehijauan, menggiurkan deh. Akhirnya mencoba cara itu juga meskipun awalnya ragu.
Yang kubaca dulu di facebook, butuh kertas roti atau tisu dan kebetulan dirumah tidak ada kertas roti, tisu pun habis lupa belum beli. Pakai kertas aja deh, batinku. Nggak niat banget, namanya juga coba-coba.

Monday, 14 December 2015

Mie Rumput, si Ijo Kaya Nutrisi

Mie Rumput. dok.pribadi
Mie rumput, bukan berati mie ini terbuat dari rumput yes, Guys!  Waktu pertama kali dengar dulu sih ngerasa aneh, ko mie rumput sih?! Emang kita sapi gitu yang makan rumput?! Ekekekek. Stay cool, Broh!
Hm.. Yummy.. dok.pribadi
Tahu mie ini gara-gara teman se-lingkaran (baca: pengajian) cerita ada mie ayam warnanya ijo di daerah Lemah Gempal. Namanya anak kos waktu itu, tahun 2008/2009, penasaran deh, dan pengan nyoba. Kebetulan di daerah sana dulu ada toko buku Silmi, toko buku diskon punyanya Pak Zuber Safawi dan Bu Dyah Rachmawati. Pas ada kesempatan ke sana, nggak lupa juga mampir ke mie ijo yang letaknya di pinggir jalan. Lumayan, sambil jalan kaki pulang bisa mampir dulu makan dulu ngadem dulu.  
Ooh, ternyata mie rumput itu mienya warna ijo dan warnanya alami karena dibuat dari air perasan sawi hijau. Cukup menyehatkan kan?! Waktu itu seporsi haeganya Rp.6.500, lebih mahal dibanding mie ayam biasa yang paling Rp.4.500-Rp5.000 tapi ayamnya maknyuss beneran berdaging dan banyak, nggak cuma seuprit. Rasanya pun nagih lah.

Thursday, 10 December 2015

@Taman Dino: Serasa Kolam Renang Pribadi

Taman Dino ini nama area bermain anak-anak di pemancingan Ngrembel Asri. Untuk bisa menggunakan fasilitasnya, pegunjung dikenai biaya Rp. 10.000, free untuk anak di bawah usia 2 tahun.
Di taman ini ada banyak wahana bermain anak yang cocok untuk permainan anak TK mulai dari ayunan sampai wahana yang melatih ketangkasan a la outbond training. Ada dua kolam renang (kecil dan besar) dan satu perosotan. Ada ember tumpahnya juga, tapi waktu itu dimatikan (mungkin karena sepi pengunjung saat hari kerja) dan sedang ada perbaikan di beberapa bagian taman).
Masuk ke sana, kami berkeliling taman, menuju kandang kuda poni.
Oia, lagi-lagi saat week end ada petugas yang berjaga dan memandu anak-anak memberi makan kuda. Lalu ada arena kereta tapi sepertinya sudah lama tidak digunakan, terlihat dari kereta yang aus dan area yang gersang. Ada kandang kelinci, dan beberapa kandang binatang yang bisa dilihat anak-anak.
Asyiknya bermain
Karena Hasna masih bayi, kami tak bisa masuk ke wahana ‘Omah Kayu’ yang bersisi permaianan ‘berat’ untuk anak-anak dan pasir. Untungnya pertugas mengizinkan kami bermain di pasir putihnya. Sepertinya itu pasir pantai asli. Hehe.
Setelah itu... swimmin time!! Yang ditunggu-tunggu sama Oom dan Ayah Hasna. Mbah Ti dan Bunda Hasna Cuma menikmati keseruan mereka dari saung dan sesekali cecipratan. Di kolam ini ada patung dinosaurus yang menyemprotkan air lewat mulutnya, dan ada perosotan. Buat anak-anak yang suka Dinosaurus, bisa eksplore sepuasanya karena di bawah patung yang besar ada keterangan tentang species tersebut. Puas bermain air (dan hujan) kami pun bergegas berganti pakaian lalu mengambil pesanan untuk dibawa pulang. Baby Hasna langsung lelap.
Cukup puas rasanya dengan membayar Rp.10.000 bisa menikmati kolam renang yang serasa kolam renang pribadi karena tidak ada pengunjung lain. Sebelumnya ada sih pengunjung lain tapi mereka turun saat kami masih berjalan menikmati suasana taman. Lain kali bisa dicoba lagi deh! Hohoho. Aamiin.... 

Saturday, 5 December 2015

Tempe Kemul, si Kuning yang Ngangenin*

Bagi orang Wonosobo asli, tak akan pernah merasa bosan menikmati penganan satu ini meskipun setiap hari menyantapnya. Rasanya yang gurih khas dengan warna kuning bumbu kunyit membuatnya selalu dikangenin semua orang.

Lihatlah saat pagi orang rela antri panjang demi sepiring (atau umumnya sepincuknasi megono berikut tempe kemul sebagai lauknya. 

Tempe kemul ini hampir sama dengan mendoan Purwokerto atau tempe goreng tepung di daerah lain. yang membuatnya khas adalah
penggunaan tepung pati/aci basah sehingga tepung yang menyelimuti tempe menjadi renyah, tidak lembek meskipun sudah dingin. Tempe nya pun diiris tipis agar lebih cepat matang, atau menggunakan tempe khusus untuk tempe kemul; yaitu tempe yang dibuat tipis bersap dalam membuatnya, sehingga satu tempe bungkus daun bisa berisi 4-5 lembar.
Camilan (yang kadang dijadikan lauk) ini sangat khas Wonosobo, bahkan membawa bahan dan bumbu dari Wonosobo pun saat dibuat dan dimakan di daerah lain rasanya berbeda. Bisa jadi faktor udara dingin sangat mempengaruhi.

Friday, 4 December 2015

Lubang Sewu, Grand Canyon-nya Wonosobo*

Gyus! Sudah tahu belum kalau di Wonosobo ada tempat bwisata ‘baru’ yang lagu happening banget?! Iyup! LUBANG SEWU namanya. Lubang sewu adalah nama yang diberikan oleh masayarakat sekitar karena batu-batu yang ada di sana berlubang-lubang, hampir seperti sponge alias batu karang di bawah laut. Uniknya tempat ini hanya bisa dinikmati keindahannya saat musim kemarau dan air bendungan surut.  Lubang sewu  tepatnya ada di Desa Erorejo, kawasan Bendungan Wadaslintang Wonosobo.
Lubang Sewu





Penasaran kan?! Yuk.. simak liputan lengkapnya.
Sabtu sore, sengaja kami mengagendakan pergi ke Lubang Sewu biar nggak bolos kerja dan sekolah. Maklum, anak-anak masih sekolah dan kami berdua ngajar. Kami pilih hari Sabtu sore juga agar tidak terlalu panas, tahu sendiri kan sekarang sedang musim kemarau, Wonosobo yang biasanya dingin pun terasa panas terlebih Wadaslintang sudah masuk wilayah yang panas karena berbatasan dengan Kebumen. Selain itu, di sore hari kami bisa melihat matahari tenggelam dan besoknya hari libur jadi bisa lebih santai meskipun capek pulang malam, apalagi anak-anak mabuk perjalanan karena medan menuju Wadaslintang yang berkelok-kelok dan naik-turun.

Thursday, 3 December 2015

Mencoba Sensasi Jembatan Gantung Slukatan*

Guys! Sudah pernah jalan-jalan ke Wonosobo belum? Ha?! Belum?! Hm... kudu banget nih bikin jadwal jalan-jalan ke negeri di atas awan ini.
Memangnya ada apa di sana? Belum tau? Selain ada Dieng Plateu yang fenomenal dengan beberapa objek wisatanya, ada juga wisata golden sunrise Sikunir, Gunung Prau, Gunung Pakuwaja, baru-baru ini ada Lubang Sewu dan Kopen. Belum lagi beberapa danau alami dan buatan seperti Telaga Menjer dan Waduk Wadaslintang.
Nah, salah satu yang lagi nge-hits selain Lubang Sewu adalah Jembatan gantung yang ada di Desa Slukatan. Jembatan ini terbentang sejauh kurang lebih 200m dan menghubungkan dua bukit dan dua Desa yaitu Desa Slukatan dan Dusun Jambu Desa Wonokromo. Sebelum ada jembatan ini, masyarakat kedua desa harus memutar jauh jika akan berkunjung ke sanak saudaranya.
Asyiknya bergaya di jembatan gantung *pic by Qiqy Kuko
Untuk mencapai Desa Slukatan dari Kota Wonosobo menuju utara, belok kiri di Jawar lalu belok kanan di pertigaan di Jalan Jawar-Kalibeber. Melewati jembatan kali serayu desa Wonokromo. Setelah melewati tanjakan ada dua alternatif jalan. Yang pertama lanngsung belok kanan melewati Desa Kebrengan, yang ke dua lurus melewati Desa Wonokromo.

Saturday, 28 November 2015

'Sesi Pemotretan' di Japanese Village

Habis jalan ke Desa wisata Lembah Kalipancur, enaknya makan dong ya, di pemancingan yang ada di sana. Tapi, sayangnya adikku yang paling ndut imut itu nggak doyan segala macam ikan laut dan daging. Kasihan lah, kalo ngebiarin dia momong Hasna sementara kakak adiknya makan enak. *padahal sih asyik aja yak. Hahaha *mukajahat*
Ceritanya nih, ini tour ke sekian nya d’ sisters. Eh, ini bukan grup vokal yang digawangi duo Sungkar itu ya.. kita ngasih nama 'd sisters' sebelum mereka punya debut. Awalnya sih gegara kami bertiga yang dulunya suka berantem dan jahil-jahilan ini tiba-tiba jadi kompak setelah (mungkin) ngerasa gede semua.
Welcome to Japanese Village. dok.pribadi
Pas jalan bertiga rasanya jadi makin seru, bisa saling bully  (eh?!) dan guyon sekenanya. 
Apalagi pas idul fitri, ngumpul bertiga (harusnya empat saudara tapi si bungsu cowok) pake baju yang senada, jalan keliling kampung maaf-maafan sama tegangga bareng-bareng, dan aku dikira anak ke tiga karena paling kecil dan imut itu sesuatu *biarin GR*
Dan entah setan apa yang bikin kami narsis setelah kenal sama yang namanya kamera digital

Friday, 27 November 2015

Refreshing di Desa Wisata Lembah Kalipancur

"Mba, aku mau ke Semarang buat ujian, ntar d' sisters jalan-jalan lagi ya" 
Dapet SMS gitu dari adik tercinta langsung kebingungan nyari tempat jalan yang asyik kemana. Mau ngajak ke mall males juga lagi kanker alias kantong kering lagian kelo ngemol nggak belanja ya cuma window shopping doang atau palingan makan, jd kurang berkesan kan?! 
Tiba-tiba *cring!* inget ada satu tempat yang pengen banget ke sana, dan pernah di review juga sama mbak Hapsari, Desa Wisata Lembah Kalipancur. Permah lihat iklannya juga lho di TV, yang kalipancur farm zoo nya. Iya, di tempat ini selain ada kebun binatang mini juga ada pesawat terbang dan japanese village. Penasaran?! Yuk lanjuut!
Desa Wisata Lembah Kalipancur. dok.pribadi
Kalau mau ke tempat ini, dari arah Gunung Pati lewat perumahan greenwood sekitar 2 km berada di sebelah kanan setelah jembatan kalipancur. Kalo yang dari arah simpang lima, lewat Sam Poo Kong cari aja arah ke Goa Kreo. Tempatnya ada di sebelah kiri setelah turunan. 
Ada dua pintu masuk lho, satu pintu khusus untuk wisata dan pintu masuk lainnya untuk warung makan dan pemancingan. Keduanya terhubung sih, jadi masuk lewat pintu mana aja bisa.
Kami memilih masuk ke tempat wisata, karena nggak pengen makan di situ. Masuknya cuma bayar parkir aja Rp.4.000 dan nggak bayar tiket per orang. Kami pikir karena bukan weekend jadi nggak bayar, tapi pas udah masuk baru nyadar kalo kesananya hari sabtu. Hehe
Konsep tempat wisata di sini bisa diakses dengan kendaraan, jadi nggak perlu jalan kaki sampai jauh. Trus tempatnya juga memutar, so nggak harus lewat jalur yang sama pas pulangnya. 

Tuesday, 24 November 2015

Profesi Utama Dunia Akhirat

Hari ahad, 22 November kemarin adalah hari yang super sibuk *gaya* yup! Hari itu ada agenda sarasehan guru TPQ se Kecamatan Pedurungan, Gayamsari dan Genuk. Dua minggu sebelumnya, panitia baru rapat dan menentukan tema acara, undangan, pembicara dan tetek bengek lainnya.
Konsep acara yang digagas adalah silaturrahim guru TPQ di wilayah tiga kecamatan, sekaligus memberikan penghargaan terhadap mereka. Selama ini tahu dong ya, namanya guru TPQ itu sangat lebih tidak diperhatikan dibanding guru honorer. Iya, kalo guru honorer ada kemungkinan bisa naik jadi PNS, lha kalo guru TPQ jalurnya kemana?! *nangis*
Jadi inget masa-masa dulu bantu ngajar TPQ, pengelolanya hanya satu orang dan beliau masih bertahan sampai sekarang meskipun hanya mendapat sedikit perhatian dari takmir masjid. Pernah sih, sesekali mendapat THR dari pemkot, tapi jumlahnya tak setimpal dengan tenaga dan pikiran yang sudah mereka keluarkan.
Ya, ngajar ngaji kan urusan akhirat, harusnya nggak usah mikirin dapat ‘sesuatu’ dong..! ups. Ada yang punya pikiran gitu?! Hm... memang jadi guru TPQ itu urusan akhirat, kalo nggak mana mungkin mereka betah tiap hari kudu ngeladenin puluhan kepala dengan beda sifat dan karakter, ratusan keinginan anak didiknya dan segala tingkah polah mereka, juga harus sabar ngajarin semua huruf hijaiyyah sampai benar. Kadang gurunya sabar, eh muridnya nggak sabar gara nggak naik-naik bacaannya padahal emang belum bener trus ortunya ikutan sensi trus brenti deh ngajinya. Nahloh! Padahal mah ngaji itu emang kudu sabaaar selebar lapangan nggak berpagar.
Dan yang lebih penting, mau ngajar ngaji atau ibadah lain pun butuh materi. Busana muslimnya, pulang/pergi ke tempat ngajarnya, buku panduannya, sarana prasarana, dan yang paling penting ilmunya. Jangan dikira bisa ngajar ngaji itu gampang nyari ilmunya ya... *kalo para guru TPQ pasti tahu perjuangannya, hehe* so, semuanya harus saling mendukung dan seimbang.
Untuk itulah

Sunday, 22 November 2015

Zeti Arina, Mengedukasi Masyarakat Agar Melek Pajak

Orang bijak taat pajak. Tagline ini sering kita dengar sebagai kampanye pemerintah terhadap masyarakat untuk selalu membayar pajak. Ya, pajak adalah kewajiban yang harus dibayarkan oleh masyarakat (wajib pajak) kepada pemerintah, dana pajak ini merupakan salah satu pendapatan negara yang vital karena digunakan untuk menunjang berbagai sektor pembangunan.
Sayangnya, masyarakat seringkali tidak aware dengan permasalahan pajak dengan alasan rumit dan detail. Atau bisa jadi sebagian masyarakat hanya memahami pajak yang umum hampir semua orang punya seperti pajak kendaraan bermotor, rumah, tanah, dll. Padahal saat kita berbelanja atau makan di warung makan pun sejatinya ada pajak yang dikeluarkan yaitu PPN sebesar 10% yang biasanya sudah termasuk dalam harga. Belum lagi jika menjadi seorang pengusaha, maka  wajib melaporkan dan membayar pajak sesuai dengan usaha yang dijalankan.
Seorang pengusaha khususnya dan masyarakat umumnya membutuhkan seorang konsultan pajak agar pajak yang dibayarkan sesuai. Zeti Arina, adalah seorang konsultan pajak yang berusaha mengedukasi masyarakat agar melek pajak. Tugas seorang konsultan pajak bukanlah membantu klien untuk curang dengan pajak yang harus dibayarkan, melainkan memberikan solusi pembayaran pajak yang tepat dan efisien tanpa menyalahi undang-undang. Tugas lainnya yaitu mengedukasi klien tentang pelaporan pajak yang benar, menekan hingga nol kesalahan hitung, juga mendampingi ketika ada pemeriksaan. Pemilik usaha yang menggunakan jasa seorang konsultan pajak akan lebih tenang karena jika ada sengketa terkait pajak bisa dipercayakan kepada ahlinya.

Saturday, 21 November 2015

ASUS Zenfone 2 Laser, Bantu Anak Tumbuh Cerdas

Apa yang paling diharapkan orangtua terhadap anaknya? Tentu anak yang sehat, cerdas, ceria dan menjadi kebanggaan hati mereka. Ibu adalah tempat anak pertama kali belajar mulai dari saat masih di dalam kandungan hingga dalam masa tumbuh kembangnya.
Salah satu hal yang mendukung kecerdasan ibu dan anak dalam era multimedia saat ini adalah smartphone, gadget yang menjadi barang wajib dipunya oleh hampir semua orang.
Baru-baru ini ASUS me-launching produk baru smartphone yaitu ASUS Zenfon 2 Laser yang memadukan antara gadget mahal berkualitas tinggi dengan harga terjangkau. Tipe ini merupakan varian baru ASUS Zenfone 2 yang mana harganya masih cukup tinggi dan belum terjangkau banyak kalangan. Jika Asus Zenfone 2 tersedia dalam layar ukuran 5,5 inci maka ASUS Zenfone 2 Laser tersedia dalam tiga ukuran yakni layar 5 inci, 5,5, inci dan 6 inci.
Smartphone 4G LTE ini telah dilengkapi dengan kamera utama dengan resolusi 13MP dengan lensa f/2.0 aperture yang mampu mengambil foto dengan resolusi 4128 x 3096pixel. Dengan dukungan zero shutter lag, kita tidak perlu khawatir akan kehilangan momen berharga yang umumnya berlangsung sangat cepat. Yang menarik, kamera tersebut diperkuat fitur Laser Auto Focus. Teknologi terbaru ini memungkinkan pengguna untuk lebih cepat mendapatkan fokus objek yang akan dibidiknya baik dalam jarak dekat maupun jauh, termasuk juga membantu dalam kondisi kurang cahaya.

ASUS Zenfone 2 Laser

Untuk melengkapi, kamera depan yang disediakan juga memiliki resolusi yang cukup tinggi yakni 5MP serta dengan aperture f/2.0. Tak hanya resolusi yang tinggi, kamera ini juga mendukung autofocus untuk mendapatkan hasil foto yang lebih baik. Selain itu, kamera depannya juga disediakan dengan sudut yang lega hingga 85o. Artinya, akan lebih banyak obyek yang bisa ditangkap dalam foto. Mendukung banget nih buat berselfie ria dan mengabadikan momen kebersamaan.

Monday, 16 November 2015

Copywriting, Strategi Jitu Soft Selling

Suatu hari saya tertarik dengan informasi di Media sosial Facebook yang berisi penawaran untuk mengikuti training online meningkatkan omzet dan pelanggan dengan strategi soft selling bersama coach Indari Mastuti. Serta merta saya mendaftar dan menunggu pelaksanaan dengan rasa penasaran tinggi. Karena training ini bentuknya online, saya tidak perlu lagi meminta izin suami dan mencocokkan jadwal agar bisa mengantar jemput atau mencari rute yang pas dilewati kendaraan umum. Selain itu, bisa juga kuikuti sembari mencuci pakaian, atau aktivitas rumah tangga lainnya. Enaknya jika bisa training sambil leyeh-leyeh.
Indari Mastuti, writer business specialist
Pendaftar yang jumlahnya mencapai ratusan itu lalu dimasukkan ke dalam sebuah grup facebook khusus untuk training. Indari memulai dengan memaparkan pertanyaan-pertanyaan menggelitik seputar bisnis dan iklan, tentang keberhasilannya berbisnis dengan copywriting, setelah itu memberikan penjelasan tentang strategi soft selling. Cukup mudah dan hampir semua orang bisa melakukannya.

Wednesday, 11 November 2015

Home Sweet Home, Rumah Idaman

Seperti apa rumah idaman kamu?

Kalau aku,  Sejak sebelum menikah dulu, sudah punya rumah impian *ciee* yang kupajang dalam buku harian dan selalu kubawa kemana-mana. Awal mula kenapa kupajang gambar mimpi-mimpiku itu adalah setelah mengikuti sebuah training motivasi bisnis. Trainer memaparkan tentang mimpi yang harus diafirmasikan sehingga menjadi sesuatu yang melekat dalam alam bawah sadar kita dan menjadi semacam do’a, agar terbuka pintu langit untuk menyampaikan keinginan kita kepada yang Maha memberi.

Awalnya, rumah idamanku adalah sebuah rumah yang luas dan bisa menampung banyak orang. Kalau perlu aku bisa membuat kos murah atau semacam pesantren muslimah dengan biaya murah dan fasilitas lengkap. Ini terinspirasi dari pengalaman waktu kuliah dan kalang kabut mencari rumah kontrakan sekaligus membayar biaya kontrakan yang makin melejit. Mencari rumah di daerah yang kondusif untuk belajar, mudah dijangkau dari kampus dan fasilitas umum lainnya, dan utamanya harga miring betul-betul membuat kepala pening.  Sejak itu lahirlah keinginan mempunyai rumah yang bisa kujadikan ladang amal untuk para pencari ilmu.

Setelah itu, berkembang keinginan yang banyak berderet seperti gerbong kereta api. Aku  Ingin rumah di daerah yang sejuk, karena di Wonosobo aku kedinginan dan di Semarang kepanasan. Ini membuat agak tersiksa apalagi saat pulang kampung, serasa keluar dari oven langsung dimasukkan freezer dan sebaliknya saat pulang ke Semarang setelah lama di kampung, badan meriang, masuk angin dan flu. Kesimpulanku, idealnya punya rumah di daerah yang tidak terlalu panas/dingin.

Baru-baru ini Flipit Indonesia  bareng LAZADA ngadain kuis tentang rumah idaman. Isinya tentang tipe rumah idaman kita seperti apa? Waktu ikut kuisnya dibikin penasaran karena berbagai pertanyaan menggoda yang bikin jadi bayangin rumah cantiknya. Sueeer!! Cantik banget rumah-rumah yang ditampilin di sana.

Kek gini nih kusinya, simpel banget. aku ceritain khusus buat kamu ya, iya. kamu :D 

Sunday, 8 November 2015

5 Menit di Pangandaran

Indahnya pantai Pangandaran. Foto diambil dari sini
Biasanya, orang akan senang berlama-lama di pantai dan tak ingin segera pulang. Tapi, kami pernah hanya berdiri dan foto-foto selama 5 menit setelah menempuh perjalanan selama 3 jam saat menuju ke sana.
Waktu itu masih hamil Hasna uk kurang lebih 6 bulan, kami berencana pulang ke Wonosobo. Tiba-tiba suami menawarkan untuk mengunjungi temannya di Cilacap. So, berangkat jam 9 malam bertiga dari Semarang, tidur di Wonsobo, lalu esoknya berangkat ke Cilacap. Sampai di sana sekitar jam 1 siang. Rencananya kami akan langsung kembali ke Wonosobo, tapi tergoda untuk jalan-jalan ke Pangandaran. Pernah sih ke pangandaran tapi sudah lama sekali, saat masih kelas 2 SMP, study tour.
Kami pikir, perjalan ke sana cukup dekat dari Jeruk Legi Cilacap, ternyata hampir tiga jam perjalanan melewati kebun karet dan hutan jati. Wow emejing dah! Apalagi jalan jelek dan sepi, sedang ada perbaikan di banyak titik. Kami sampai di pantai Pangandaran sudah menjelang maghrib. Namanya di pantai tentunya ingin main ombak dan foto sebanyak-banyaknya, tapi karena menjelang maghrib kami urung nyebur ke air. Tiba-tiba suami bilang: Pulang aja yuk, aku takut jalanan sepi, tadi aja pas berangkat sepi gitu, nanti kalo pulangnya tambah sepi gimana? Ini isinya berdua bumil semua.. “
Tuingtuing...!! kami Cuma saling berpandangan. Nggak salah nih?! Ke pangandaran Cuma 5 menit?! Padahal jalannya tadi sejauh itu?! Wohowowhowho... tapi demi keamanan para bumil kami pun bergegas kembali ke Jeruklegi. Dan ya... rasanya masih nggak percaya aja kalo di sana cuma lima menit. Seperti mimpi jalan-jalan ke pantai tapi kerasa capeknya beneran. Hehehehe.

Moga lain kali bisa beneran hang out ke sana atau ke pantai lain di Cilacap, secara belum pernah ke gitu.. Kalo perlu road show.. ekspedisi pantai selatan jalan-jalan menyususi pulau Jawa. Aamiin.. 

Thursday, 5 November 2015

Info Lomba Blog dan Fotografi

Kemarin lusa, lagi bete tiba-tiba dapat pesan WA yang menarik dari seorang adik kelas di FIB Undip. Alhamdulillah dia tahu kalo eyke akhir-akhir ini rajin ngeblog.
Yup!  Isinya tentang INFO LOMBA NULIS. Itu banget kan yang diharepin dan selalu dicari oleh kita0kita ini?! Hihi. Semacam mendapat durian runtuh tepat di dekat kaki pas lagi berdiri di bawah pohon durian ngeliat buah durian bergelantungan dan baru mbatin pengen makan durian. *untung nggak jatuhin kepala*
selain lomba blog, ada juga lomba foto. pas banget kan buat yang hobinya jeprat-jepret cantik pake kamera canggih.

Nah, info itu dari adik-adik aktivis kampus, yaitu Departemen Humas KAMMI Komsat FIB Undip. Sedikit bangga sih, dulu pernah juga dikasih tugas di bidang Humas Komisariat meskipun waktu itu kerjaan cuma dikit dan digarap rame-rame. Hehe.
Yuk ah, nggak usah kebanyakan prolog, langsung aja ane copast-in kesini gan infonya.
Sayangnya belum sempat ceki-ceki satu persatu, kalo dilihat sepintas sih ada beberapa yang sudah expired.
Rapopo wis, mugo-mugo ono manfaate. Aamiin...
semoga nanti nyusul bisa cek Deadlinenya masing-masing ya, atau kalau ada yang mau bantu silakan.. :) 

cekidot gaaan!!

Wednesday, 4 November 2015

Dibalik Nama Adik Kesayangan, Danang Ulil Absor

Nama adalah do’a; itulah yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW sehingga memberikan nama yang baik adalah salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya. Seorang anak berhak akan penggilan yang baik. Dan umumnya, orang tua memberikan nama anaknya sesuai dengan harapan dan do’a terhadap anaknya. Contohnya seseorang diberi nama Aisyah agar bisa meneladani istri nabi Muhammad, nama zahra agar secantik bunga, dan lain sebagainya.

Banyak nama yang melekat kuat dalam hatiku, diantaranya Khadijah istri pertama rasulullah, Salsabiila yang berarti mata air surga dan hanya ada satu kata dalam Al-qur’an, Luqman sebagai gambaran kebijaksanaan di dalam kisah kitab suci umat islam, dll. Namun, ada satu nama yang paling berkesan di hati karena waktu itu antusias mencari nama untuknya. Danang Ulil Absor, adik bungsu laki-laki kesayangan yang lahir bulan September tahun 2002.

Kelas tiga SMP saat tahu ibu hamil lagi, rasanya ko aneh, ntar udah gede punya adek bayi padahal adikku yang ke dua waktu itu sudah berusia sekitar 9 tahun. Mau gimana lagi, wong bapak dan ibu masih berharap punya anak laki-laki setelah ketiga anaknya cewek semua. Akupun berharap punya adik cowok, meskipun terdengar menyenangkan jika ternyata empat bersaudara cewek semua. Kebayang hebohnya juga sih.. hihi

Tuesday, 3 November 2015

Temukan Passionmu Ciptakan Peluangmu

Sudah cek Tokopedia belum?
Siapa yang nggak kenal jargon ini? Hampir semua orang yang punya TV pasti tahu gimana hebohnya iklan dengan jargon tersebut sejak awal muncul. Mulai dari jualan kipas angin, sandal jepit, raket nyamuk, dan baru-baru ini tentang ‘apa aja ada di tokopedia’ selalu dibuat dengan dramatisasi tinggi dan lebay, tapi hasilnya jadi menarik dan mudah diingat. Awalnya bikin orang penasaran lalu dikagetkan dengan akhir yang menggelikan dengan pertanyaan ‘sudah cek tokopedia belum?’
Hayoo... kamu sudah cek belum?
Ehm, nggak akan bahas iklan ko, cuma sedikit ngingetin masa-masa kuliah tentang advertising aja  hehe.  Cerita sebenarnya adalah tentang seorang nenek yang ... *lhoh! ngelantur.
Minggu awal November kemarin, Tokopedia ngadain Roadshow ke Semarang setelah beberapa kota yaitu Jakarta, Solo, dan Jogja. hurray! Patut bersyukur pake banget sih, biasanya kan kalo ada even gede Semarang sering dilewatin *nyesek.
Saking penasarannya sama acara ini, langsung daftar begitu ada info dari teman padahal waktunya juga masih dua mingguan. Sayangnya, karena nggak ada info yang jelas tentang daftar kelas workshopnya  jadi nggak tahu aturan mainnya dan kehabisan kursi di kelas kuliner *padahal mupeng banget-nget.
Minggu pagi janjian sama Mba Ika Puspitasari buat berangkat bareng. Alhamdulillah sampai tempat baru jam 08.05 tapi antrian peserta di depan sudah mengular. Untungnya buar blogger ada pintu registrasi yang beda. Ahamdulillah... nggak perlu antri.
Masalahnya, aku lupa registrasi atas nama blogger atau online shop, pede banget walau nama nggak tercantum di daftar nama blogger/media tapi bilang aja dari Komunitas blogger Gandjel Rel.

Thursday, 29 October 2015

Semangat Sumpah Pemuda Ala Blogger

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2015

Soempah Pemoeda
Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Membayangkan saat diproklamasikannya sumpah pemuda ini, rasanya dada bergemuruh tersihir semangat para pemuda Indonesia pada waktu itu, yang bersatu padu demi kemerdekaan Indonesia dan mengusir penjajah. Setelah 87 tahun, semoga semangat itu masih menggebu di dada para pemuda Indonesia saat ini. *sambil ngelirik anak-anak alay di sekitar.

Eniwey baswei, mungkin karena jarak waktu yang sudah semakin jauh, tentu perjuangannya berbeda dengan waktu itu. Saat ini pemuda (kalo saya emak-emak tapi umur masih muda nih.. *timpuk) menghadapi tantangan global yang lebih berat dibanding perjuangan fisik. Bukan menyepelekan perjuangan para pahlawan pada masa kemerdekaan, maksudnya kalau sekarang bukan eranya perjuangan fisik, gitu.. piss Bro!

Tantangannya adalah sesuatu yang tidak tampak alias maya. Ya, dunia maya banyak meracuni otak masyarakat Indonesia, meskipun kegunaan dan kelebihannya sangat banyak tentu tak bia dipungkiri efek negatif dari internet. Berbagai kasus kriminalitas, pornografi, trafficking, pelecehan, dll bisa terjadi ‘hanya’ karena internet. Untuk itu masing-masing kita harus pandai-pandai memanfaatkan tanpa harus terjerumus ke dalam sisi negatifnya. Terlebih anak-anak yang notabene adalah generasi penerus kita.

Banyak juga pemuda yang berhasil memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk membuka lapangan kerja bagi ribuan orang. Contohnya ya ojek online yang sedang nge-hits itu, atau situs dagangan online yang setiap orang bebas ngelapakin dagangannya, bisa juga menyediakan berbagai sarana penunjang pendidikan, dan seabrek peluang lainnya yang bisa diambil agar bermanfaat bagi banyak orang.

Tuesday, 27 October 2015

Travelling Nyaman dan Aman Bersama Keluarga



Belum lama ini saya dan keluarga melakukan perjalanan yang cukup singkat Semarang – Jakarta PP.  Total hanya sekitar 48 jam perjalanan darat yang ditempuh dengan menggunakan mobil Avanza. Kami pilih Avanza karena mobil ini sangat mudah kami dapatkan baik di rental mobil maupun dari tetangga/teman. Memang ini  mobil keluarga Indonesia banget.

Perjalanan kami waktu itu dalam rangka tugas suami yang bekerja di lembaga sosial. Mobil yang sebenarnya bisa diisi 7 orang ini, hanya berisi 4 orang dan seorang bayi usia 1,5 tahun. Di bagian depan ada suami yang merangkap sopir dan satu penumpang, bagian tengah ada saya bersama bayi dan di bagian belakang ada 1 lagi penumpang. Rasanya seperti punya tempat tidur berjalan karena masing-masing kami bisa dengan leluasa selonjoran kaki di dalam mobil. Memang sih, menjadikan mobil debagai tempat tidur berjalan itu tidak aman, tapi kalau kondisi seperti ini kan sayang juga kalau tidak dimanfaatkan, hehe.

Kami bertolak dari Semarang sekitar pukul 21.00, begitu berangkat karena sikecil belum tidur suami langsung memasang lagu anak-anak kesukaannya yang sudah tersimpan di flashdisk, membuat sikceil makin ceria di atas mobil dan ikut joged-joged mengikuti irama lagu yang rancak. Kami pun merasa aman dan nyaman karena tidak terasa getaran mobil dan suara dari luar. 

Setelah sikecil tertidur dan tingal orang dewasa yang melek, suami mulai mencari gelombang radio agar selalu ada suara yanng menemaninya, terutama lagu dangdut yang musiknya jedag-jedug menghentak agar sedikit mengusir kantuk. Maklum, waktu itu weekday dan suami bahkan baru berisitirahat sejenak setelah pulang dari kantor langsung bersiap berangkat ke Jakarta. Iya, salah satu alasan ngajak saya adalah ada tukang pijat gratis dan teman ngobrol asyik di mobil dengan banyak fitur itu.

Sunday, 25 October 2015

My Trip My Adventure

Ada yang hobi perjalanan naik motor atau touring? Wah, rasanya pasti menyenangkan sekaligus melelahkan. Baru-baru ini kami (suami, anak dan saya) melakukan perjalanan pulang kampung ke Wonosobo dengan mengendarai motor. Kedengarannya biasa aja gitu ya? Hihi. Bagi yang biasa naik motor sih memang biasa, tapi bagi saya yang lebih suka naik kendaraan umum, perjalanan kali ini jadi luar biasa karena meskipun dulu kuliah di Semarang tapi belum pernah pulang-pergi Semarang Wonosobo dengan kendaraan roda dua. Lebih asyik naik bis karena bisa ditinggal tidur dan santai ngemil.
Tapi kalo naik bis rasa petualangan ‘My Trip My Adventure’ nya kurang berasa. Ehm. Agak gimana rasanya saat menuliskan judul di atas, karena kalimatnya sama persis dengan acara Televisi yang masih nge-hits sampai sekarang.

Sempat terfikir mau menulis judul ‘mudikku petualanganku’ tapi kurang sreg di hati. Sudahlah, intinya sih perjalanan kemana pun termasuk perjalanan pulang kampung adalah bagian dari travelling kami.
Beberapa kali pulang ke Wonosobo dapat nyaman karena ada pinjaman mobil, sesekali harus nyoba naik motor lah, kalau belum punya mobil sendiri, apalagi sedang masa efisiensi seperti ini. Ups.

Saturday, 24 October 2015

Sakinah Hingga Jannah



Menikah, bukanlah perkara mudah dan bukan pula adu cepat dimana pemenangnya adalah siapa yang sampai lebih dulu. bukan, sama sekali bukan. Menikah adalah permulaan dari sebuah perjalanan panjang sepasang anak manusia. 

Mengutip istilah pakar parenting dan keluarga, Cahyadi Takariawan, menikah seperti naik roller coaster. Saat posisi kita berada di kursi penonton apakah takjub? Penasaran? Ada keinginan sangat kuat untuk ikut ke sana? Barangkali itu yang kita rasakan. Namun ketika kita sendiri yang berada di atas, barulah kita pahami bahwa menikah itu tak mudah seperti yang dibayangkan. Ada kalanya jalanan landai, ada kalanya harus jungkir balik dan teriak histeris, ada kalanya naik lalu terjun bebas dan kembali tenang. Semuanya akan dilalui sampai garis finish, selalu dengan harapan yang sama: sakinah hingga Jannah-Nya.

Menikah selain sebagai ibadah bernilai besar setengah agama, juga ibadah yang berat karena adanya janji di hadapan Allah dan pemindahan tanggung jawab seorang perempuan dari ayahnya kepada laki-laki yang menjadi suaminya. Penyatuan itu juga mengharuskan adanya hak dan kewajiban masing-masing dalam membina rumah tangga. Untuk itu sangat penting bagi siapa saja untuk membekali diri dengan ilmu seputar pernikahan dan rumah tangga.

Sejak kapan harus belajar ilmu tentang pernikahan? Jawabannya adalah sedini mungkin sebelum menikah. Kenapa? Karena jika hari H telah ditentukan waktu yang tersisa untuk mencari ilmu sangat pendek, lebih-lebih sudah disibukkan dengan pernak-pernik persiapan perhelatan.

Persiapan ilmu menikah bukan berarti berandai-andai dan membayangkan kehidupan pernikahan yang mudah dan indah, juga bukan masa untuk membayangkan menikah dengan si fulan atau fulanah.

Ya, saya pun pernah pada posisi yang sama saat keinginan menikah begitu menggebu namun belum ada kemampuan untuk melangkah ke sana. Solusinya? Puasa dan memberbanyak aktivitas positif, dengan tetap mengumpulkan ilmu seputar rumah tangga dan pernikahan.
 
Sayap-sayap Sakinah. _dok.pribadi_ *fokus bukunya, abaikan yang lain. hehe
Sayap-sayap sakinah, buku duet Afifah Afra dengan Riawani Elyta ini menjadi semacam buku wajib bagi yang tengah mempersiapkan pernikahan dan yang sudah menikah. Menyiapkan diri baik sudah ada seseorang yang melamar maupun masih tahap merayu Allah dengan do’a-do’a.

Buku ini menyadarkan kita (eh, saya) pentingnya untuk menjejak bumi meski impian setinggi langit. Ya, dalam salah satu bab di sini Mba Afra bercerita tentang impiannya bersanding dengan seorang ikhwan yang bla..bla..bla.. namun Allah memberikan orang yang ternyata berbeda dengan impiannya. Jika sudah begini, apa akan memprotes Allah? Atau menyerah dengan kondisi? Padahal seringkali Allah memberikan sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan meskipun tidak kita inginkan. Atau bisa jadi Allah tengah menguji dengan sesuatu yang tidak disukai yang tentunya belum tentu tidak baik. Dan sunnatullah, penyatuan dua insan yang berbeda ini butuh pengorbanan dan pengertian, butuh saling melengkapi dan mengisi agar seimbang dan sempurna. Kisah-kisah pernikahan yang disuguhkan membuat kita makin siap menghadapi tantangan yang (pasti) akan dihadapi meski berbeda porsi dan masalahnya.

Bahasan dalam bukunya pun telah tersusun rapi mulai dari episode mencari calon pendamping dan menyiapkan pernikahan hingga tips rumah tangga awet hingga kakek-nenek. Disertai dengan dalil Alqur’an dan hadits, bukti dan hasil penelitian dari beberapa pakar, juga kisah-kisah nyata seputar pernikahan membuat pembaca tidak bosan saat menikmatinya. 

Sst... saat sedang kesal dengan suami, buku ini juga sering jadi ‘pelarian’ saya untuk mendapat pencerahan. Sampai bukunya lecek keseringan dibuka.   Pencerahan lewat catatan-catatan kecil dan puisi di setiap bab-nya maupun kisah dan isi di dalamnya. Setelah lega baru menyambut suami dengan senyuman.